achdaf weblog

Entries from June 2005

Just Do It Now

June 28, 2005 · 2 Comments

Kemarin malam, saat makan di tempat yang biasa saya kunjungi buat makan, alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan kakak kelas saya yang sudah lama saya tidak bertemu, walaupun secara letak tempat anatara kami cukup dekat, namun apa dikata, ternyata selama setahun saya tinggal di bekasi ini saya belum sempat, atau lebih tepatnya belum menyempatkan diri buat bersilaturrahim dengannya. Padahal di tempat beliaulah saya menginap saat tes kerja sebelum saya diterima di tempat kerja yang sekarang. Saat saya datang ke sini, saya sempat berjanji untuk berkunjung ke kosnya. Namun apa dikata, sampai saat ini saya pun senantiasa menunda-nunda untuk berkunjung ke kosnya, sampai akhirnya Allah mempertemukan kami malam itu.

Dan yang paling membuat saya malu adalah apa yang beliau katakan pada saya, “Dulu katanya mau main ke rumah?”. Rupanya beliau masih ingat akan janji saya itu. Dan rupanya sudah banyak perkembangan yang terjadi pada beliau, salah satunya adalah beliau sudah menikah, bahkan istrinya sudah hampir melahirkan. Alhamdulillah, barakallah mas.

Saat itu, saya mendapat pelajaran berharga yang senantiasa diulang-ulang terus menerus, yakni agar kita tidak menunda pekerjaan. Alias janganlah kita menunda pekerjaan yang bisa kita kerjakan sekarang. Yang kalo di tempat saya bekerja ada slogan, “Pekerjaan hari ini, kerjakan hari ini. Pekerjaan sekarang, kerjakan sekarang”. Karena bila kita menunda suatu pekerjaan, maka pada suatu saat pekerjaan kita akan menumpuk sehingga kita akan kelabakan dan hasilnya pun bisa diperkirakan tidak akan maksimal. Karena Asy-Syahid Hasan Al-Banna sendiri berpesan, bahwa kewajiban kita sesungguhnya akan lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Ayo saudaraku, lakukan perkerjaanmu sekarang juga, dan jangan tunda lagi!

Categories: Uncategorized

Jagalah Perasaan Saudaramu !

June 25, 2005 · 1 Comment

Salah satu pesan terakhir yang disampaikan oleh almarhum Ust. Rahmat Abdullah adalah agar kita senantiasa menjaga perasaan saudara kita, karena bisa jadi itu tidak berpengaruh saat ini, tetapi bisa jadi hal itu berpengaruh lima atau sepuluh tahun lagi. Apa makna pesan syaikh yang berilmu namun tawadhu itu? Bila kita mencoba merenung sedikit lebih jauh, maka insya Alah kita akan menemukan jawabannya. Kalau kita mengamati para anggota dewan yang sering kali dicap tidak memiliki sense of crisis, terkait dengan gaya hidup mereka yang bermewah-mewahan, sementara rakyat yang diwakilinya banyak yang kelaparan. Atau bagaimana perasaan para warga ibukota yang tinggal di emperan took, di kolong-kolong jembatan, atau masih terngiang di kepala kita bagaimana seorang bapak yang karena ia tidak memiliki cukup uang sehingga ia terpaksa harus membawa anaknya yang sudah tiada dengan menggunakan krl untuk menguburkannya? Sementara ada orang yang lalu lalang di jalan-jalan ibu kota menggunakan mobil berharga ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah. Saya tidak hendak menyalahkan mereka yang bisa dikatakan menikmati jerih payah mereka selama ini atas segala kerja kerasnya. Apalagi kalau semua kemewahan yang ia dapatkan dicari dengan cara yang halal, tidak dengan KKN yang merampas hak orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan. Tidak, karena mereka memang berhak menikmatinya. Tetapi sebagai manusia yang memiliki perasaan, yang karena kita memiliki perasaan itulah kita disebut manusia, sehingga kita bisa mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, atau yang disebut empati, dimanakah perasaan kita itu? Bagaimana kalau roda kehidupan dibalik sehingga kita menjadi mereka dan mereka menjadi kita? Apa yang kita rasakan?

Ada rasa yang kurang enak di hati saya manakala saya menggunakan hp yang harganya hampir sama dengan gaji bulanan yang diterima oleh sahabat saya yang memiliki istri dan 2 orang anak sementara saya masih bujangan. Sehingga saya seringkali menyembunyikan hp yang saya miliki kalau sedang menerima telepon atau sms ketika di depan sahabat saya itu. Boleh saya kita mengatakan, “Ah, cuek saja, ini kan hasil kerja saya, dan dapat dari jalan yang halal”. Boleh saja kita mengatakan itu, tapi sekali lagi bagaimana kita merasakan apa yang dirasakan saudara kita itu? Bisa jadi dalam hatinya berfikir, “Uang segitu daripada dibelikan hp, bisa dipake buat menghidupi istri dan anak saya, malah masih bisa menabung”. Karena itu, memang benar apa yang dipesankan oleh baginda Rasulullah kepada kita agar kalau memasak, perbanyaklah kuahnya, dan bagikan kepada tetangga kita, semata-mata untuk menjaga hubungan baik dan perasaan tetangga kita, agar tak cuma mendapat baunya saja, sementara tetangga kita sedang kelaparan. Wallahu ‘alam bishowab.

Categories: Uncategorized