achdaf weblog

Entries from October 2005

Taqabbalallahu Minna Waminkum

October 30, 2005 · Leave a Comment

Seiring kumandang takbir, tahlil, dan tahmid
Tanda kembali kepada kesucian fitrah manusia
Saat Rembulan Ramadhan tenggelam diganti dengan Fajar 1 Syawal
Semoga kemenangan hakiki benar-benar kan kita raih
Terlahir kembali sebagai manusia baru
Menempuh hidup baru di masa mendatang
Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita

Taqabbalallahu minna waminkum
Kullu ‘amin wa antum bikhoir
Minal ‘aidzin wal faidzin

Mohon maaf atas segala khilaf kata dan perbuatan
Kiranya hati yang ikhlas kan membawa kita pada ridho-Nya

achdaf
2 kali puasa, 2 kali lebaran at the same place

Categories: Uncategorized

Universitas Kehidupan

October 30, 2005 · 6 Comments


Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah Guru
Jika setiap tempat adalah sekolah, maka setiap adalah saat Belajar
Jika setiap orang adalah Guru, maka hormatilah dan ambillah pelajaran dari setiap orang yang ada di sekelilingmu, siapapun ia, apapun pendidikannya

Kata-kata penuh bijak di atas saya ambil dari title blognya Pak Bayu Gawtama , dengan sedikit panambahan dari saya sendiri, kata-kata yang sederhana itu begitu dalam maknanya. Terus terang saya sendiri masih belum tahu maksud dari kata-kata itu dari Pak Gaw, cuman kata yang sederhana itu cukup menjelaskan apa sesungguhnya yang ingin disampaikan. Dan ternyata semuanya itu rupanya cukup jelas dari apa yang beliau tulis selama ini.

Terus terang, kata-kata itu sangat mendalam artinya bagi saya sendiri. Bagaimana tidak, betapa sering kita melewatkan setiap episode dalam kehidupan kita tanpa tahu arti dan maknanya. Waktu berlalu tanpa sebuah pembelajaran arti sebuah kehidupan. Yang kalau kita mau sedikit merenung, niscaya kan membuat kita menangis sejadi-jadinya, atau tertawa sekencang-kencangnya atas apa yang telah terjadi pada diri kita. Tidak jarang karena kesombongan dan perasaan tinggi hati dari diri kita membuat kita merasa memandang orang lain tidak ada apa-apanya dibanding kita. Hanya karena mungkin pendidikannya jauh lebih rendah dari kita, ibadahnya tidak ada apa-apanya dibanding kita, fisiknya, umurnya, kemampuan berbicaranya, dll yang itu hanya menurut ukuran dan keterbatasan pengetahuan kita semata. Sehingga kita menganggap orang itu remeh dan tak ada sesuatu yang berharga yang bisa kita ambil darinya. Kita mengukur menurut ukuran manusia yang subjektif, materialis dan terbatas. Padahal kalau kita berpikir mendalam, sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia ini dalam kondisi yang sempurna. Sehingga apabila Allah sengaja menggurangi suatu sisi keadaan dari manusia ini pasti Ia akan melebihkan sisi yang lainnya yang tidak diberikan kepada manusia normal. Sehingga apabila kita melihat suatu potensi kekurangan pada diri seseorang, seharusnya kita yakin pasti ada suatu sisi kelebihan yang tidak dimiliki orang lain yang kita tidak melihatnya saat itu.

Maka tak seharusnya lah kita berbangga dengan apa yang kita miliki saat ini lalu dengan sombong meremehkan orang lain, apalagi kalau kita pahami bersama bahwa sombong adalah salah satu sifat iblis laknatullah yang membuatnya diusir Allah dari surga. Maka dari itu selayaknya kita memandang penting setiap orang disekitar kita. Tawadhu tidak akan membuat seseorang dihina dan dianggap rendah orang lain, bahkan karena ketawadhu-an lah seseorang akan ditinggikan orang lain. Dengan pamahaman seperti itu insya Allah kita akan dapat lebih memahami hidup, lebih mensyukuri atas apa yang kita peroleh saat ini. Sudah saatnya lah kita belajar dari setiap orang untuk selalu belajar di sekolah kehidupan ini, anytime, anywhere, whatever they are. Agar kelak kita lulus menjadi Sarjana, Master, atau Doktor bahkan Profesor Kehidupan. Dan itu dapat kita raih hanya dengan bersekolah Universitas Kehidupan, yang kampusnya di atas bumi di bawah langit, yang dosennya adalah setiap orang disekitar kita, dan ujiannya bisa setiap hari, dan wisudanya pun bisa kapan saja, saat kita kembali pada-Nya.

