achdaf weblog

Entries from October 2004

Kedewasaan

October 20, 2004 · 2 Comments

Ngomong-ngomong soal kedewasaan, ane jadi ingat salah satu iklan rokok yang bunyinya kalo gak salah begini, “Jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan”. Ya, memang kedewasaan itu tidak diukur dari usia seseorang. Karena menurut ane, kedewassan itu lebih dipengaruhi oleh mental dan jiwa, secara psikis, bukan fisik. Karena betapa banyak kita menemui orang dengan usia yang sudah dibilang tua, namun dalam kelakuannya belum menunjukkan sikap kedewasaan, malah kadang kekanak-kenakan, tua yang ane maksud di sini tidak termasuk manula, yang kekanak-kanakannya memang karena pikun. Atau kadang kita tidak jarang menemui seseorang yang secara umur relatif muda, tapi secara pemikiran dan sikap telah menunjukkan kematangan dalam dirinya. Kedewasaan menurut ane dapat dilihat dari bagaimana cara dia berfikir, bertingkah laku, bagaimana cara dia mengendalikan emosi, menyikapi masalah, bersikap terhadap orang lain, cara berbicara dsb, Kedewasaan ini banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain lingkungan, didikan orang tua, pendidikan, baik formal maupun informal, agama, dan mungkin juga faktor keturunan.

Kedewasaan ini menurut saya sangat mempengaruhi jalan hidup seseorang, dan ini sangat diperlukan untuk kelak menunjukkan kemandiriannya, kemampuannya dalam mengendalikan dan memimpin diri sendiri, terlebih lagi ia seorang pemimpin orang banyak, apalagi pemimpin bangsa. Kedewasaan itu mutlak diperlukan. Namun sayangnya hal ini tidak ditunjukkan olah mantan presiden kita, Megawati. Bayangkan, ketika para kepala negara dan utusan negara lain menghadiri momentum bersejarah di negara kita ini, ternyata malah presidennya sendiri (waktu itu kan SBY belum resmi dilantik, jadi belum bisa disebut presiden) eh malah nggak datang. Berbagai isu pun muncul. Ada yang bilang sakit hati, ingin menenangkan diri, dsb. Yang salah satu beritanya beliau itu sakit hati, soalnya pas dulu SBY ditanya apa mau mencalonkan diri sebagai presiden, dijawab nggak. Eh, sekarang malah dikalahkan oleh SBY. Kesimpulannya, beliau itu ngambek. Kalo yang ngambek itu anak-anak seumur tk ato sd sih nggak apa-apa, namanya juga anak-anak, kan belum dewasa, belum bisa mengendalikan diri. Tapi ini yang ngambek itu presiden, ato mantan presiden lah, yang seharusnya bisa dewasa dalam bersikap, mana masalah yang sifatnya pribadi, mana yang itu termasuk tugasnya sebagai kepala negara. Karena kemaren pas pemilu itu yang kalah kan Megawati calon presiden dari PDIP, sedang yang diundang untuk hadir dalam pelantikan presiden adalah Megawati sang presiden RI. Tapi ternyata, beliau masih belum bisa membedakan itu kelihatannya, jadinya ngambek! Kalo ngambek itu menurut saya adlah sifat anak-anak, ato kekanak-kanakan, bukan sifat pemimpin bangsa, bukan sifat orang dewasa. Jadinya mantan presiden kita itu kekanak-kanakan dong ? Terserah, anda sendiri yang menilai.

Categories: my life · my world

Jangan Pernah Mengeluh…

October 7, 2004 · 1 Comment

Barangkali pekerjaan paling enak selain tidur itu adalah mengeluh. Lho? Iya, soalnya dengan mengeluh, kita akan mengeluarkan semua unek2 kita, melampiaskan apa yang sedang bercokol di hati kita saat ini. Dan kita akan merasa plong setelah mengeluh itu. Lho itu kan curhat? Beda dong sama mengeluh? Nah, inilah yang kadang saya sendiri tidak bisa membedakan antara curhat, mengeluh, konsultasi, ato… nah ini yang berbahaya, kalo ternyata perbuatan yang dilakukan itu dilandasi oleh ketidaksyukuran kita terhadap apa yang kita dapatkan saat ini, yang bisa membawa kita kepada apa yang disebut kufur nikmat. Kalo kita curhat, ato konsultasi, menurut ana kita memang sedang berada dalam masalah, dan kita dalam kondisi ingin menghadapi masalah itu dan menyelesaikannya, serta dilandasi oleh pemahaman bahwa apa yang kita hadapi adalah bagian dari kehidupan, bagian dari skenario Allah terhadap diri kita.

