Entries from July 2005
Tadi malam dalam pertemuan mingguan dengan rekan-rekan saya,salah seorang rekan saya menyampaikan tentang kondisi salah satu binaannya yang dirundung masalah. Suatu masalah yang terus terang saya sendiri agak malas untuk membahasnya, karena masalah ini semakin dibahas maka akan semakin berlarut-larut. Ia menceritakan keinginan binaannya untuk segera menikah. Namun ternyata setelah ditelusuri lebih lanjut, keinginan itu dilandasi oleh aktivitasnya yang ia lakukan selama ini dengan yang saya yakin ia melakukannya dengan sadardan ia sadar bahwa ia tidak layak melakukannya dengan alas an apapun. Singkat kata, selama ini ia pacaran. Ya, seorang ikhwan aktivis dakwah bahkan seorang qiyadah di suatu lembaga amal dakwah berpacaran dengan seorang akhwat yang aktivis dakwah juga. Barangkali karena ia merasa sudah tak tahan lagi sehinga ia berencana menikah. Hal serupa juga juga pernah terjadi pada beberapa teman saya, ada diantara mereka yang akhirnya bisa diputus, namun ada juga yang akhirnya menikah.
Cerita seperti ini barangkali cerita basi dan sudah muncul sejak adanya istilah virus VMJ alias virus merah jambu yang bisa jadi ia lebih ganas dibandingkan virus flu burung yang lagi ramai dibicarakan saat ini. Karena virus ini tidak membunuh sesesorang secara fisik, namun ia menghancurkan sebuah amal kebaikan serta mengkibatkan kehancuran dan kekalahan lantaran kemaksiatan yang dilakukan oleh mereka yang mengaku penyeru kebaikan. Seperti halnya pesan dari khalifah Umar kapada para prajuritnya sebelum berperang bahwa sebenarnya yang ia takutkan bukanlah jumlah musuh yang banyak, persenjataan musuh yang lebih lengkap, atau jumlah kaum mukmin yang lebih sedikit dengan persenjataan yang lebih minim pula, namun yang ia takutkan adalah kemaksiatan yang kita lakukan. Mengingat perjuangan yang dilakukan adalah perjuangan menegakkan dien Islam, memperjuangkan agama Allah, yang kemenangan itu amat sangat ditentukan oleh pertolongan Allah, dan pertolongan Allah itu akan muncul apabila kita dekat denganNya. Kalau kita banyak bermaksiat kepada Allah, maka bagaimana mungkin kita dekat dengan Allah? Kalau kita jauh dari Allah, bagaimana mungkin pertolongan itu bisa datang kepada kita? Apalagi Allah telah memberi peringatan kepada orang-orang yang tidak melaksanakan apa yang ia katakana dengan adzabNya yang luar biasa.
Apa yang dialami oleh binaan rekan saya tadi bukanlah sesuatu yang luar biasa, kalau dilihat dari kacamata psikologis bahwa masa-masa umur 20-an adalah masa dimana darah mengalir dengan derasnya dan ketertarikan kepada lawan jenis mengalami masa-masa puncaknya. Namun ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap biasa mengingat yang mengalaminya adalah mereka yang diharapkan menjadi generasi pengganti di masa depan yang ia harus benar-benar kuat menahan godaan dan nafsu duniawi yang tidak pada tempat penyalurannya. Kalau saat ini saja dengan godaan seperti itu saja nggak kuat, bagaimana dengan bila suatu saat nanti ia mendapat tantangan dan godaan yang lebih hebat dari yang saat ini ia alami. Kalau dahulu para muassis dakwah terutama di kampus dengan segala keikhlasannya berjuang, kegigihannya dan pemahaman yang luar biasa akan makna tarbiyah, dan tidak mengenal apa itu vmj, cbsa, cinlok dsb hasil perjuangan mereka bisa kita lihat saat ini. Dakwah di kampus pun berkembang pesat luar biasa. Bagaimana dengan kondisi saat ini? Kiranya ini menjadi perhatian kita bersama khususnya para adk untuk mengevaluasi lebih mendalam mengapa kampus sekarang terasa mengalami kemunduran dibanding dulu. Wallahu’alam bishowab.