Di hari2 terakhir menjelang tenggelamnya rembulan Ramadhan
Berharap dapat belajar dari setiap orang

Categories: Uncategorized

Indahnya Kebersamaan

October 27, 2005 · 1 Comment

“Teman adalah anugerah dari Tuhan yang dianugerahkan kepadamu, maka rawatlah ia sebaik-baiknya”

Manusia adalah makhluk sosial, dimana ia selalu membutuhkan orang lain dalam mengisi hidupnya. Setidaknya itulah yang diajarkan oleh guru PMP saya sewaktu masih SD. Takkan ada seorangpun manusia yang mampu hidup sendiri, ia senantiasa membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya kira takkan ada manusiapun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya sendiri mulai dari makan, pakaian, dll. Kebersamaan kita bersama saudara, keluarga dan kerabat dapat menjadikan hidup kita lebih berarti. Itulah indahnya sebuah kebersamaan.

Karena kebersamaanlah yang membuat segala kesulitan serta kekurangnyamanan (kalau tidak bisa disebut tidak betah:) kami selama di “pengungsian” ini bisa sedikit terhibur oleh kehadiran teman-teman yang senantiasa menemani. Segala keadaan kita tanggung bersama, keterbatasan pun kita carikan solusinya. Ketidakhadiran keluarga dan orang terdekat masih bisa tergantikan oleh rekan—rekan yang membantu mengisi hari-hari yang cukup penat oleh pekerjaan dan kesendirian. Karena kehadiran rekan dan saudara kira mempunyai pengganti keluarga yang nun jauh di negeri sana. Canda tawa kita bagi bersama-sama untuk sebagai hiburan dalam hati yang kadang memuncak kerinduan untuk berkumpul bersama keluarga tercinta. Konflik menjadi bumbu penyedap bagi sebuah hidangan senyum dan tawa dalam sebuah harmoni keluarga. Rasa senasib dan sepenanggungan membuat kita tidak egois dalam berpikir dan bersikap. Dan semuanya menjadi sebuah pelajaran kehidupan agar mampu lebih dewasa dalam menjalani hidup. Perasaan bahwa masih ada saudara kita di sini, menjadi kunci bagi kita agar tetap survive dalam segala cuaca kehidupan. Tenggang rasa, empati, belajar untuk lebih mengenal dan memahami saudara kita benar2 teruji di sini. Mengelola emosi agar tidak mudah terpancing oleh kelakuan saudara kita harus dijalani. Bagaimana memperluas hati kita terhadap segala kelakukan saudara kita mutlak dilakukan. Dan kita pun harus belajar bagaimana menempatkan diri dan bersikap terhadap orang lain. Mengingat kelakukan yang sama bisa berbeda penafsiran untuk orang yang berbeda. Bahkan kelakuan yang sama untuk orang yang sama pun bisa dipahami berbeda bila sikonnya berbeda pula. Dengan interaksi yang hamper selama 24 jam kita bisa lebih mengenal bagaiman sih si A itu, apa sih kesukaan si B, dsb. Dengan keadaan yang ada kita belajar untuk tidak egois, hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga belajar apa akibat tindakan kita terhadap orang lain. Bukanlah suatu masalah yang cukup besar bila tindak tanduk kita (emang manusia punya tanduk?:) hanya berefek pada diri kita probadi, namun kalau kesalahan seorang berakibat pada terugikannya saudara kita yang lain bagaimana dong?

