achdaf weblog

Entries from November 2004

Ternyata Saya Hanya Nggak Mudik

November 22, 2004 · 3 Comments

Begitu banyak hal yang berbeda dari apa yang saya rasakan saat lebaran di sini, di Korsel. Ada cerita suka maupun kondisi yang cukup membuat saya agak bersedih. Namun atas semua hal yang saya dapatkan selama ini, saya sangatlah bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Tahun ini adalah kali pertama saya tidak lebaran bersama keluarga di rumah, yang biasanya setelah shalat Ied di masjid dekat rumah, biasanya saya langsung sungkem ke kedua orang tua, setelah itu kami sekeluarga biasanya keliling kampung untuk sekedar mengunjungi tetangga-tetangga sekitar. Siang atau sorenya dilanjutkan menuju ke rumah saudara-saudara, atau saudara-saudara itu yang berkunjung ke rumah. Itu berlangsung sampai sekitar beberapa hari setelah lebaran. Meski demikian, alhamdulillah ternyata ada nuansa lain yang saya dapatkan ketika tidak di tengah-tengah keluarga saat lebaran kemarin di negeri gingseng ini.

Malam lebaran kemarin, saya dan teman-teman yang senasib, meski dengan peralatan seadanya, alahamdulillah kami masih bisa mengagungkan asma Allah dengan melakukan takbir sendiri. Hal yang sangat kontras, mengingat biasanya kalau malam lebaran dari lingkungan sekitar kita di Indo pasti terdengar sayup-sayup pekik takbir dari masjid-masjid, musholla, dll. Tapi kemarin kami seperti sendiri bertakbir, bertasbih, bertahmid sendiri di tengah-tengah komunitas yang jauh dari Tuhannya, namun semua itu tidak menyurutkan semangat untuk terus bertakbir meski nggak sampai semalaman. Pagi harinya pukul 8, kami baru berangkat menggunakan bis yang disediakan perusahaan yang mengantar saya dkk ke masjid di daerah Itaewon, di kota Seoul, ibukota Korsel. Kami berangkat agak siang, soalnya memang dari pihak perusahaan baru bisa mengantarkan pukul segitu. Lagian di masjid yang kita tuju sholat Ied baru dilaksanakan pukul 10.30, cukup siang bila dibandingkan di tanah air yang biasa dilakukan pukul 6-7 pagi. Hal ini dilakukan untuk menunggu jamaah yang berdatangan dari kota lain, menginat masjid di negeri ini bisa dihitung jumlahnya. Alhasil, sholat pun baru bisa dilaksanakan sesiang itu. Subhanallah, jamaah yang hadir berasal dari berbagai etnis. Namun rata2 mereka kebanyakan dari etnis hidung mancung seperti pakistan, bangladesh, arab, dsb. “Kayak di Mekkah ya?”, begitu komentar salah seorang teman saya. Namun ada juga yang dari Indo kayak kita, dari orang korsel sendiri juga nggak sedikit, baik yang laki maupun perempuan. Terlihat juga pasangan blasteran antara pria timteng dengan wanita korsel, barangkali hal ini memang juga dilakukan sebagai sarana untuk memperluas dakwah di sini, dengan menikahi wanita asli korsel. Ada juga orang negro yang sholat di masjid situ juga. Dan ternyata orang negro itu kulitnya benar2 hitam, bukan coklat tua seperti yang saya kira selama ini. ‘Ala kulli hal, innamal mukminuuna ikhwah, semua mukmin adalah bersaudara, apapun suku bangsa dan warna kulit seta bahasanya, semuanya sama dan disatukan dengan aqidah yang sama. Yang membedakan hanyalah keimanan dan ketaqwaannya.

Selapas shalat Ied, inilah yang sangat berbeda dari kebiasaan kita di tanah air pada umumnya. Dimana kalau selepas shalat Ied paling banter kita hanya salam-salaman sambil mengucap kata maaf. Tapi di sini, karena kebanyakan adalah etnis timteng dimana mereka terbiasa dengan berpelukan maka mereka pun melakukannya selepas shalat Ied. Sambil bersalaman dan berpelukan mereka mengucap Happy Ied Mubarak dan saling mengucap kata maaf, sehingga tak ayal hal itu mempengaruhi teman-teman untuk melakukan hal yang serupa, sesuatu yang lain yng mungkin belum pernah kita lakukan selama di tanah sendiri. Sambil bersalaman dan berpelukan kita saling mengucap maaf atas segala apa yang pernah terjadi selama ini. Dan dengan harapan tahun depan akan lebih baik dari tahun ini. Indah sekali.

