Entries from November 2005
November 24, 2005 · 1 Comment
Dagelan panggung keadilan kembali dipertontonkan oleh para mereka yang seharusnya menjadi pengawal hukum, dan lagi-lagi menimpa mereka yang tak punya akses kekuasaan. Seringkali kita membaca di koran, maling-maling kelas teri pencuri ayam dan sekelasnya yang akhirnya harus mengalami nasib mengenaskan, dihajar ramai-ramai, dibakar, digelandang massa, dlsb. Sementara mereka-merka para penjahat kelas paus yang merugikan negara milyaran rupiah lewat praktik korupsinya bebas melenggang dan melanglang buana ke penjuru dunia.
Khairiansyah Salman yang memiliki andil besar dalam pengungkapan kausu korupsi di KPU adalah salah satu contoh teranyar betapa banyak pengadilan di negeri ini namun keadilan sangatlah sulit dicari. Penjeblos yang kejeblos, begitulah salah satu situs berita inline menyebut nasibnya. Ia diduga terlibat kasus dana abadi ummat (DAU) di Departemen Agama karena menerima uang “suap” 10 juta rupiah, ya “hanya” 10 juta rupiah. Jumlah yang mungkin relatif sangat sedikit bila dibandingkan kasus-kasus korupsi lainnya yang mencapai milyaran rupiah. Namun publik juga dibuat bingung dan heran menanggapi kasus Khairiansyah ini, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Diantaranya adalah kesan balas dendam, ataupun juga peringatan buat Khairiansyah dan mereka-mereka yang memiliki komitmen penegakan hukum agar tidak berani-berani dan lancang mengungkap kasus korupsi yang lebih besar, terutama yang mengenai mereka yang tengah berkuasa, kalau nggak mau bernasib seperti Khairiansyah. Istilahnya mereka mau bilang,”Nih, jangan macem-macem mau njeblosin saya ke meja hijau, entar saya bikin kamu terseret juga.” Dan bisa kita lihat juga, bagaimana akhirnya Khairiansyah mengalami nasib seperti itu. Bahkan kalau kita lihat, para aparat bertindak sangat cepat mengingat mangsanya kali ini adalah orang yang nggak punya beking kekuasaan. Mulai dari BRR yang menonaktifkannya, pencekalan dari imigrasi, dari kejagung, sementara mereka-mereka yang kecipratan dana DAU dengan nominal yang jauh-jauh lebih besar masih bisa menghirup udara bebas. Alhasil, banyak pihak yang mempertanyakan hal ini. Indikasi balas dendam, ketidakadilan para aparat dalam pengungkapan kasus ini mengingat hanya orang tertentu saja yang dikorbankan terus mencuat. Memang kita tidak hendak membela orang terntentu saja dalam pengungkapan kasus korupsi, sekecil apapun jumlahnya. Bahkan sekalipun uang itu hanya berjumlah ribuan rupiah, namun yang namnya pencurian, korupsi, mengambil hak negara atau orang lain, kecil ataupun besar, tetaplah sebuah tindakan pencurian dan harus diproses secara hukum. namun apa jadinya bila proses pengadilan itu ternyata tidak menunjukkan sebuah komitmen penegakan keadilan dan hanya menjadi lipstik pemuas publik belaka bahwa aparat telah melaksanakan tugasnya?
Kita berharap memang negeri yang sama-sama kita cintai yang kita lahir, hidup, dan mati di dalamnya dapat mengalami perubahan yang sebenarnya. Tidak sekedar mimpi di siang bolong akan sebuah perbaikan di masa mendatang. “Kenyataan hari ini bisa jadi suatu mimpi di hari yang lalu, sedang mimpi hari ini insya Allah akan menjadi kenyataan di masa mendatang”, begitulah Hasan Al-Banna mengungkapkan.
Categories: Uncategorized
November 14, 2005 · 1 Comment
Sekedar obat rindu buat ibuku nun jauh di sana, semoga ku dapat ridhomu, sebagai jalan menuju ridho-Nya
Ibu
by Iwan Fals
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….
Bu, maafkan aku atas dosaku selama ini,
semoga ku takkan pernah mengecewakanmu,
semoga ku dapat menjadi anak yang kau banggakan,
semoga hanya senyuman saat kau ingat aku,
dan semoga hanya wajah kebahagian yang dapat kuberikan padamu.