Hidup di sini dibutuhkan suatu kreativitas, agar tidak jenuh. Bagaimana tidak, tiap hari rutinitasnya pagi masuk kerja jam 8, pulang balik ke kisuksa (asrama) sekitar jam 9.30 malam, lalu istirahat, besoknya seperti itu mulai hari senin sampai jumat bahkan sabtu atau ahad. Hiburan cuman tv atau internet. TV pun masya Allah, acaranya kalau nggak bahasa korea semua, ya film yang bisa ngerusak ibadah Ramadhan. Sehingga kreativitas itu pulalah yang menjadikan saya dan rekan-rekan membuat beragam upaya untuk tidak sekedar belajar ataupun bekerja di sini. Apalagi selama bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Dan alhamdulillah, beberapa program sudah terlaksana, meski dengan berbagai kekurangan. Setidaknya acara shalat tarawih berjamaah kami lakukan setiap harinya. Meski kadang dengan satu atau dua shaf jamaah shalat, yang penting tetap istiqomah sampai Ramadhan berakhir. Apalagi kemarin pas malam ahad rekan-rekan berinisiatif untuk membuat forum kajian bersama yang berharap ini bisa terus berlanjut tiap minggunya sampai akhir ramadhan nanti. Tema keislaman kita angkat agar ada saling menasehati dalam kebaikan, dan kita pun berjalan bersama dalam mendekatkan diri padanya. Yang lebih dulu tahu dan paham masalah keislaman bisa memberitahu yang kurang paham, dan sebaliknya, kita pun berdiskusi panjang lebar masalah ini dan itu. Kita pun bisa lebih memahami bagaimana sih saudara kita itu pemikirannya. Sehingga ada pengaruh keimanan bagi kita semua selama di negeri yang nama Allah jarang disebut ini. Berharap kebersamaan ini lebih meningkatkan ketaqwaan kita pada Sang Khalik, lebih mengenal (ta’aruf) dan memahami (tafahum) terhadap kondisi saudara kita. Semoga Allah kan menguatkan ukhuwah di antara kita.

Categories: Uncategorized

Muhassabah diri

October 22, 2005 · Leave a Comment

“Orang kaya adalah orang yang bisa mensyukuri dan menikmati apa yang dia dapat,
terus jangan hanya berpikir apa yang akan kita dapat tapi berpikirlah tentang apa yang sudah kita beri….”

Itulah nasehat berharga dari seorang teman saya yang mengirimkan email pada hari ini. Singkat, padat, dan langsung pada intinya. Memang, kalau kita senantiasa menghitung apa yang kita miliki dan membandingkan dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, maka niscaya kita takkan pernah bersyukur atas apa yang kita dapatkan. Ibarat dalam suatu syair, “Apa yang ada, jarang disyukuri, apa yang tiada, sering dirisaukan”, kita seringkali berandai-andai terhadap apa yang belum dimiliki saat ini, namun seringkali kita lupa bahwa kita tela memiliki banyak hal dari apa yang sudah dianugerahkan Allah kepada kita. Kita seringkali mengeluh atas kondisi kita saat ini, kok gini, kok gitu, namun jarang sekali kita berucap syukur dan lupa bahwa apa yang kita miliki ini jauh-jauh di atas yang dimiliki orang lain.

Lupakah kita, bahwa kadang kita sendiri tidak pernah membayangkan akan berada dalam kondisi sebaik ini, yang kita sendiri barangkali dulu tidak meminta kepada Allah seperti ini? Dan ternyata Allah memberi rizki lebih dari apa yang kita bayangkan. Lebih dari apa yang kita minta. Terus, layakkah kita mengeluh atas kelebihan dari yang kita minta? Akankah kita seperti sebuah peribahasa jawa, “Dike’i ati ngrogoh rempelo”, alias dikasih hati (daging) masih minta jerohan? Padahal, sekali lagi, apa yang kita dapatkan saat ini jauh dari apa yang kita bayangkan dan kita minta sebelumnya.

Tabiat manusia memang senantiasa tidak puas terhadap dunia. Bila ia memiliki satu lembah emas, maka ia bakal menginginkan satu lembah emas lagi, demikian seterusnya hingga tanah 2×1 meter diberikan padanya.

Bermuhasabah dapat membuat diri kita sejenak merenungi apa yang sudah kita lakukan selama ini. Sudahkan kita berada pada rel-Nya yang benar? Sudah memang benarkah apa yang kita yakini sebagai suatu kebenaran selama ini? Barangkali karena tipu daya syetan yang menyesatkan sehingga kita merasa bahwa yang kita lakukan sudah pada jalur-Nya, namun ternyata syetan telah mengelabui kita dengan tipu dayanya yang luar biasa sehingga tanpa terasa kita terseret menjadi hamba syetan. Naudzubillamindzaalik.