Saya memang patut bersyukur, meski tidak dapat berkumpul bersama keluarga saat lebaran kemarin, namun dengan adanya teman-teman saya hal itu cukup menghibur mengingat kita memiliki nasib yang sama. Kita bisa saling menghibur satu sama lain. Setidaknya masih beruntung, dibandingkan dengan saudara-saudara yang tertimpa musibah saat menjelang lebaran kemarin. Ada yang kebakaran, terkena gempa bumi, atau mereka yang tidak dapat berkumpul dengan keluarga meeka karena memang sudah tidak memliki keluarga lagi. Atau bila mengingat saudara kita di Palestin, Irak, dll. Maka patutlah saya bersyukur atas apa yang telah saya nikmati selama ini. “Fabiayyi ‘alaa irobbikuma tukalliba”, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Categories: Uncategorized

Awas! Perasaan Serba Kurang

November 16, 2004 · 1 Comment

Beberapa bulan yang lalu teman saya bercerita tentang kondisi keuangannya, bukannya sedang kekurangan, karena gaji yang didapatkannya selama ini lumayan cukup buat seseorang yang masih belum mempunyai tanggungan. Ia hanya membandingkan kondisi keuangannya ketika dulu masa-masa kuliah sebagai anak kos yang sangat bergantung dengan kiriman orang tua dengan saat ini yang sudah bekerja. Ia membandingkan dulu pas masa kuliah ia mendapat kiriman sekitar 300 rb rupiah yang saat itu ternyata ia mampu menggunakannya untuk uang kos sekaligus kabutuhan makanan sehari-hari, bahkan terkadang uang itu masih tersisa alias lebih dibanding dengan kebutuhan yang ada. Namun dibandingkan dengan saat ini uang segitu ternyata tidak cukup hanya untuk membayar kosnya saja, belum lagi makanan sehari-hari ataupun buat membeli jajanan, beli voucher pulsa hp, dan yg lainnya. Alhasil, gaji bulanannya yang terkadang mencapai 10 kali lipat kiriman ortunya dulu setiap bulan hanya tersisa separuh atau bahkan beberapa ratus ribu saja. Ternyata gejala itu tidak menimpa teman saya itu saja, tetapi juga menimpa beberapa teman yg lainnya dengan kasus yang hampir mirip, dan termasuk juga saya mungkin, walaupun dengan taraf yang berbeda, karena memang beda “kelas” .

Teman kos saya yang lain suatu ketika mengatakan, bahwa ada suatu keterkejutan yang dialami oleh seseorang yang mengalami perubahan fase kehidupan, dari seorang mahasiswa kos-kosan dengan segala keterbatasan finansial menjadi seorang yang bekerja dengan penghasilan yang berlipat dari biasa ia dapatkan ketika menjadi mahasiswa. Seketika timbul banyak keinginan ingin beli ini beli itu, berangan untuk bisa beli hp terbaru dan termahal, laptop, tv pribadi, dlsb. Yang kesemuanya lebih condong kepada bagaimana menggunakan (mungkin lebih tepatnya menghabiskan) apa yang ia dapatkan. Dan bahkan dalam beberapa kasus ternyata ketika masih mahasiswa dengan segala keterbatasannya masih merasa berkecukupan, namun ternyata ketika sudah bekerja yang bila dibandingkan dengan saat masih jadi mahasiswa berlebih, masih juga kadang merasa kekurangan. Dan barangkali ini juga yang menyebabkan banyak orang kaya harta tetapi dia senantiasa merasa kurang dengan apa yang ia miliki saat ini. Semakin hartanya bertambah, semakin bertambah pula nafsu dan keinginannya terhadap dunia. Dulu kita mungkin tidak keberatan ketika mengeluarkan infaq 1000 rupiah dari dompet kita padahal uang yg tersisa 10 rb, alias kita mengeluarkan 10% dari apa yang kita miliki. Tapi sekarang berat sekali mengeluarkan 50 rb dari uang kita sebanyak 2 juta padahal itu cuma 2,5% dari yang kita miliki.

Benar adanya bila Rasulullah mengatakan bahwa bilamana manusia mendapat satu lembah harta maka dia akan menginginkan 2 lembah, 3 lembah, dan seterusnya. Dan ia tidak akan berhenti kecuali dengan tanah 2×1 meter, alias kubur.

Maka pandai-pandailah kita untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Allah, dan senantiasa mengingat bahwa apa yang kita miliki adalah titipan-Nya, dan bukan milik kita. Senantiasa bermuhasabah dan merenung agar jangan sampai dunia yang ada di tangan kita juga ternyata tertanam kuat di hati kita.

Ya Rabb Yang Maha Membolakbalikkan Hati, istiqomahkan kami di jalan-Mu.

