achdaf weblog

Samara Look-alike Meter

March 22, 2008 · Leave a Comment

→ Leave a CommentCategories: Blogroll

Passive Income Kebaikan

March 5, 2008 · Leave a Comment

Ketika awal tahun 2001-an, saya sempat diprospek oleh teman SMU saya, yang mencoba menawarkan produk bisnisnya yang akhiranya saya mengenalnya sebagai MLM alias Multi Level Marketing. Waktu itu dengan segala macam argumentasi dia menceritakan bahwa dengan MLM yang ia ikuti, kita akan bisa meraih apa yang dinamakan passive income, dimana suatu saat (mungkin) kita tidak perlu mencari uang, tetapi uanglah yang akan datang dengan sendirinya. Digambarkan bahwa kita tinggal berleha-leha dan uang akan mengalir ke rekening kita sekian juta setiap bulan, bahkan setiap hari. Tawaran yang sanagt menarik saat itu, apalagi modalnya yang terbilang “cukup kecil”. Tapi mungkin karena waktu itu saya tidak punya uang yang cukup, akhirnya jadi alasan bagi saya untuk tidak mengikutinya, walaupun pada akhirnya saya menemukan alasan yang lebih rasional untuk tidak pernah terlibat di dalamnya.

Kembali ke passive income. Digambarkan bahwa passive income adalah saat dimana kita tidak perlu mencari uang lagi, alias kita tak perlu bekerja untuk mencari uang, dan uang akan mengalir begitu saja. Sehingga kalaupun kita tidur dalam sebulan terus menerus, rekening kita tak pernah kosong alias terisi terus. Begitulah gambaran sekilasnya. Saya menggunakan istilah yang lain tentang passive income ini, yakni passive income kebaikan. Kalau tadi income atau pendapatan yang dimaksud di sini adalah pendapatan berupa materi atau uang, maka passive income kebaikan, pendapatan kita adalah berupa pahala yang terus menerus mengalir ke rekening kebaikan kita, tanpa kita melakukannya, mengalir saat kita tidur pun, dan yang lebih penting lagi, ia kan mengalir tak hanya saat kita hidup di dunia ini, namun juga saat kita sudah mati, itulah passive income kebaikan.

Dalam dien yang mulia ini, ada 3 macam passive income kebaikan, yakni shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak shalih yang mendoakannya. Rasuslullah pernah menyampaikan dalam salah satu sabdanya. Sungguh indah, kita tak perlu khawatir setelah kita mati nanti, karena kebaikan kita akan mengalir terus, meski liang kubur telah menutup kesempatan kita untuk beramal secara langsung di dunia, karena kita telah memiliki passive income tersebut. Ketiga macam amal tersebut, bila telah kita benar-benar berusaha untuk menunaikannya, insya Allah akan mengisi pundi-pundi amal kita tak hanya di dunia, namun juga saat gerbang kematian tak memisahkan kita untuk berkesempatan beramal di dunia ini. Maka kini saatnya bagi kita untuk mempersiapkan diri meraih “kebebasan finansial” yang sebenarnya, mendapat passive income kebaikan, dengan 3 amal tadi.

→ Leave a CommentCategories: my life

Investasi Akhirat

February 27, 2008 · 1 Comment

Ahad kemarin, untuk kesekian kalinya, saya berkesempatan berkunjung ke Islamic Center Iqro di daerah Pondok Gede. Saat itu saya berniat mengantar istri, yang sambil menggendong putri saya yang masih 1,5 bulan, yang akan mengikuti kuliah tafsir sebagai bagian dari program tahsin yang diikutinya 2 kali seminggu. Niatan awalnya hanya mengantar, karena acara itu memang untuk ibu-ibu. Tapi alhamdulillah, panitia rupanya cukup pengertian, dengan menyediakan tempat bagi bapak-bapak yang mengantar istrinya untuk ikut mengikuti acara tersebut.

Sambil memperhatikan sekeliling kompleks, saya teringat akan mendiang seorang ustad yang sangat sederhana dan bersahaja, yang menjadi pendiri lembaga ini, ustad Rahmat Abdullah. Ustad yang sempat dijuluki syaikhut tarbiyah oleh sejumlah kalangan. Seorang ulama yang menurut saya meninggal dalam usia yang tidak terlalu tua, namun karya beliau masih terasa hingga kini. Ulama yang mungkin tak banyak meninggalkan warisan dunia bagi anak-anaknya, apakah itu berupa deposito, asuransi pendidikan, reksadan, tanah, rumah atau yang lainnya. Ia meninggalkan sebuah tempat bagi para murid-murid dan orang-orang di sekitarnya untuk mentarbiyah diri mereka, beliau tak banyak berinvestasi di dunia, tapi investasi akhiratlah yang banyak beliau tinggalkan, sesuatu yang akan menemaninya terus di akhirat kelak, yang pahalanya tak putus meski Allah tlah memanggilnya.