Categories: Uncategorized
Kemarin, saya menerima 2 buah email dari milis yang kalau diamati lebih dalam memunculkan sebuah fenomena yang barangkali memang sesuatu yang umum, tapi sekaligus ini adalah sebuah cerminan bangsa ini. Keduanya berlatar belakang dunia yang sama, dunia pendidikan. Email pertama kisah tentang Fifi, seorang anak SMP kelas 2 di kota saya, bekasi, yang tewas bunuh diri. Ini adalah untuk kesekian kalinya seorang anak yang masih sangat belia harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Ia diduga mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak lazim itu lantaran tak tahan karena harus menanggung malu tak mampu membayar sekolah selama sekian bulan. Di sisi yang lain ia seringkali juga menerima cemoohan dari teman-temannya dengan mengejek ia sebagai anak tukang bubur. Email yang kedua yakni data tentang biaya pendidikan di universitas negeri paling terkemuka di negeri ini, Universitas Indonesia. Di data tersebut disebutkan bahwa SPP persemesternya sebesar 1,225-1,475 juta, tergantung fakultas yang akan ia tuju. Namun yang bikin hati saya miris adalah uang pangkalnya, disitu disebutkan bahwa fakultas2 favorit seperti FK, FKG, FT, dan Fasilkom mengenakan biaya 25 juta !!! Kalau saya harus menabung setahun untuk bisa sampai duit segitu. Sedangkan fakultas yang lain beragam mulai 5 dan 10 juta. Semula saya menduga kalau biaya setinggi itu dikenakan untuk mahasiswa jalur khusus alias ekstensi, namun setelah saya baca lebih detil ternyata itu adalah untuk jalur reguler alias mereka yang masuk lewat jalur SPMB! Meski disitu disebutkan kalau yang tidak mampu tidak usah takut dan bisa mengajukan keringanan biaya, namun saya agak pesimis tentang kebijakan itu. Dalam bayangan saya, maka akan terlihat siapa-siapa saja yang akan bisa masuk UI nantinya.
Dua berita itu memiriskan hati saya. Bagaimana tidak, yang satu terpaksa bunuh diri karena tidak sanggup membayar SPP yang kalau gak salah mencapai 300 ribu, sementara di sisi yang lain biaya pendidikan di PTN semakin mahal. Terus mana dana kompensasi BBM yang katanya untuk pendidikan murah bahkan gratis itu? Kemana anak negeri melanjutkan studinya kalau potensi yang besar itu terhambat gara-gara biaya yang mahal. Barangkali ini permasalahan klasik, namun kalau tidak diperbaiki mulai sekarang, maka apakah kita bisa memastikan negeri yang bernama Indonesia ini masih eksis 10-20 tahun lagi di peta dunia. Bagaimana wajah negeri di masa depan ini kalau generasi sekarang saja sudah busung lapar dan tak berpendidikan, apa jadinya mereka 30 tahun lagi tatkala mereka menggantikan estafet kepemimpinan generasi yang sekarang yang sudah hancur ini?
Namun yang juga bikin saya miris adalah, mengapa begitu mudahnya mereka memberi solusi atas permasalahan mereka dengan bunuh diri? Begitu rapuhnya mental mereka untuk mengatasi permasalahan yang ada dengan solusi seperti itu? Yang saya yakin bila keimanan mereka cukup lewat bimbingan sekolah dan keluarganya insya Allah jalan ceritanya akan lain. Dan juga, bagaimana bisa rekan2 sekolahnya mengejeknya hanya karena dia adalah anak seorang tukang bubur, yang bisa jadi lebih mulia menjadi tukang bubur yang mendapat rezeki dengan cara yang halal dibandingkan (mungkin) orang tua mereka yang kaya namun hartanya dari KKN??? Wallahu’alam bishowab. Yang jelas perlu banyak PR bagi kita yang telah terserahkan dan beruntung ini untuk menyiapkan generasi mendatang, sebelum terlambat dan yang tinggal hanya penyesalan.