Syukur dan sabar adalah ciri orang yang beriman. 2 buah sifat yang mungkin terasa “sederhana” dan “mudah”, namun sesungguhnya sangat sulit dilakukan. Cobaan Allah tidak melulu berupa kesengsaraan atau kesulitan, namun bisa juga sebuah kemudahan atau nikmat yang banyak, namun ternyata banyak sekali manusia yang tidak lulus bila mendapat ujian berupa kenikmatan itu. Kenikmatan itu malah melenakannya dan menjauhkannya dari Sang Pemberi Nikmat, padahal sesungguhnya azab Allah bagi mereka yang kufur nikmat sangatlah pedih. Duh Gusti, mantapkanlah diri kami ini dalam dien-Mu, dan dalam ketaatan-Mu, dan jauhkanlah kami dari godaan syetan yang terkutuk. Ampunilah kami kalau seringkali lalai akan nikmat-Mu, ampunilah kami bila seringkali mengeluh akan pemberian-Mu, ampunilah kami bila nikmat yang Kau berikan padaku malah menjauhkanku pada-Mu.

Categories: Uncategorized

Alhamdulillah, Akhirnya bisa Jumatan di Masjid

October 15, 2005 · 1 Comment

Ya, untuk pertama kalinya setelah hampir sebulan jumatan “mandiri”, atas izin Allah saya teman2 bisa shalat jumat secara berjamaah di masjid, tepatnya di daerah Itaewon, Seoul. memang selama kami di sini tiap minggunya ngadain secara mandiri sholat jumat di musholla kecil yang biasa kami pakai untuk shalat setiap harinya. Secara bergiliran saya dkk jadi khotib, ya itung2 latihan jadi khotib lah, meski masih amatiran :) . Mengingat memang tidak ada masjid terdekat di kota ini, yang terdekat ya di Seoul itu, yang setidaknya membutuhkan waktu 90 menit untuk samapai di sana dengan memakai krl. Berangkat pukul 10.30, dan alhamdulillah nyampe sana sekitar 12.15, tidak terlambat mengingat shalat baru dimulai pul 13-an. Jumatan di sini disampaikan secara bilingual, alias 2 bahasa, pertama dalam bahasa korea, dan kedua dalam bahasa inggris. Dan selama di situ, saya menemukan kesejukan yang untuk beberapa lama tidak saya rasakan sebelumnya, nikmat dan tenangnya berada di rumah Allah, di tengah2 komunitas manusia yang sudah tak mengenal lagi Tuhannya. Berada di dalam masjid itu, serasa tak berada di Korea, namun lebih seperti berada di suatu negara timur tengah mengingat sebagian besar jamaahnya yang keturunan timur tengah dengan jambang lebat dan hidung mancungnya. Ahh … dahaga itu sedikit tersiram oleh kunjungan singkat itu. Pengennya sih bisa tarawih di situ, ya paling nggak kalau ada 1 teman yang mau nemenin lah, sekalian iktikaf yang tahun kemarin dah absen. I wish it’s will be Ramadhan yang berkah.
Image hosted by Photobucket.com Foto sebentar di depan masjid.

Categories: Uncategorized

Apalah arti puasa …

October 11, 2005 · 2 Comments

Apalah arti puasa kita …
Kalau hanya menahan lapar dan haus di siang hari
Apalah arti puasa kita …
Kalau hanya menggeser sarapan pagi 2-3 jam lebih awal, dan merangkap makan siang dan sore lebih malam
Apalah arti puasa kita …
Kalau mata ini masih memandang yang tidak seharusnya
Apalah arti puasa kita …
Kalau yang keluar dari mulut hanyalah kata tanpa makna, ghibah, atau malah maksiat pada-Nya
Apalah arti puasa kita …
Kalau telinga ini mendengar suara yang hanya menjauhkan diri dari dzikir pada-Nya
Apalah arti puasa kita …
Kalau kaki melangkah bukan pada masjid malah tempat sampah
Apalah arti puasa kita …
Kalau tangan dipergunakan tak sebagimana mestinya
Apalah arti puasa kita …
Kalau pikiran melayang entah kemana
Apalah arti puasa kita …
Kalau orang lain terganggu dengan sikap kita
Apalah arti puasa kita …
Kalau mulut tertutup tanpa senyum pada saudara seiman dan kering dari dzikir-Nya
Apalah arti puasa kita …
Kalau tak ada yang berubah sedikitpun dari kita setelah selesainya
Apalah arti puasa kita …
Kalau diri ini lebih buruk dari sebelumnya
Apalah arti puasa kita …
Kalau tak ada kebaikan yang keluar dari diri kita

