Membaca novel? Sebelumnya tidak terlintas pun di kepala saya bahwa saya akan membaca sebuah novel. Suatu ketika saya agak heran dengan seorang teman saya yang suka sekali membaca novel, terutama novel-novel keluaran pengarang luar negeri. Terus terang saja, saya bukanlah seorang penggemar karangan sastra, cerita, apalagi sebuah novel. Terakhir saya membaca karangan cerita adalah ketika masih kuliah sekitar semester 6-an, itupun dari majalah Annida yang kadang-kadang ceritanya agak-agak terlalu melayang di atas langit, kurang membumi. Namun beberapa waktu yang lalu, ketika jalan-jalan ke Pesta Buku Jakarta, teman saya menyarankan sebuah novel, Ayat-Ayat Cinta judulnya. Dia bilang kalau novel itu sangat bagus sekali, namun karena kantong sudah terkuras banyak, saya urungkan membelinya.Dan beberapa hari yang lalu, ketika jalan-jalan ke Gramed, karena gak menemukan buku yang pas, akhirnya ketemu juga sama buku itu. Untuk melepas rasa penasaran, saya putuskan juga membelinya. Dan ternyata hasilnya, luar biasa! Dalam kurang dari 3 hari, saya selesaikan juga novel setebal sekitar 400 halaman itu. Sebelumnya, saya nggak pernah membaca buku setebal itu dalam waktu yang sesingkat itu. Pengarangnya mampu memainkan emosi saya dan membuat penasaran untuk segera membaca bab demi bab yang ada di dalamnya.
Novel ini adalah novel yang pertama kali saya baca, dan komentar para pujangga sastra yang ada di cover belakang novel itu tak salah memang. Sebuah novel cinta sekaligus novel religi. Sepenggal kisah kehidupan dan cinta pemuda desa benama Fahri di negeri seribu pyramid, Mesir. Kisah seorang anak bangsa Indonesia yang dengan idealisme kehidupannya mencoba meraih cita dan asa untuk menjadi seorang yang kaya, bukan kaya harta, tapi ilmu, yang kelak dapat memuliakan diri, keluarga dan bangsanya. Seorang dengan visi hidup yang terarah, memetakan jalan kehidupannya dari hari ke hari, dan tahun ke tahun. “Seseorang yang memiliki tujuan akan mencapai kemajuan dalam hidupnya, sekalipun jalan yang ditempuh sangatlah sulit. Namun orang tanpa tujuan yang jelas takkan mengalami kemajuan dalam hidupnya sekalipun jalan yang ia lalui sangatlah mulus dan mudah”, adalah sepenggal nasihat kehidupan yang melekat dalam ingatan saya dari novel itu. Dengan segala keterbatasan materi ia mampu hidup di negeri asing yang cukup “kejam” dengan budaya yang sangat berbeda dengan asal ia dilahirkan. Keteguhan prinsip membawanya menjadi manusia yang tidak meu untuk tunduk pada kondisi selama ada ruang untuk ikhtiar di dalamnya. Lelaki yang cukup tegas, namun memiliki sisi romantis yang luar biasa. Ghadul bashar mampu ia lakukan, namun tak menghalangi ia untuk berbuat lembut dengan ikhlas pada sosok wanita. Meskipun agak klise, namun banyak hikmah di dalamnya. Proses pernikahannya yang hanya mengharapkan barokah dari Rabb-nya, menjadikan ia mendapatkan segalanya dari empat kriteria seorang wanita yang layak dinikahi. Pertimbangan agama, manjadikan ia mendapat kecantikan, kekayaan, serta nasab yang baik dari seorang wanita benama Aisha. Dan ia menuju proses pernikahan tanpa proses pacaran serta hal-hal lain yang menjurus kepada zina.
Novel cinta yang melibatkan seorang Fahri yang asli Jawa dengan Aisha yang berdarah Palestine-Jerman-Turki, Nurul yang asli Indonesia, Maria yang seorang Kristen Koptik Mesir yang hafal Surah Maryam, serta Noura seorang mahasiswi Al-Azhar. Dimana keempat wanita itu memendam cinta pada lelaki yang sama. Disinilah letak salah satu hikmahnya bagi seorang wanita, bahwa ia bisa seperti Bunda Khadijah yang mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk menyampaikan rasa cintanya pada Sayyidina Muhammad. Dan tidak harus seorang lelaki yang memulainya. Namun pelajaran itu hanya dilakukan oleh Aisha, dan akhirnya ia “memenangkan” seorang Fahri. Sedangkan penyesalan dialami oleh Nurul, Maria, dan Noura. Walaupun akhirnya Nurul mendapatkan pengganti, sedangkan Maria karena keikhlasan seorang Aisha besedia menjadi madu. Yang malang adalah Noura, yang karena cintanya yang buta harus memfitnah sendiri kekasihnya, layaknya sebuah sinetron cinta. Selebihnya novel ini juga menggambarkan indahnya pacaran sesudah menikah dengan berbagai barakah di dalamnya. Serta bagaimana kesetiaan dan kekuatan cinta suami pada istrinya dan sebaliknya. Tentu saja cinta karena Allah. Bisa kita rasakan bagaimana qowwamnya seorang suami saat istrinya lemah jiwanya, dan bagaimana berpengaruhnya istri yang shalihat yang bisa menjaga kita saat kondisi iman sedang mengalami degradasi. Cinta memang luar biasa kekuatannya, asalkan kita mampu menempatkannya pada ruang hati yang benar.