Categories: Uncategorized
Untuk ke sekian kalinya saya ganti skin lagi, dan terhitung ini adalah kali yang keempat semenjak aktif nge-blog lagi, dan kembali pake templatenya blogger. Soalnya yang kemaren pas pake template dari blogskin sebenarnya simple en cute, tp kok terlalu kecil en bikin saya agak males baca juga. Akhirnya balik lagi deh ke tamplate-nya blogger, dan saya pilih yang simple aja desainnya. Terus terang saya nggak terlalu ngoyo buat ngedesain blog saya ini, soalnya memang target saya buat ngeblog adalah nulis, sedang untuk otak-atik seputar dunia web saya curahin buat nggarap amanah web saya yang agak terlantar juga (astaghfirullah). Ya, yang penting semoga tujuan saya buat ngeblog ini tercapai, en tulisan saya bisa berguna, setidaknya untuk diri saya sendiri. Mengingat apa yang saya tulis lebih kepada pengalaman pribadi tentang hidup saya dan hidup ini. Semoga asumsi saya bahwa saya ngeblog karena saya kurang kerjaan bisa saya buktikan kalo itu salah!
Categories: Uncategorized
“Yang paling perih dari kesendirian …
bukan ketika kita menangis tersedu
dan tidak ada orang disamping kita,
melainkan ketika kita tertawa bahagia
tetapi tidak ada yang dapat kita ajak untuk
berbagi…”
— taken from “cinta silver” on the movie
Sendiri memanglah tidak pernah mengenakkan. Apalagi jauh dari negeri sendiri, namun itu bukan berarti alasan bagi kita untuk senantiasa larut dalam kesedihan. Harus ada usaha dari kita sendiri agar senantiasa memiliki semangat hidup bagaimanapun kondisinya. Hidup ini kan terus berjalan dan waktu takkan kembali ke masa lampau. Ia kan meninggalkan orang-orang yang bermimpi tanpa ada usaha untuk merubah mimpinya menjadi kenyataan. Hidup di perantauan memang tak semudah yang saya bayangkan, apalagi di negeri orang yang sangat jauh perbedaan budaya, bahasa, tata karma, terlebih lagi agama.
Momentum Lebaran yang menjadi tradisi di negeri kita untuk mudik ke kampong berkumpul bersama saudara dan keluarga untuk berbagi tawa dan canda menyemarakkan hari raya tuk kali keduanya selama berturut-turut tak saya rasakan sebagimana tahun kemarin keadaanya serupa. Padahal sewaktu saya ingin mendapat kerja di luar kampong halaman biar bisa mudik, namun cita tuk dapat kerja di luar kampung alhamdulillah dikabulkan-Nya, namun Yang Maha Memberi Riski belum memberi saya untuk bisa merasakan bagaimana indahnya mudik, namun saya yakin ini adalah cara Ia tuk mendidik saya agar bisa menikmati dan mensyukuri hidup ini, toh tak banyak orang mendapatkan kesmpatan seperti saya. Dan tak sidikit mungkin yang menginginkan serupa. Maka alangkah nistanya kalau saya tidak mensyukuri apa yang saya dapatkan saat ini. “Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan… Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”.
Ketiadaan saudara dan keluarga tuk berbagi tawa bukanlah alasan tuk tak berbagi tawa dengan yang lain. Karena masih ada saudara dan rekan kita yang ternyata telah siap menggantikan keluarga kita tuk sama-sama berbagi tawa, dan itulah yang coba kami lakukan. Rasa senasib membuat kita sama-sama berbagi tawa, bercanda dan bercengkerama di Hari Raya. Rasa sedih sedikit terhibur dengan canda tawa yang mengiringi saat-saat kita berkumpul. Senyum manis mengembang dan humor segar yang keluar dari para rekan dan sahabt menjadi hiburan tersendiri. Pelukan hangat di saat selepas shalat Ied yang kami lakukan sendiri bak hujan semenit yang mengguyur musim kemarau yang melanda. Gemetar bibir dan isakan tangis saat mengucap takbir mendekatkan diri kan kebesaran-Nya dan limpahan nikmat-Nya. Silaturrahim dan jalan-jalan bersama menjadikan kebersamaan itu kita rasakan keindahannya dan menjadikan kita lebih mengenal (ta’aruf) dan memahami (tafahum) agar hak saudara kita bisa lebih terpenuhi. Hidup ini memang lebih indah dengan berbagi, bukan sekedar tuk berbagi sedih dan keluh kesah, namun kebersamaan dalam senyum dan tawa itulah hakikat sebuah keindahan kebersamaan dalam persaudaraan ukhuwah islamiyah.
“Allahumma innaka ta’lamu anna haadzihil quluub, qodijtama’at ‘alaamahabbatik … Yaa Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan kecintaan hanya kepada-Mu…” (Doa Rabithah – Hasan Al-Banna)
Categories: Uncategorized