Categories: Uncategorized

Konyolnya Pimpinan DPR

November 10, 2004 · 2 Comments

Barangkali negeri ini memang sudah dikutuk untuk mendapatkan pemimpin yang gak beres (naudzubillamindzalik, semoga tidak). Setelah beberapa waktu lalu begitu kekanak-kanakannya mantan presidennya sehingga ngambek dan tidak menghadiri sidang paripurna MPR hanya karena tidak ada aturan tertulis yang mengharusnya, kini kekonyolan yang bikin srimulat kalah lucu sehingga nggak laku terjadi lagi. Ini bermula ketika kemaren (9/11) ada pemuatan iklan yang katanya sebesar setengah halaman koran (saya sendiri gak tahu soalnya korannya gak beredar di sini ) di beberapa koran ibu kota yang memuat kronologis perseteruan di tubuh DPR yang dinilai sejumlah kalangan hanya condong ke salah satu pihak serta mengancam kacaunya perdamaian yang sudah akan dimulai. Terlepas dari permasalahan kekisruhan yang terjadi, saya hanya menggarisbawahi penyelesaian yang terjadi, dimana begitu mudahnya para pimpinan DPR mengatakan bahwa iklan itu hanyalah kesalahan teknis dan keterlambatan pemuatan. Kesalahan teknis, ya kesalahan teknis. Begitu mudahnya mereka mengatakan itu. Kesalahan teknis yang dilakukan oleh pimpinan dewan “yang terhormat”. Saya bukannya tidak mengakui bahwa manusia adalah tempatnya salah dan dosa, tetapi orang awam pun akan berpikir,”Pimpinan DPR itu mikirnya pake apa sih, kok sampe terjadi seperti itu? Nggak habis pikir”. Kalo kesalahan teknisnya seperti misalnya orang kelupaan ngecek mik yang akan digunakan buat acara di kampung sehingga acara tesebut nggak bisa pake mik mungkin orang akan maklum, lha ini?????

Kalo itu semata kesalahan teknis dan keterlambatan pemuatan iklan, maka perlu dirunut. Kalo yang terlambat memasang itu adalah media massanya, saya kira nggak mungkin, wong masak terlambatnya kok bareng, dan kalo memang media massa yang salah, mestinya pimpinan DPR akan menuntut media massa tsb, kenyataannya nggak seperti itu. Kalo pihak setjen DPR, ternyata pihak setjen bahkan nggak tahu menahu soal itu, bahkan pihak setjen merasa belum mengeluarkan dana buat pemasangan iklan itu yang seharusnya itu sepengetahuannya, karena memang itu tugasnya dan iklan itu atas nama lembaga DPR resmi. Nah kalo begitu, apa
ada kesengajaan dari pimpinan DPR melakukan hal itu untuk keuntungan tertentu? Wallahu’alambishowab. Tapi berdasarkan pengalaman yang ada, kekisruhan yang terjadi di tubuh DPR lebih disebabkan karena lemahnya kepemimpinan dan tidak adilnya pimpinan DPR dalam bersikap sehingga ada pihak yang merasa didzalimi. Ya, kita hanya bisa berdoa agar Allah senantiasa
membimbing mereka agar bisa mengemban amanah ini.

Categories: Uncategorized

Kenangan Ramadhan di Negeriku

November 8, 2004 · 2 Comments

Ramadhan tahun ini sangatlah sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Berbeda sangat jauh. Ane ingat, sampai tahun kemaren setidaknya. Tiap ramadhan tiba, suasana di rumah dan lingkungan berubah. Dulu, tiap pagi sekitar jam 3-an, pas ramadhan begini, kami serumah sudah bangun, bahkan ibu ane sudah bangun sekitar jam setengah tiga untuk menyiapkan makan bagi kami sekeluarga. Biasanya sambil makan saur ane menikmati sajian di televisi, setidaknya juga sebagai penghilang rasa kantuk yang kadang masih sulit dihidangkan. Dari luar sana, terdengar cukup jelas lantunan ayat suci Al-Quran dari masjid yang memang cuma sekitar 25 meter jaraknya dari rumah. Sambil sang petugas setiap 5 menitan mengingatkan waktu imsak yang tersisa. Abis subuh, biasanya rumah jadi sepi, bukannya semua pada pergi, tapi pada nambah jatah tidur abis subuh. Itu pun gak sampe lama, soalnya kedua ortu ane yang 2-2nya guru harus segera berangkat menunaikan tugasnya. Itu kalo memang hari sedang nggak libur. Menjelang berbuka, suasana pun sudah mulai ramai lagi rumah dan sekitar. Sekitar jam 4an biasanya ibu sama mbak ane sudah pada nyiapin menu berbuka. Sedangkan ayah ane sekitar jam 5an jg berangkat ke mesjid karena harus nyiapin acara menjelang berbuka di sana. Ane sendiri seringkali tidak magriban di rumah, walaupun ibu ane seringkali berpesan supaya ane berbuka alias magriban di rumah. Tapi bagaimana lagi, karena biasanya pas ramadhan kegiatan lagi meningkat, jadinya agak sulit kalo harus magriban di rumah. Ya ane biasanya paling nggak tetep bs makan malam en saurnya di rumah. Alhamdulilah, tahun-tahun sebelumnya ketika masih di rumah, ane selalu menyempatkan diri buat teraweh di masjid. Ya kalo nggak di masjid dekat rumah, biasanya sama temen2 ane di masjid deket sekret uswah, dpd, ato di kampus. Nikmat sekali.