Betapa banyak orang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan haus …
Semoga diri ini bisa menghindarinya

Categories: Uncategorized

Empati

October 9, 2005 · 5 Comments

Salah satu pelajaran penting yang kita dapat dalam berpuasa adalah diharapkan adanya rasa empati di antar kita, terutama terhadap rasa lapar dan haus yang selama ini selalu dirasakan setiap hari oleh mereka2 yang kurang beruntung tanpa harus menunggu Ramadhan tiba. Saudara-saudara kita yang setiap kali selesai makan tak tahu kapan bisa makan lagi, saudara kita yang begitu menghargai arti sesuap nasi, mereka yang harus berjuang ekstra keras untuk bisa menikmati sebungkus nasi uduk yang bisa jadi dengan mudah kita mendapatkannya setiap hari. Karena seringkali kita begitu mudahnya membuang nasi yang tersisa dari makanan kita tanpa ada rasa menyesal bahwa itu adalah perbuatan yang mubadzir, atau begitu mudahnya kita mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah hanya demi sebuah gengsi untuk makan di restoran mewah.

Manusia cenderung akan sulit merasakan sesuatu kalau tidak langsung merasakannya. Sewaktu ada musibah tsunami di Aceh, barangkali nurani kita yang masih berhati akan merasa sedih yang mendalam melihat begitu banyak nyawa yang melayang dalam waktu sekejab, namun hal atu akan lebih terasa kalau kita menyaksikan langsung betapa dahsyatnya musibah itu, atau bahkan mungkin bisa jadi kita tidak akan sekuat mereka bila kita mengalaminya secara langsung. Rasa empati tidak sekedar tampilan kulit muka, sebagaimana ditampilkan oleh mereka yang menolong saudara kita yang tertimpa musibah namun ternyata hanya lipstik untuk mengejar popularitas belaka, namun ia timbul dalam hati yang tulus dan ikhlas untuk turut bisa merasakan apa yang dirasakan saudara kita tanpa kita secara langsung merasakannya. Dengan puasa diharapkan timbul rasa seperti itu. Namun apa jadinya kalau sewaktu puasa kita hanya merubah jam makan pagi kita jadi lebih awal dari sebelumnya dan jam makan siang/sore kita lebih malam dari sebelumnya? Ya barangkali rasa itu takkan terwujud. Kita seakan kurang menghargai makanan di hadapan kita, karena kita insya Allah hampir 100% yakin kita akan tetap bisa makan sahur dan buka setiap hari, siap di meja makan yang disediakan oleh ibu atau istri kita (yang dah punya tentunya:), atau bisa tinggal membeli di warung nasi terdekat, tanpa ada keraguan apakah kita tetap bisa makan nanti malam atau esok hari.

Namun ada yang lain yang saya rasakan selama puasa di perantauan ini, dimana kita tak mudah untuk mendapatkan makanan. Sebenarnya mendapat makanan sih mudah saja, namun kalau bicara makanan halal lain lagi ceritanya. Mungkin cuman 1% saja kita bisa mendapatkan makanan yang bebas twejigogi alias daging babi di sini, jadinya ya kita memang harus makan seadanya, yang penting ada nasi, lauknya ya seadanya, bisa mie instant, atau bahkan cuman dengan teri ataupun abon yang dibawa dari tanah air. Meskipun sekali lagi lain dengan apa yang dirasakan oleh saudara kita yang kurang beruntung, namun setidaknya saya bisa sedikit merasakan bagaimana kondisi saudara kita itu setiap kali mereka mendapat makan, pasti ia kan makan dengan lahapnya. Sedangkan kita, boro2 bersyukur, wong kadang doa pas makan aja seringkali lupa, itu pun kadang masih juga sering mengeluh. Saya jadi teringat sewaktu masih tinggal sama keluarga, setiap kali mau makan saya selalu bertanya kepada ibu saya, “Bu, lauknya apa?”, kalau oke, makan pun jadi lahap, kalau nggak ya selera makan jadi berkurang. Atau betapa seringkalinya saya mengeluh akan kondisi makanan di kantin tempat saya bekerja di Indo yang kurang menggugah selera makan, sehingga sering tidak habis dan akhirnya saya membuangnya begitu saja, padahal kalau diberikan kepdaa fakir miskin, pasti mereka akan mengucapkan beribu terima kasih. Walaupun itu harus dibedakan antara kesyukuran dengan tuntutan keadilan. Harus dibedakan antara rasa syukur dengan qona’ah dan tuntutan untuk berprestasi bukan? Kalau nggak bisa dibedakan ya kapan kita majunya, betul? Karena sesungguhnya perbuatan mubadzir itu adalah perbuatan syetan, isn’t right? Sekali lagi, tetaplah bersyukur, bagaimanapun kondisinya, pasti ada yang lebih buruk kondisinya dari kita, namun lebih bisa bersykur dari kita. Ya Rabb, ampunilah dosa hamba-Mu yang dzolim ini.