Categories: Uncategorized
Sederhana, ternyata suatu yang mudah diucapkan, tapi sesungguhnya sangatlah sulit untuk dilakukan. Berlaku sederhana mungkin akan sangatlah mudah kita lakukan, saat kondisi kita memang menuntut kita untuk berlaku sederhana. Sehingga dalam hal ini, sulit dikatakan dia berlaku sederhana manakala secara ekonomi penghasilan dia memang pas-pasan, pengeluarannya maksimal sama dengan pemasukannya, atau bahkan mungkin lebih kecil. Namun lain halnya kalo kondisinya tidak demikian, namun disinilah kita diuji, apakah kita mampu untuk berlaku sederhana saat segala sesuatu mampu kita beli, kemewahan dapat dengan mudah kita raih. Karenanya, diperlukan kekuatan mental dan pemahaman dalam diri kita agar senantiasa berlaku sederhana, terlebih saat kita mampu bermewah-mewahan. Allah menguji diri kita tidak hanya dengan kesusahan, tetapi seringkali Allah juga menguji kita dengan harta yang melimpah, kemudahan, kelapangan rizki yang ternyata bila kita tidak mampu mensyukuri dengan sebenarnya bisa menyebabkan kita terpeleset ke jurang kenistaan.
Categories: Uncategorized
Negeri Indonesia memang negeri yang aneh, unik, dan banyak hal yang luar biasa yang barangkali tidak masuk akal atau kita mengira hanya terjadi di negeri dongeng, namun ternyata hal itu benar-benar terjadi di negeri yang kaya namun rakyatnya miskin ini. Akhir-akhir ini kalau kita termasuk yang rajin mengikuti berita di stasiun tv, maka hampir tiap hari kita akan menemui berita tentang tragedi kemanusian yang saya sendiri kadang tak kuasa melihat, tragedi busung lapar, suatu penyakit atau kondisi kesehatan seseorang yang mengalami kekurangan gizi yang amat sangat. Hal ini banyak dialami oleh anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan yang tentu saja membutuhkan gizi yang cukup, namun karena kemiskinan yang luar biasa sehingga dia tidak mendapatkan supply gizi yang sebagaimana mestinya, akhirnya bisa diduga, tubuhnya tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Badannya lemas dan layu, berat badannya sangat tidak sesuai dengan usia dia seharusnya. Secara fisik kita bisa melihat kondisi tubuhnya yang kurus kerontang, perut yang buncit, dan badan yang sulit digerakkan. Kadang saya tidak percaya kalau ini benar-benar terjadi di Indonesia, mengingat saya mengira pemandangan seperti ini hanya terjadi di negeri-negeri afrika seperti eithopia yang memang miskin, namun ternyata ini benar-benar terjadi di negeriku, Indonesia!
Di saat yang lain, dalam suatu tayangan di televisi swasta, ada suatu pemandangan yang sangat-sangat kontras. Suatu liputan tentang acara kumpul-kumpul yang diadakan oleh para pemilik mobil Ferrari. Ya, sekali lagi, FERRARI! Dimana mereka berkumpul di suatu tempat sambil membawa mobil mereka masing-masing yang saya yakin harganya bukan lagi dalam nominal ratusan juta, tapi saya yakin seyakin-yakinnya mobil itu pasti harganya milyaran rupiah. Setelah berkumpul mereka berkonvoi dari Jakarta ke Bandung sambil memamerkan ke rakyat Indonesia, dan sepanjang jalan pasti juga disaksikan oleh para pejalan kaki, anak SD, para pemulung yang seringkali kebingungan untuk makan esok hari. Sementara mereka menggunakan uang milyaran rupiah itu hanya untuk sebuah mobil!
Itulah Indonesiaku. Sebuah negeri yang suangat kaya, namun rakyatnya banyak yang kelaparan. Negeri yang kaya minyak, namun sering mengalami krisis BBM, dan harganya pun mahal. Negeri yang rakyatnya mengalami busung lapar, namun di jalan-jalan ibukota bersliweran mobil built up yang harganya selangit tujuh , jaguar, Ferrari, Mercedez Benz, BMW, etc. Negeri yang wakil rakyatnya minta dilayani, bukan melayani. Duh negeriku! Ada apa denganmu?
Categories: Uncategorized