Entries from September 2005
September 30, 2005 · 1 Comment
Met datang lagi ke Korea.
Semoga krasan aja ya, bersyukurlah karena banyak orang yang tidak diberi kesempatan serupa.
Meski harus nggak mudik lagi pas lebaran.
Intinya … nikmati saja … dan bersyukurlah !!!
Banyak yang saya suka di sini, kebersihan, kerapian, ketertiban, suatu yang sangat sulit saya temukan di tanah air. Namun ada juga hal yang tidak saya sukai di sini, apalagi kalo bukan makanan. Masalahnya bukan terletak pada like and dislike, tapi pad status kehalalannya itu loh, suangat sulit sekali menemukan makanan yang bebas babi atau dikenal dengan twejigogi di sini. Satu hal lagi, di sini tidak akan terdengar adzan sehari 5 kali, wong masjid aja satu kota lom tentu ada kok.
Alhamdulillah, kemaren ahad langsung jalan2, meski baru kerja seninnya.
Lom kerja, jalan-jalannya diduluin
. Insya ALlah 3 bulan nggak kerasa kok.
Sekali lagi, syukuri saja.
“Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan”, Maka nimat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Oh ya, bentar lagi Ramadhan, dan ini adalah Ramadhan saya yang kedua di sini, berharap gak ada yang ketiga, kecuali ada yang nemenin
. Kalau dulu di kampus ada yang namanya RDK singkatan dari Ramadhan Di Kampus, nah sekarang ini RDK juga, cuman kepanjangannya Ramadhan Di Korea. Btw, anywhere you are, jadikan Ramadhan ini benar-benar berkah. Tak lupa saya minta maaf ssebesar-besarnya jikalau ada khilaf dalam kata dan perbuatan.
Categories: Uncategorized
September 21, 2005 · 1 Comment
Harusnya kalau orang mau berangkat ke luar negeri normalnya ia akan senang kan, namun entah mengapa kok hal itu tidak terjadi, ato bahkan saya kurang begitu gembira mendengar hal itu. Ya, sore ini barusan dikonfirmasi terakhir bahwa saya dan rekan2 kerja insya Allah akan berangkat lagi ke korea selatan untuk project yang telah diberikan perusahaan tempat kami bekerja. Dan seperti biasa, kami akan di sana sekitar 3 bulan, dan itu artinya kami akan menjalani bulan puasa dan lebaran di sana. Terus terang bagi saya hal ini cukup berat, meskipun dari beberapa sudut pandang materi ada sejumlah keuntungan yang bisa saya dapatkan, seperti halnya setahun yang lalu saya berangkat juga ke negeri gingseng itu untuk masa 3 bulan lamanya juga.
Salah satu yang bikin saya agak berat untuk berangkat tahun ini adalah yakni untuk kedua kalinya saya tidak bisa merasakan indahnya suasana Ramadhan dan lebaran di kampung halaman tercinta, Surabaya, my beloved city, dan juga Bekasi, rumah kedua saya selama lebih dari setahun terakhir. Kalau tidak pulkam ke Surabaya tapi masih di tanah air Indoensia sih lumayan, tapi ini di negeri orang yang komunitas muslimnya suangat sedikit sekali. Mesjid pun tidak semua kota ada. Tidak ada siaran sahur2 yang menemani saat sahur sebagaimana tahun2 sebelumnya, atau betapa gembiranya lingkungan sekitar ketika akan menjelang magrib, suara orang tadarrus quran dari mesjid ketika mereka selesai menunaikan shalat tarawih. Dan yang lebih menyedihkan, tidak ada kumandang takbir yang bersahut-sahutan saat malam takbir lebaran. Suasana itu sanagt saya rindu-rindukan. Silaturrahim sepulang dari menunaikan shalat Ied, berkunjung ke saudara2. Ahhh … what a beautiful moment isn’t? Dan juga, tidak ada lagi pecel ayam, sayur asam, rawon, soto, serta sate kambing yang biasa saya santap setiap akhir pekan bersama teman2 satu kos. Tidak cuma itu saja, keberangkatan saya yang kedua ini berarti masa penahanan ijasah saya di tempat saya bekerja berarti akan menambah masa ikatan dinas yang ada, dan pasti akan menambah konsekwensi materi bila saya harus resign sebelum waktu kontrak habis. Mungkin akan lain halnya kalau saya akan berangkat ke luar itu dalam rangka melanjutkan kuliah yang sejak dulu saya idam-idamkan untuk bisa melanjutkan di luar negeri. Sebuah cita yang saat ini terus terang saya belum terlalu serius mempersiapkannya. Dan yang lebih penting lagi, target saya untuk segera melangkahkan kaki ke tahap kehidupan yang berikutnya harus saya pending dahulu.