Ramadhan di negeri sendiri, walaupun cuma sementara, setidaknya ghirah dan nuansa keislaman pas ramadhan saat itu sangat terasa. Di jalan2 banyak spanduk ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Acara di tv pun lagi ngetrend keislamannya. Kegiatan dakwah pun meningkat. Apalagi tahun kemaren ane dkk ngadain banyak kegiatan buat adik2 smu. Ada festival nasyid di plasa, sanlat, dll. Tiap hari, bahkan jauh2 hari sebelumnya kita kudu nyiapin acara tersebut. Dan alhamdulillah, dengan pertolongan Allah acara itu cukup sukses. Bahkan pemenang festival nasyid waktu itu sekarang jadi finalis FNI yang lagi diadain di jakarta. Nggak tau apa udah tereleminasi belum ya. Kajian-kajian yang diadain ikhwah juga banyak. Apalagi kalo ada ifthor jama’i, kita bisa kumpul bareng saudara-saudara, shalat berjamah, terus buka puasa bareng, sambil bercanda. Sungguh terasa nilmat ukhuwah bersama para ikhwah itu. Di akhir-akhir puasa, ane dan temen2 biasanya janjian buat i’tikaf bareng. Meski cuma semalam aja di malam-malam ganjil, namun itu setidaknya bisa membasahi jiwa yang kekeringan dan penuh dosa ini. Menjelang lebaran, rumah pun gak kalah sibuk, walaupun sibuknya berbeda. Biasanya ane dan keluarga udah mulai nyiapin lebaran. Rumah sudah mulai dibersiin. En kalo perlu di cat. Perabotan pada dicuci en dilap. Seluruh isi rumah kerja bakti buat nyiapin lebaran.

Tapi itu samape tahun kemaren. Ketika ane masih berada di tengah-tengah para ikhwah dan keluarga. Kini semua cerita di atas hanyalah suatu kenangan yang seringkali bikin hati jadi kangen Nggak ada kegiatan sanlat, festival nasyid, ataupun dauroh. Nggak ada lagi menu spesial dari ibu ane buat berbuka. Nggak ada lagi spanduk dan iklan selamat menunaikan ibadah puasa. Nggak ada lagi ngabuburit bareng ikhwah. Nggak ada lagi shalat teraweh di masjid. Dan nggak ada lagi i’tikaf. Juga nggak ada lagi siaran shalat tarawih dari Masjidil Haram di tv. Namun alhamdulillah, setidaknya ane tiap hari bersama rekan-rekan di sini masih bisa tarawih berjamaah. Tilawah alhamdulillah masih dalam target. Kita juga bisa berpuasa dengan khusyuk, meski sekitar kita semuanya ga pada puasa. Walau mereka juga sudah pada ngerti kalo sekarang lagi Ramadhan, kita nggak makan pas siang hari.

Dan mungkin yang paling menyedihkan mungkin adalah cita-cita ane keliatannya belum dikabulkan oleh Allah, yaitu mudik. Karena tiap tahun ane gak ada tempat mudik, soalnya ortu ane dua2nya dari surabaya, nenek ane pun rumahnya gak jauh dari rumah ane. Saudara ane pun hampir semuanya di suarabaya. Ane cuma bisa menyaksikan berita-berita di tv soal bagaimana ramainya arus mudik menjelang ramadhan. Ruwet, tapi kelitannya asik sekali. Bisa melepas kerinduan bersama keluarga pas lebaran. Ane baru bisa pulang beberapa minggu abis lebaran. Jadi mungkin ane dkk nanti akan bertakbir di sini. Di tengah2 masyarakat yang jauh dari hidayah Allah. Ane cuma bisa memahami bahwa setiap sesuatu itu adalah dalam skenario Allah. Dan perjalanan hidup ane senantiasa mengajarkan bahwa Allah akan senantiasa memberi yang terbaik. Pasti dan pasti yang terbaik bagi kita. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Dan ane berharap semoga madrasah ramadhan tahun ini bisa memberi bekal yang lebih baik bagi perjalanan hidup ane di tahun mandatang. Insya Allah.

Categories: Uncategorized