Hari ahad sore
nya, saya mendapat kabar dari kakak di Surabaya, kalau pakde saya (mas dari ibu saya) meninggal dunia, setelah beberapa hari dirawat di RS. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menerima amalannya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Teringat kembali akan kematian yang sering saya terlupa, sibuk dengan urusan dunia. Mengejar ini itu, sambil sesekali teringat akan mati, namun tak membekas di hati. Teringat kembali bahwa segala harta yang kita miliki akan kita tinggalkan, tanpa sedikitpun kita bawa. Yang menemani kita hanya amalan, dan investasi kita untuk akhirat, bukan investasi di dunia kita. Apa yang akan saya bawa kalo besok Allah memanggil saya? Investasi apa yang akan saya bawa sebagai bekal untuk menghadapnya? Saya yang kadang sayang akan harta yang seharusnya saya keluarkan berupa zakat, padahal itu adalah kewajiban, lalu apa yang akan saya bawa nanti? Kalau ustad Rahmat wafatl telah meninggalkan Iqro sebagai investasi akhiratnya, lalu apa yang akan saya bawa nanti? Kalau pekerjaan sering membuat kita menunda waktu shalat, atau dengan alasan yang kita buat-buat sendiri sehingga mengurangi zakat yang seharusnya kita keluarkan, apa yang akan kita bawa kelak?

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya): Jika telah meninggal seorang manusia, maka terputuslah semua amalnya. Kecuali tiga perkara, yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak shalih yang mendoakannya. (HR Muslim)

→ 1 CommentCategories: my life

Bisakah kita hidup dengan apa yang kita butuhkan, meski kita mampu lebih dari itu?

December 15, 2007 · Leave a Comment

Pertanyaan yang menggelitik bagi saya. Mengingat kalau dilihat, seringkali kita merasa bahwa kita tidak membutuhkan sesuatu katakanlah X, namun karena ada keinginan, jadilah kita membelinya, atau kalau kita tidak merasa membutuhkannya, akhirnya dengan segala alasan kepada diri kita sendiri, akhirnya sesuastu itu jadi “kebutuhan” kita, secara kita juga memiliki kemampuan untuk memiliknya. Berbeda halnya kalau kemampuan kita terbatas :) . Atau katakanlah kita sebenarnya hanya cukup untuk membeli barang dengan nilai C, namun karena keinginan dan karena kita merasa mampu memiliki barang kelas A (padahal mungkin nanti jadi ga optimal fungsinya), jadilah kita membelinya. Seperti halnya anak-anak SD jaman sekarang yang sudah pada pegang HP yang harganya sama dengan gaji UMR 5 bulan seorang buruh.

Tanpa kita sadari, setan telah menyerang kita, membunuh kita secara perlahan. Mengikis sensitifisme kita akan lingkungan sekitar kita. Tanpa sadar, karena hati kita telah tergerus oleh dunia yang Allah telah anugerahkan lebih kepada kita, jadilah hati kita mati tanpa kita sadari, atau kotor tanpa kita nyana. Tanpa sadar, kesyukuran kita baru sebatas ucapan “Alhamdulillah” sampai batas tenggorokan kita, tanpa bisa merasuk hati kita. Tanpa bisa membuat kita agar lebih dekat kepada-Nya. Hingga suatu saat, kita berada di batas jurang kekufuran tanpa kita sadari, padahal selama ini kita merasa telah bersyukur kepada-Nya. Namun amal kita ternyata kosong tanpa ruh, tanpa nyawa,

→ Leave a CommentCategories: my life

8 menuju 9 : Suami Siaga

December 15, 2007 · 1 Comment

Usia kehamilan istri saya saat ini dah mencapai minggu ke-36. Dah semakin besar jundi saya ni di dalam perut umminya. 2 minggu yang lalu, perkiraan berat dah sekitar 2.1 kg. Sejauh ini belum ada gangguan berarti insya Allah. Perkiraan lahir sekitar 10 Januari 2008, mungkin bertepatan dengan tahun baru hijriah. Mohon doanya semoga Allah memberi kemudahan dalam proses lahiran, ummi dan bayinya diberi kesehatan nantinya. Amien.

→ 1 CommentCategories: my family

Tentang Syukur (lagi)

December 15, 2007 · Leave a Comment

Apa yang ada, jarang disyukuri
Apa yang tiada sering dirisaukan

Petikan nasyid yang dulu sering saya dengar, saat awal-awal saya mengenal nasyid. Waktu itu dibawakan oleh The Zikr. Sampai saat inipun syair itu senantiasa sering saya ingat, kala saya merasa ada yang kurang dengan apa yang sudah saya punyai. “Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri”, pepatah itu rasanya juga bisa mewakili bahasa lain syair di atas. Kita sering merasa pekerjaan, lingkungan, kendaraan, rumah, atau apalah yang sudah kita miliki rasanya lebih jelek dibandingkan apa yang dimiliki oleh teman, tetangga atau saudara kita. Padahal banyak diantara saudara kita yang belum mendapatkan apa yang kita sudah miliki. Tabiat manusia memang seperti itu. Dan syukur memang bukan pekerjaan mudah. Syukur bisa dikatakan setara dengan keimanan, bahkan ada yang mengatakan lebih tinggi. Karena atas dasar keimananlah, Rasulullah bisa menjadi hamba yang paling bersyukur. dan apabila kita telah mampu bersukur, maka kita harus bersyukur atas kesyukuran kita itu.