Categories: Uncategorized

Sajak-sajak Jelang Ramadhan

October 4, 2005 · Leave a Comment

Ramadhan
by Izzatul Islam

Tlah datang menjelang
Meluruhkan kerinduan
Ramadhan
Sambut, kehadapan

Bulan perjuangan tingkatkan iman
Pupuk pengorbanan suci
Bila kesungguhan bila keiklasan
Berbekal takwa untuk
kehidupan Ramadhan

Jadikan bulan suci cermin hati
Benahi hidup tuk Ilahi
Lepas belenggu dunia tuju ukhrowi
Sibak cakrawala imani
Puas membentang tak terhalang

Bulan suci cerminkan hati kan jelang
Arungi hidup masa datang
Rahmah ampunan cahaya abadi
Raih kebebasan abadi
Dari pedih azab kekekalan

Kesebaran diraih penuh pengorbanan
Nafsu tunduk patuh terkendali
Keredhoan bukanlah suatu kemudahan
Capai gelaran kehormatan
Ambang aroyan di hadapan

Bulan perjuangan tingkatkan iman
Pupuk pengorbanan suci
Bila kesungguhan bila keiklasan
Berbekal takwa untuk
Kehidupan Ramadhan

Ramadhan Ramadhan

Hindarkan kesiaan kata dan perbuatan
Tinggikan hari dengan kesibukan Robani
Janganlah sampai keluar dengan tanpa hampa
Tiada hasil kecuali lapar dahaga

Ingatlah diri sang junjungan di bulan Rohmah
Tegakkan malam bertabur dzikir dan tilawah
Cerah hari hari bercahayakan
Indah menyinar ketakwaan

Mulianya Ramadhan
by Raihan

Hari esok kita berpuasa
Setahun sekali hanya sebulan
Sempatkah kita menyempurnakan
Hingga sampai ke penghujungnya

Sebulan Ramadhan kita berpuasa
Menahan diri dari lapar dahaga
Menekan nafsu bermaharajalela
Melatih diri beramal sentiasa

Sepanjang Ramadhan
Syaitan dalam rantaian
Terbuka luas pintu kebaikan
Tanda rahmat kasih sayang Tuhan
Itulah kemuliaan di bulan Ramadhan

Solat Tarawih menjadi amalan
Meriahkan lagi keberkatan malam
Tadarus Al-Quran penambah seri
Tenangkan hati membersihkan diri

Paling istimewa di bulan Ramadhan
Berlakunya malam Lailatul Qadar

Turunlah malaikat meraikan semua
Menyambut amalan yang ikhlas di antara kita…

Sebulan sudah Ramadhan bersama
Tibalah syawal tanda kemenangan
Sempurnakah segala amalan
Adakah kita berjumpa semula
Di Ramadhan yang akan datang…

(taken from liriknasyid.com)

In the gate of my 2nd RDK, Ramadhan Di Korea 1426 H
Sekali lagi berharap kan lebih bermakna dari tahun sebelumnya.

Categories: Uncategorized

What’s the meaning of life?

