Begitu banyak hal yang berbeda dari apa yang saya rasakan saat lebaran di sini, di Korsel. Ada cerita suka maupun kondisi yang cukup membuat saya agak bersedih. Namun atas semua hal yang saya dapatkan selama ini, saya sangatlah bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Tahun ini adalah kali pertama saya tidak lebaran bersama keluarga di rumah, yang biasanya setelah shalat Ied di masjid dekat rumah, biasanya saya langsung sungkem ke kedua orang tua, setelah itu kami sekeluarga biasanya keliling kampung untuk sekedar mengunjungi tetangga-tetangga sekitar. Siang atau sorenya dilanjutkan menuju ke rumah saudara-saudara, atau saudara-saudara itu yang berkunjung ke rumah. Itu berlangsung sampai sekitar beberapa hari setelah lebaran. Meski demikian, alhamdulillah ternyata ada nuansa lain yang saya dapatkan ketika tidak di tengah-tengah keluarga saat lebaran kemarin di negeri gingseng ini.
Malam lebaran kemarin, saya dan teman-teman yang senasib, meski dengan peralatan seadanya, alahamdulillah kami masih bisa mengagungkan asma Allah dengan melakukan takbir sendiri. Hal yang sangat kontras, mengingat biasanya kalau malam lebaran dari lingkungan sekitar kita di Indo pasti terdengar sayup-sayup pekik takbir dari masjid-masjid, musholla, dll. Tapi kemarin kami seperti sendiri bertakbir, bertasbih, bertahmid sendiri di tengah-tengah komunitas yang jauh dari Tuhannya, namun semua itu tidak menyurutkan semangat untuk terus bertakbir meski nggak sampai semalaman. Pagi harinya pukul 8, kami baru berangkat menggunakan bis yang disediakan perusahaan yang mengantar saya dkk ke masjid di daerah Itaewon, di kota Seoul, ibukota Korsel. Kami berangkat agak siang, soalnya memang dari pihak perusahaan baru bisa mengantarkan pukul segitu. Lagian di masjid yang kita tuju sholat Ied baru dilaksanakan pukul 10.30, cukup siang bila dibandingkan di tanah air yang biasa dilakukan pukul 6-7 pagi. Hal ini dilakukan untuk menunggu jamaah yang berdatangan dari kota lain, menginat masjid di negeri ini bisa dihitung jumlahnya. Alhasil, sholat pun baru bisa dilaksanakan sesiang itu. Subhanallah, jamaah yang hadir berasal dari berbagai etnis. Namun rata2 mereka kebanyakan dari etnis hidung mancung seperti pakistan, bangladesh, arab, dsb. “Kayak di Mekkah ya?”, begitu komentar salah seorang teman saya. Namun ada juga yang dari Indo kayak kita, dari orang korsel sendiri juga nggak sedikit, baik yang laki maupun perempuan. Terlihat juga pasangan blasteran antara pria timteng dengan wanita korsel, barangkali hal ini memang juga dilakukan sebagai sarana untuk memperluas dakwah di sini, dengan menikahi wanita asli korsel. Ada juga orang negro yang sholat di masjid situ juga. Dan ternyata orang negro itu kulitnya benar2 hitam, bukan coklat tua seperti yang saya kira selama ini. ‘Ala kulli hal, innamal mukminuuna ikhwah, semua mukmin adalah bersaudara, apapun suku bangsa dan warna kulit seta bahasanya, semuanya sama dan disatukan dengan aqidah yang sama. Yang membedakan hanyalah keimanan dan ketaqwaannya.
Selapas shalat Ied, inilah yang sangat berbeda dari kebiasaan kita di tanah air pada umumnya. Dimana kalau selepas shalat Ied paling banter kita hanya salam-salaman sambil mengucap kata maaf. Tapi di sini, karena kebanyakan adalah etnis timteng dimana mereka terbiasa dengan berpelukan maka mereka pun melakukannya selepas shalat Ied. Sambil bersalaman dan berpelukan mereka mengucap Happy Ied Mubarak dan saling mengucap kata maaf, sehingga tak ayal hal itu mempengaruhi teman-teman untuk melakukan hal yang serupa, sesuatu yang lain yng mungkin belum pernah kita lakukan selama di tanah sendiri. Sambil bersalaman dan berpelukan kita saling mengucap maaf atas segala apa yang pernah terjadi selama ini. Dan dengan harapan tahun depan akan lebih baik dari tahun ini. Indah sekali.
Saya memang patut bersyukur, meski tidak dapat berkumpul bersama keluarga saat lebaran kemarin, namun dengan adanya teman-teman saya hal itu cukup menghibur mengingat kita memiliki nasib yang sama. Kita bisa saling menghibur satu sama lain. Setidaknya masih beruntung, dibandingkan dengan saudara-saudara yang tertimpa musibah saat menjelang lebaran kemarin. Ada yang kebakaran, terkena gempa bumi, atau mereka yang tidak dapat berkumpul dengan keluarga meeka karena memang sudah tidak memliki keluarga lagi. Atau bila mengingat saudara kita di Palestin, Irak, dll. Maka patutlah saya bersyukur atas apa yang telah saya nikmati selama ini. “Fabiayyi ‘alaa irobbikuma tukalliba”, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?