→ Leave a CommentCategories: my life

Lebaran Di Korea (lagi)

October 24, 2007 · 3 Comments

Lebaran kali ini adalah untuk kali yang ketiga saya melakukannya di negeri seberang. Jangan ditanya gimana perasaan saya, sungguh berat. Apalagi kali ini harus meninggalkan istri dan calon anak saya. Tahun kemarin alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan kepada saya untuk bs full Ramadhan dan Lebaran di Indonesia, tapi kali ini Allah berkehendak lain, saya harus masih di sini. Rencana balik kampung pun gagal. Tiket yang sudah disiapkan jauh hari sebelumnya akhirnya tidak terpakai, meski akhirnya ada teman yang siap menggantikan. Sebenarnya dari manager di Indonesia saat keberangkatan begitu meyakinkan kalau kami akan pulang sekitar 3 hari sebelum lebaran, tapi apa dikata. Schedule begitu padat dan tidak mungkin ditinggal pada saat itu, ya akhirnya harus dijalani apa adanya.
5 sekawan
Lebaran kali ini kami memutuskan untuk shalat ied di KBRI. Dua kali lebaran sebelumnya, pertama kami melakukannya di Masjid Seoul (2004), sementara tahun 2005 kami mengadakan shalat ied sendiri, mengingat ada beberapa rekan yang tidak diijinkan untuk libur, dan hanya mendapat ijin untuk datang terlambat. Nuansa berbeda kami dapatkan di KBRI kemarin, berasa di Indonesia. Ketika keluar dari stasiun dan dalam perjalanan kaki menuju KBRI, sayup-sayup terdengar suara takbir, dengan lantunan suara khas Indonesia. Dan ketika memasuki lapangan jamaahnya ternyata sudah banyak. Kebanyakan para jamaah adalah para TKI (termasuk saya kali ya :) , hehehe …), dengan dandanan khas mereka. Shalat ied sndiri dimulai pukul 8.30 pagi, cukup siang memang, mengingat harus menunggu para jamaah yang berasal dari berbagai kota di sekitar Seoul. Saya sendiri dkk harus menempuh perjalanan dengan kereta sekitar 1 jam. Setelah Shalat ied, dilangsungkan khutbah dalam bahasa indonesia (berbeda dengan di masjid seoul dulu yang dilakukan dalam bahasa arab dan korea yang saya sama2 tidak mengerti :) ). Yang bikin saya kaget di sini adalah para jamaah yang setelah shalat ied sudah langsung pada bubar, berdiri dan berbincang satu sama lain. Pun khutbahnya juga dilakukan hanya sekali, dan bukan dua kali. Mengingat kondisi para jamaah yang sudah dikatakan bubar sebelum khutbah pertama selesai. Apa mau dikata, kalau harus dipaksakan khutbah kedua mungkin lebih kacau lagi. Dan acara yang ditunggu pun tiba, makan bersama :D . Opor ayam telah disiapkan oleh pihak kedutaan. Meski harus berdesakan, akhirnya kami berlima dapat juga opor lebaran, made in korea (kasian banget ya…:).

→ 3 CommentsCategories: my journey

7 bulan berjalan

October 24, 2007 · Leave a Comment

Menjelang hari kepulangan saya, karena istri sudah memasuki minggu ke 28 kehamilan, memeriksakan diri ke dokter. Oleh dokter direkomendasikan untuk USG 4 dimensi, mengingat posisi jundiku yang seharusnya posisi kepalanya dah di bawah manakala dah masuk bulan ke 28. Alhamdulillah belum terlalu terlambat, dengan latihan teratur insya Allah jundiku bisa memutar ke posisi seharusnya. Insya Allah. Berikut capture dari USG 4 dimensi kemarin. Menurut “penerawangan” alat itu, jundiku seorang akhwat :) (cantik kayak ibunya kali nantinya yah). Tapi siapa tahu, saat lahiran ternyata lain. Jadi musti siapin 2 nama aja.

4 3 5 

2 1 7

→ Leave a CommentCategories: my family

Selamat Iedul Fitri …

October 10, 2007 · Leave a Comment

Lebaran

→ Leave a CommentCategories: my dien · my family

Peran Suami – Ayah

September 30, 2007 · Leave a Comment

Beberapa peran yang diambil oleh seorang suami dan ayah :

1. Panglima yang mengarahkan biduk rumah tangganya kemana arah yang akan dituju
2. Guru yang mendidik istri dan putra-putrinya
3. Syaikh yang memberikan pendidikan dien dan menjaga keimanan, menjaga keluarganya agar selamat dunia akhirat kelak
4. Sahabat yang siap menjadi penghibur, teman bermain, dan pendengar yang baik bagi istri dan anaknya

Sebuah peran yang tidak ringan memang … But it must be done !

→ Leave a CommentCategories: my family