achdaf weblog

Entries from August 2005

Mahasuci Allah yang menutup aib hamba-Nya

August 26, 2005 · 6 Comments

Mahasuci Allah yang senantiasa menutup aib hamba-Nya
Yang kalau Dia yang menutupnya, maka manusia sejagat pun takkan mampu membukanya
Namun kalau Dia membukanya, maka sebanyak apapun makhluk yang berusaha menutupnya, maka mereka takkan mampu

Mahasuci Rabb yang Maha Mengetahui
Dia menutup aib diri kita, sehingga bila orang lain mengetahuinya, kita pasti malu dibuatnya
Manusia boleh saja memberi seribu gelar kebaikan pada diri kita
Namun kalau kita berkaca pada diri kita sendiri, yang sangat mengenal diri kita, kita pasti malu mendapat gelar itu
Gelar yang diberikan manusia, hanyalah menurut kacamata manusia
Kacamata manusia takkan mampu melihat hakikat sebenarnya

Manusia yang berakhlak binatang, namun bisa mendapat pujian setinggi langit manusia
Menusia yang berhati mutiara, namun bisa jadi manusia lain mengacuhkannya
Hati orang siapa yang tahu
Mutiara pun bila di dalam comberan tetaplah mutiara, meski manusia lain tak menganggapnya

Subhanallah
Mahasuci Engkau Ya Allah karena Engkau masih menutup aib kami
Sehingga sampai detik ini hanya kami yang mempu mengetahui aib kami
Ampunilah kami atas kedzaliman yang kami lakukan pada diri kami sendiri
Kiranya Engkau masih memberi kami waktu untuk bertobat

Categories: Uncategorized

Ayat-Ayat Cinta

August 19, 2005 · 4 Comments

Membaca novel? Sebelumnya tidak terlintas pun di kepala saya bahwa saya akan membaca sebuah novel. Suatu ketika saya agak heran dengan seorang teman saya yang suka sekali membaca novel, terutama novel-novel keluaran pengarang luar negeri. Terus terang saja, saya bukanlah seorang penggemar karangan sastra, cerita, apalagi sebuah novel. Terakhir saya membaca karangan cerita adalah ketika masih kuliah sekitar semester 6-an, itupun dari majalah Annida yang kadang-kadang ceritanya agak-agak terlalu melayang di atas langit, kurang membumi. Namun beberapa waktu yang lalu, ketika jalan-jalan ke Pesta Buku Jakarta, teman saya menyarankan sebuah novel, Ayat-Ayat Cinta judulnya. Dia bilang kalau novel itu sangat bagus sekali, namun karena kantong sudah terkuras banyak, saya urungkan membelinya.Dan beberapa hari yang lalu, ketika jalan-jalan ke Gramed, karena gak menemukan buku yang pas, akhirnya ketemu juga sama buku itu. Untuk melepas rasa penasaran, saya putuskan juga membelinya. Dan ternyata hasilnya, luar biasa! Dalam kurang dari 3 hari, saya selesaikan juga novel setebal sekitar 400 halaman itu. Sebelumnya, saya nggak pernah membaca buku setebal itu dalam waktu yang sesingkat itu. Pengarangnya mampu memainkan emosi saya dan membuat penasaran untuk segera membaca bab demi bab yang ada di dalamnya.

Novel ini adalah novel yang pertama kali saya baca, dan komentar para pujangga sastra yang ada di cover belakang novel itu tak salah memang. Sebuah novel cinta sekaligus novel religi. Sepenggal kisah kehidupan dan cinta pemuda desa benama Fahri di negeri seribu pyramid, Mesir. Kisah seorang anak bangsa Indonesia yang dengan idealisme kehidupannya mencoba meraih cita dan asa untuk menjadi seorang yang kaya, bukan kaya harta, tapi ilmu, yang kelak dapat memuliakan diri, keluarga dan bangsanya. Seorang dengan visi hidup yang terarah, memetakan jalan kehidupannya dari hari ke hari, dan tahun ke tahun. “Seseorang yang memiliki tujuan akan mencapai kemajuan dalam hidupnya, sekalipun jalan yang ditempuh sangatlah sulit. Namun orang tanpa tujuan yang jelas takkan mengalami kemajuan dalam hidupnya sekalipun jalan yang ia lalui sangatlah mulus dan mudah”, adalah sepenggal nasihat kehidupan yang melekat dalam ingatan saya dari novel itu. Dengan segala keterbatasan materi ia mampu hidup di negeri asing yang cukup “kejam” dengan budaya yang sangat berbeda dengan asal ia dilahirkan. Keteguhan prinsip membawanya menjadi manusia yang tidak meu untuk tunduk pada kondisi selama ada ruang untuk ikhtiar di dalamnya. Lelaki yang cukup tegas, namun memiliki sisi romantis yang luar biasa. Ghadul bashar mampu ia lakukan, namun tak menghalangi ia untuk berbuat lembut dengan ikhlas pada sosok wanita. Meskipun agak klise, namun banyak hikmah di dalamnya. Proses pernikahannya yang hanya mengharapkan barokah dari Rabb-nya, menjadikan ia mendapatkan segalanya dari empat kriteria seorang wanita yang layak dinikahi. Pertimbangan agama, manjadikan ia mendapat kecantikan, kekayaan, serta nasab yang baik dari seorang wanita benama Aisha. Dan ia menuju proses pernikahan tanpa proses pacaran serta hal-hal lain yang menjurus kepada zina.