Sedangkan kalo mengeluh, menurut saya, itu lebih disebabkan oleh kelemahan mental kita dalam menghadapi hidup, ketidakmampuan kita dalam mengatasi problem yang ada, keinginan agar persoalan itu hilang tanpa ada usaha, bukan menyelesaikannya, dan juga bisa jadi karena ketidaksyukuran kita terhadap apa yang Allah anugerahkan kepada kita. Dan mengeluh biasanya itu disebabkan oleh masalah2 keduniawian. Gak punya mobil lah, gak punya hape keren kayak teman lah, gak punya perabot kayak tetangga lah, dan laen laen.

Siapa yang repot coba kalo gitu? Ya orang yang dikeluhi, kalo yang dikeluhkesahi adalah hal itu2 saja, yang nampak bukan sebuah ketegaran hidup, tapi keinginan agar hidupnya berubah sekejab mata, tanpa ada usaha. Kita bisa bayangkan, bagaimana kalo tiap hari kita bertemu dengan orang yang omongannya gitu2 aja, mengelug terus. Katanya orang surabaya, “Gak onok syukure, ngersulo thok” alias gak pernah bersyukur, mengeluh terus. Masalahnya kalo yang dikeluhkesahi adalah sama2 gak bisa menyelesaikan masalah, maka hal itu bisa berlarut-larut tanpa ada penyelesaian. Sehingga, kita yang seharusnya berfikir bagaimana bermanfaat bagi orang lain, mencari penyelesaian masalah orang lain, malah sebaliknya.

Karena itulah, kita harus benar-benar memahami, hakikat dari kehidupan ini. Hakikat bahwa Allah-lah tempat kita bergantung. Hakikat bahwa kehidupan ini hanyalah sementara. Hakikat akan dunia yang fana. Hakikat akan hidup yang sebenarnya. Sehingga kita akan mendapat kebahagiaan yang hakiki, bukan kebahagiaan yang semu.

Maka dari itu, silahkan mengeluh, bahkan mengeluhlah sepuas-puasnya, tapi, mengeluhlah kepada dzat yang pasti akan memberi penyelesaiaan bagi masalah kita. Ya, mengeluhlah kepada ALLAH, DZAT YANG MAHA MENDENGAR.

Categories: my life

Sebait Nasyid buat Bunda

October 6, 2004 · 1 Comment

Barusan kutelpon bundaku. Kutanya kabar? Alhamdulillah, baik-baik saja katanya. “Kok lama nggak telpon, memang ada apa?”, begitu timpalnya. “Gak ada apa-apa kok, Bu”, ujarku menghapus kegelisahannya. Padahal, baru sepuluh hari aku nggak nelpon ke rumah. Ah ibu, aku baik-baik saja kok di sini. Aku tahu, engkau kadang lebih mengkhawatirkan diriku, bahkan kadang melebihi kekhawatiranku pada diriku sendiri. Sebait nasyid, kusenandungkan buatmu, sebuah doa, meski kau tak dengar, meski kau jauh di sana. Dari Bijak.

Ibuku.. oh .. ibu…

Betapa ikhlas kau menyayangiku

Jiwamu tulus memeliharaku

Tiada mengharap mengharap balasanku

Ya allah tuhanku..

Bukakanlah pintu ampunan-Mu

Curahilah dia dengan rahmad-Mu

Dia merawatku sejak kecilku

Oh ibu.. kini aku jah darimu

Ingin ku luruh di pangkuanmu…

Rengkuhlah aku dengan doa malammu

S’moga Dia membimbing langkahku

Oh ibu.. kini air mataku berderai

Rindu belai kasih sayangmu

Dengan ketulusan hati yang dalam

Maafkanlah anakmu ini…..