October 4, 2005 · 2 Comments

Pernahkah kita sejenak berpikir tentang kehidupan ini? Siapa kita? Siapa saya? Trus, untuk apa saya ada? Apa yang harus saya lakukan dalam kehidupan ini? Apa yang ngin saya lakukan hari ini, besok, tahun depan, 5 tahun lagi, 10, atau 50 tahun lagi? Apa yang ingin saya raih di masa mendatang? Pertanyaan yang mudah barangkali, cukup sederhana, namun itu harus segera dijawab sekarang, karena kalau tidak bias jadi kita akan mengalami disorientasi dalam kehidupan ini. Waktu hanya akan mengalir begitu saja tanpa kita sadari, dan ternyata waktu telah berjalan hingga kita berada dalam penghujung kehidupan, namun kita akan kebingungan saya kita bertanya dalam diri, apa yang telah saya lakukan kemarin, setahun yang lalu, 10 tahun yang lalu? Kok kondisinya jadi seperti ini? Atau pernahkah kita berkomentar dalam diri kita pada saat ini, 밯ah, kok nggak kerasa ya hari ini dah kerja di sini setahun lebih, perasaan baru kemarin saya masuk kuliah, eh hari ini dah lulus sarjana dan dah kerja lebih dari setahun lagi? atau komentar2 serupa yang berujung pada kebingungan dalam diri dan ketercengangan kita bahwa hidup ternyata berjalan begitu cepat.

Seorang teman pernah berkata bahwa saat ini ia terus-menerus mencari pengalaman kerja meski dari satu tempat kerja ke tempat yang lain hanya bebekal pengalaman bulanan saja, yang akhirnya ia ingin dapat kerja di suatu perusahaan minyak yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kampung halamannya, jadi ia akan lebih mudah untuk pulkam nentinya. Atau teman yang lain berkomentar bahwa setelah saat ini ia sudah mengambil kredit rumah, selanjutnya ia tahun depan menikah, 3 tahun lagi punya mobil, dst yang saya tangkap bahwa orientasinya berujung pada materi saja, meski itu penangkapan pribadi, namun setidaknya itulah yang dapat saya tangkap saat ini.

Seringkali kita menemui buku tentang arti sukses, tentang biografi orang sukses, atau doktrin2 tentang kehidupan yang menurut saya itu bukanlah sesuatu yang mendasar. Atau dengan kata lain doktrin tentang bagaimana menjalani hidup sengan sukses, tentu saja menurut sang penulis. Sukses kalau kita jadi pengusaha, entrpeneur, memiliki kebebasan finansial, bukan menjadi buruh, bekerja pada orang lain, tapi bekerja untuk diri sendiri, dll. Yang menurut saya hal itu kok cenderung menyamaratakan bahwa seseorang sukses itu harus seperti ini, kalau nggak seperti itu ya nggak sukses. Atau ada sebagian orang yang terus-menerus mencari jati diri katanya sampai mati barangkali. Nah, kalau kita tidak memiliki konsep dan orientasi yang jelas dalam hidup ini, bias jadi kita akan menjadi orang seperti yang pada awal saya ungkapkan di atas, lupa akan waktu dan tanpa sadar lewat begitu saja. Atau kita memaksakan diri untuk menjadi sukses seperti orang lain padahal potensi atau kecenderungan bakat kita lain dengan orang lain. Atau berkutat dengan filsafat kehidupan yang kita sendiri takkan menemukan jawabannya.

Trus bagaimana dong? Bagi saya permasalahannya nggak begitu rumit sih. As a muslim, kita sudah memiliki konsep kehidupan dari Sang Khalik, bahwa hidup adalah untuk ibadah kepada-Nya, titik. Ada dua macam ibadah yang harus dilakukan, ibadah mahdah yang sudah jelas tidak perlu diperdebatkan lagi cara dan tuntunannya, kalau maih diotak-atik bisa2 malah sesat, sebab Allah tidak memberi ruang kreativitas di sini. Ibadah mahdah inipun gak macem2 kok kalau kita nggak macem2 juga. Sedangkan ibadah yang ghairu mahdah disinilah kita diperbolehkan berkreasi sepuas-puasnya, selama tidak melanggar batasan. Kita mau jadi pengusaha, buruh, bekerja untuk orang lain atau diri sendiri, PNS, petani, tukang jual es keliling, terserah, yang penting ada orientasi untuk ibadah dan tidak ada pelanggaran syariat. Inilah menurut saya yang cocok, walaupun nantinya kalau kita bicara tentang bagaimana pemakmuran masyarakat, proses menuju kehidupan yang lebih Islami itu akan memerlukan pembicaraan yang mendalam. Namun pad tingkat individu ya menurut saya seperti itu. Sehingga yang jadi pengusaha tidak memandang sinis yang masih menjadi buruh sebagai warga berderajat lebih rendah, atau nggak sukses dalam hidup. Sebab derajat ketakwaan nggak diukur dengan kamu jadi pengusaha atau nggak, bebas secara finansial atau nggak, meskipun Rasul sendiri mengatakan bahwa 9 dari 10 pintu rizki itu ada pada wirausaha, atau Rasul dan banyak para sahabatnya adalah seorang pengusaha juga.