Btw, segala sesuatu akan terasa menyiksa bila kita tidak mengambil sisi positifnya. Alangkah baiknya kita mereduksi sisi negatifnya dengan menambah sisi positif yang nambah, dengan senantiasa menmbah kesyukuran akan nikmat yang diberikan-Nya kepada kita selama ini. Betapa banyak orang di luar sana yang masih pengangguran, betapa banyak yang punya cita ke luar negeri tapi masih belum kesampain. Ah, memang manusia itu mudah mengeluh, dan setan laknatullah akan senantiasa memanfaatkan sisi kelemahan kita untuk diserang agar menjauh dari-Nya. Hidup ini akan indah bagaimanapun berat kondisinya bila kita senantiasa positif thinking dan bersyukur dan bersabar atas apa yang ia dapatkan, sebaliknya ia akan menjadi dunia yang menyiksa laksana neraka dunia bila hati kita sempit, jauh dari kesyukuran, sekalipun dunia bergelimang di tangannya. Karena ciri orang beriman itu akan senantiasa bersyukur dan bersabar atas dirinya bagaimanapun kondisinya, karena ia yakin itulah yang terbaik yang diberikan Allah padanya.
“Rabbanaa dzalamna anfusana faillam taghfirlanaa lanakuunanna minalkhasirin”
Categories: Uncategorized
September 17, 2005 · 6 Comments
Barangkali agak terlambat untuk menulis di blog ini, karena hari kelahiran saya sudah lewat beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 12 kemarin. Namun apa salahnya sebagai momentum bahan instrospeksi. Mengingat kita seharusnya tidak menunggu setahun untuk lalu melakukan instrospeksi setiap saat atas apa yang sudah kita jalani di dunia ini. Ya, tepat tanggal 12 kemarin adalah hari lahir saya yang ke 25, alias seperempat abad (wah, udah tua ya?), namun apalah yang sudah saya lakukan selama itu di dunia ini. Dunia yang serba banyak tipuannya. Dunia yang penuh dengan ketidakkekalan, yang fana, rusak. Dunia yang kalau kita tak pernah melakukan perenungan mendalam akan arti hidup ini niscaya kita akan menganggapnya segalanya. Sebenarnya ada banyak rencana akan kehidupan saya kelak, yang kalau saya melihat kebelakang sebagai bahan instropeksi, ada banyak di antaranya yang sesuai dengan rencana saya, namun tidak sedikit yang meleset dari perkiraan, namun saya yakin bahwasanya itu semua adalah atas kehendak Allah semata, semua pasti sudah dalam rencananya. Dan rencanaya itu seringkali lebih baik dari apa yang saya perkirakan sebelumnya.
Hidup ini akan bermakna, bila kita bisa mengambil maknanya yang benar. Hidup ini akan indah, bila kita menjadikan apa yang kita jalani kita ukir dengan pahatan yang indah pula. Hidup ini akan nikmat bila kita senantias mensyukuri nikmat-Nya. Sebaliknya, ia akan menjadi neraka bila kita hanya sering kali mengeluh dan tak pernah merenung akan segala kenikmatan yang diberikan Allah pada kita. Tak perlu takut menghadapi tantangan hidup ke depan, karena setiap fase kehidupan telah ditentukkan-Nya dengan rencana terbaik-Nya, tinggal kita berusaha untuk mendapatkan terbaik itu. Selama itu masih dalam jangkauan akal sehat, tak akan ada cita-cita yang tak mungkin mustahil kita raih, asal kita mau berusaha meraihnya dengan usaha sepenuhnya dan yakin akan kekuasaan-Nya untuk memberi yang terbaik bagi kita.
Oh ya, pas tanggal 12 kemaren kakak adik saya serta beberapa teman nyampein selamat ultah. Saya ucapin terima kasih atas ucapan dan doanya. Ulang tahun bukanlah bertambahnya umur, tetapi ibarat voucher ponsel, bertambahnya umur berarti masa aktifnya sudah semakin berkurang, sehingga ia pun semakin dekat dengan kematian. Bedanya dengan voucher ponsel tentu saja ia umur kita tak kita ketahui masa aktifnya sampai kapan, dan kit apun takkan bisa membeli voucher isi ulangnya bukan ? Sekarang yang penting adalah bagaimana membuat hidup ini dengan lebih bermakna, bermanfaat bagi diri dan ummat, menuntaskan sejumlah rencana yang tertunda dan senantiasa berharap dan yakin bahwa Allah Azza wa Jalla kan memberi yang terbaik bagi kita. Amien.
Categories: Uncategorized
September 6, 2005 · 1 Comment
Beberapa minggu ini ada sejumlah sahabat yang telah menggenapkan separuh dien-Nya.
Meski tak semua bisa dikunjungi, namun do’a senantiasa teriring kepada meraka semua.
Mereka adalah :
- LM Jelani (Lombok) dan Istri (saya lom tau nama dan asalnya ( ) – 17 Agustus
- Ervan Fauzan (Bekasi) dan Supriyani (Kebumen) – 28 Agustus
- Ruddy Wisnu Wardana dan Nuria (dua2nya Surabaya) – 3 September
- Alfan Khusaeri (Surabaya) dan Ari Puji Astuti (Tulungagung) – 11 September
- Nugroho Fredivianus (Surabaya) dan Mira Meilinda (Tegal) – 16 September
Barokallohu laka wabaroka ‘alayka wajama’a baynakuma fii khoir
“Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua (pengantin laki-laki dan perempuan) dalam kebaikan.”
Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi umat. (Doa nabi Muhammad SAW pada pernikahan putrinya Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib)
Giliran saya kapan ya ? Semoga Allah memudahkan setiap niat kebaikan. Insya Allah !
Categories: Uncategorized