(Jazakallah buat kang agus dengan liriknasyid.com-nya)

Categories: Uncategorized

Sekali Lagi… Semoga Berkah

October 6, 2004 · 3 Comments

Hari ini, barangkali adalah hari yang sangat bersejarah dalam perjalanan dakwah ini. Seorang kader dakwah telah dipercaya untuk memegang amanah sebagai pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat, MPR. Ya, Dr. Hidayat Nur Wahid telah mendapat amanah untuk memimpin lembaga tinggi negara itu, lembaga yang dulu memiliki kekuasaan yang luar biasa, walaupun sekarang kekuasaannya telah berkurang seiring tuntutan reformasi. Ini adalah amanah yang tidak hanya untuk Pak Hidayat seorang, tapi juga bagi seluruh kader dakwah ini untuk membuktikan bahwa dirinya memang mampu memberi solusi bagi bangsa ini. Amanah yang apabila kita bisa mengembannya dengan baik dan ikhlas, maka insya Allah kita akan menuai hasilnya tidak hanya untuk 5 tahun mendatang di tahun 2009, dan tidak hanya di dunia saja, tapi ridho dari al-Khalik yang akan membawa kita kepada kebahagiaan di akhirat kelak. Amanah tersebut sangat berat, mengingat citra wakil rakyat “yang terhormat” selama ini tidak memiliki kehormatan sebagaimana mestinya. Sekali lagi, selamat buat Pak Hidayat, selamat buat seluruh kader dakwah, dan selamat dan doa bagi seluruh anak bangsa ini agar kebangkitan negeri ini agar tampil berwibawa di depan manusia di muka bumi ini tidak lama lagi kita songsong, dengan pertolongan Allah. Sekali lagi, Semoga Berkah.

Categories: Uncategorized

Buat Presiden Baruku… Semoga Berkah

October 5, 2004 · 1 Comment

Semoga berkah. Mungkin kata itu cukup melengkapi segala harapan yang ingin kuberikan kepada presiden baruku, Susilo Bambang Yudhoyono, yang hari ini telah ditetapkan sebagai presiden terpilih. Karena keberkahan insya Allah akan membawa semua kebaikan. Tentu saja kebaikan itu hanya dari Allah semata. Keberkahan akan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi bangsa ini. Keberkahan akan membawa kemakmuran tidak hanya dari sisi materi, tapi sisi ruhaninya pun terpenuhi. Jadi, cukup satu kata untuk mewakili segalanya… “SEMOGA BERKAH”.

Categories: Uncategorized

Wakil Rakyat

October 1, 2004 · Leave a Comment

Hari ini, wakil rakyatku dilantik. 550 orang akan mengucap sumpah atas nama Allah untuk menjalankan amanah sebagai wakil rakyat. Saya tidak tahu, apa yang ada dalam hati dan pikiran mereka saat ini. Mungkin ada yang gembira karena naik pangkat, atau ada yang sudah berencana untuk beli ini dan itu, ada yang sudah membayangkan akan mendapat fasilitas yang serba ‘wah’, atau bahkan ada yang menangis tersedu-sedu mengingat betapa berat amanah ynag dititipkan kepada mereka yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Rabb-nya. Amanah untuk memperbaiki bangsa ini yang sudah di tepi jurang kehancuran. Negeri yang sangat kaya, namun rakyatnya sangat miskin. Negeri dengan lebih dari 85% penduduknya adalah muslim, namun menempati peringkat atas dalam korupsi dan pornografi. Orang tidak akan habis pikir, bagaimana bisa diantara rakyatnya ada yang memiliki beberapa mobil bernilai milyaran rupiah, sementara sebagian besar rakyat yang lain tidak tahu dari mana ia akan mendapat makanan esok hari.

Barangkali saya tidak harus berharap penuh kepada seluruh wakil rakyat yang terhormat itu, walaupun seharusnya kepada semuanyalah, saya berharap bahwa mereka dapat menjalankan amanah sepenuhnya. Tetapi apa boleh buat, tidak semuanya adalah pilihan saya. Setidaknya kepada 45 anggota dewan yang telah berikrar dan bersumpah, yang saya menjadi bagian dari barisan mereka, serta berkomitmen bagi dakwah dan bangsa ini saya berharap agar mereka dapat membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik, sebagimana cita-cita dakwah itu sendiri. Sekaligus berdoa akan keistiqomahan mereka, karena medan dakwah ini sangatlah berat, bahkan bagi orang yang telah puluhan tahun malang melintang dalam dunia dakwah. Saya berharap dengan memilih mereka tidak malah mendzalimi mereka dengan mengelincirkannya ke jurang kenistaan, menjadikan mereka orang-orang yang berguguran di jalan dakwah.

Selamat berjuang para mujahid dakwah. Selamat berjuang wakil rakyatku. Semoga pertolongan Allah senantiasa menyertaimu.



Wakil rakyat, seharusnya merakyat

Jangan tidur waktu sidang soal rakyat

Categories: Uncategorized