Bagi saya, hidup mencari ridho Allah, kalau kita sulit mengukur apakah kita sudah mendapat ridho Allah atau nggak, parameternya cukup mudah. Karena ridho-Nya itu terletak pada ridho kedua ortu kita, nah tinggal kita berbuat sebaik-baiknya agar kita mendapat ridho kedua orang tua kita di dunia ini yang saya yakin seyakin yakinnya itu bisa membawa kita kepada ridho-Nya. Selain itu, sukses bagi saya adalah bisa menjadi pemimpin keluarga saya nantinya dengan baik, klisenya itu keluarga yang sakinah mawaddah warahmah lah, bisa sebagai surga di dunia ini. Sebab tidak sedikit kita menyaksikan seseorang yang kita pandang 뱒ukses?di dunia ini namun keluarganya sendiri berantakan. Karena keluarga inilah elemen masyarakat yang paling kecil, kemakmuran dan kebahagian masyarakat, bangsa dan negara dimulai dari lingkungan keluarga ini. Tidak sedikit kita menyaksikan bahwa mereka yang korupsi, berbuat mungkar yang karena dimulai dari berantakannya keluarga mereka. So, jangan remehkan keluarga, sukses itu dimulai di sini, dan akan lebih terasa di sini. Trus bagaimana dengan kontribusi kita terhadap masyarakat? Nah inilah yang harus kita garis bawahi juga, tapi minimal kita memang jangan sampai menjadi manusia makruh, paling nggak manusia mubah lah, lebih baik lagi kalau kita menjadi manusia sunnah yang kehadirannya bemanfaat, apalagi manusia wajib yang sangat dibutuhkan keberadaannya. Paling nggak kita ada kontribusi kepada masyarakat dimana kita hidup. Intinya itu, kontribusi, sejauh kita mampu. Tapi sekali lagi, don뭪 forget tour family. Dan jangan sampai kita punya musuh, karena teman seribu tak berarti bila punya musuh 1 orang saja. Jadi, berhati-hatilah dalam bergaul, mengingat hati orang sangat sulit ditebak, terlihat tidak aa apa2, namun sesungguhnya kita telah menusuk hatinya yang paling dalam. Terkait dengan kesuksesan itu juga, saya membuka berbagai peluang untuk menemukan jati diri saya, mengali semua potensi, tidak harus seperti ini dan itu, seperti dia atau mereka. Saya akan senantiasa mencari tempat yang terbaik bagi saya untuk mengembangkan diri, meningkatkan potensi diri. Hidup tidak boleh stagnan, jangan puas dengan kemapanan. Ia harus senantiasa mengalir layaknya air, seraya mengukir bebatuan. Itu akan terus dilakukan selama ada kenikmatan dan bisa enjoy melakukannya, bukan melah menyiksa diri sendiri dengan anggapan orang yang belum tentu benar. Masukan orang lain kadang perlu untuk instrospeksi, namun kadang cuek is the best. Sesuatu akan saya lakukan selama itu tidak melanggar syariat, dan saya bisa menikmatinya, perkataan orang lain mah ya nomor ke sekian lah, buat input saja.

Itulah gunanya instrospeksi diri, agar kita senantiasa bisa meluruskan jalan hidup kita yang tak terasa sudah melenceng, mengembalikan pada track yang benar. Tidak sesuka kita sendiri. Ya Rabb yang Maha Membolakbalikkan hati, kiranya Engkau senantiasa menuntun kami agar tetap berada di jalan-Mu.

Detik-detik menjelang Ramadhan, berharap pasca Ramadhan hidup ini lebih bermakna dari sebelumnya. Di tempat yang sama seperti tahun yang lalu, Pyungtaik city, South Korea

Categories: Uncategorized

@Itaewon 1 year ago

October 1, 2005 · 3 Comments

Di Itaewon setahun yang lalu. Ragil, Dani, Me, Momo, en Eka. Pas jalan kemaren sih dah ada, tp belum sempet upload :) Wah, jadi pengen ke sana lagi nih.

Categories: Uncategorized