Novel cinta yang melibatkan seorang Fahri yang asli Jawa dengan Aisha yang berdarah Palestine-Jerman-Turki, Nurul yang asli Indonesia, Maria yang seorang Kristen Koptik Mesir yang hafal Surah Maryam, serta Noura seorang mahasiswi Al-Azhar. Dimana keempat wanita itu memendam cinta pada lelaki yang sama. Disinilah letak salah satu hikmahnya bagi seorang wanita, bahwa ia bisa seperti Bunda Khadijah yang mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk menyampaikan rasa cintanya pada Sayyidina Muhammad. Dan tidak harus seorang lelaki yang memulainya. Namun pelajaran itu hanya dilakukan oleh Aisha, dan akhirnya ia “memenangkan” seorang Fahri. Sedangkan penyesalan dialami oleh Nurul, Maria, dan Noura. Walaupun akhirnya Nurul mendapatkan pengganti, sedangkan Maria karena keikhlasan seorang Aisha besedia menjadi madu. Yang malang adalah Noura, yang karena cintanya yang buta harus memfitnah sendiri kekasihnya, layaknya sebuah sinetron cinta. Selebihnya novel ini juga menggambarkan indahnya pacaran sesudah menikah dengan berbagai barakah di dalamnya. Serta bagaimana kesetiaan dan kekuatan cinta suami pada istrinya dan sebaliknya. Tentu saja cinta karena Allah. Bisa kita rasakan bagaimana qowwamnya seorang suami saat istrinya lemah jiwanya, dan bagaimana berpengaruhnya istri yang shalihat yang bisa menjaga kita saat kondisi iman sedang mengalami degradasi. Cinta memang luar biasa kekuatannya, asalkan kita mampu menempatkannya pada ruang hati yang benar.

Categories: Uncategorized

Nikmat-Nya itu … Subhanallah

August 15, 2005 · 3 Comments

Bila merenungi perjalanan hidup saya, tak henti-hentinya saya ucapkan syukur yang tak terkira pada Pencipta alam semesta ini. meski saya sadar, bahwa syukur yang saya haturkan takkan mampu mengimbangi apa yang sudah dianugerahkan-Nya kepada saya. Tahap demi tahap kehidupan kurasakan senantiasa tanpa mengalami kendala yang berarti, begitu banyak kemudahan yang diberikan-Nya. Rasa syukur yang seharusnya diiringi dengan peningkatan ibadah kepada-nya, masih saja tak mampu kulakukan. Seringkali ada ketakutan tatkala saya tak kuat untuk menerima suatu cobaan nantinya, mengingat keimanan seseorang peningkatannya itu akan senantiasa diiringi dengan ujian darinya.

Teringat saat saya menjalani ujian Ebtanas SD, yang saya harus melakukannya di saat saya belum saatnya melakukannya, ternyata alhamdulillah atas pertolongan-Nya lagi saya dapat melaluinya dengan sukses. Ataupun saat melakoni masa-masa SMP, semuanya berada di luar dugaan ana. Pun SMU, meski prestasi yang sifatnya persemester tak seindah masa-masa SD-SMP, namu di tempat inilah saya mendapat lebih dari dari yang saya bayangkan, mendapat tarbiyah yang mampu merubah cara pandang saya terhadap hidup ini, serta dapt menutup masa-masa yang kata orang paling indah itu dengan kenangan manis yang tak hanya membuat ana tersenyum, namun juga yang penting adalah senyum dari kedua orang yang paling saya cintai di dunia, orang tua saya. Sekalipun terseoek-seok di papan menengah ke bawah selama masa kompetisi, namun akhirnya saya bisa juga meraih scudetto di akhir musim kompetisi. Tak sampai di situ saja, sekitar sebulan setelahnya, datanglah berita yang sangat menggembirakan seluruh keluarga kami, saya diterima di PTN paling ternama di kota saya, dan barangkali saya adalah orang pertama di daerah saya yang bisa masuk PTN itu, sungguh anugerah Allah yang luar biasa. Dan kenikmatan lainnya yang susah bagi saya untuk menuliskannya di sini. Hingga takdir Allah membawa saya hijrah mengais rezeki di daerah barat tanah Jawa ini.

Berbagai kisah kenikmatan dan anugerah yang diberikan selama kehidupan saya sangatlah sulit untuk dihitung. Mungkin saya hanya mengingat oeristiwa-peristiwa besar berupa kenikmatan, namun seringkali melupakan kemudahan dan kenikmatan yang sepele namun sesungguhnya luar biasa besarnya. Nikmat berupa badan yang masih utuh sehat wal afiat, nikmat kesehatan, waktu luang, dan yang lebih penting adalah nikmat berupa iman dan islam.

Kiranya Allah Yang Maha Menggenggam Hati kita senantia menjaga kita agar tetap istiqomah di jalan-Nya. Di saat kita diberi ujian berupa kebaikan maupun keburukan. “Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan …”, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?. “Yaa muqollibal quluub, tsabbit quluubanaa ‘alaa diinik”, Wahai Yang Maha Membolakbalikkan hati, mantapkanlah kami dalam agama-Mu.

Categories: Uncategorized