achdaf weblog

Entries from December 2005

Negeri yang Melindungi Rakyatnya

December 23, 2005 · Leave a Comment

Alhamdulillah, atas berkat rahmat Allah akhirnya saya bisa kembali ke tanah air hari sabtu yang lalu. Meski harus tertunda sehari dari jadwal sebelumnya (seharusnya jumat, tapi harus diundur sabtu karena seat-nya gak cukup), saya bersyukur karena perjalanan lancar dan dan bisa kemblai ke negeri tercinta dengan selamat. Dan sekarang saya tak perlu lagi tiap hari memakai pakaian rangkap 4 serta celana rangkap 3, karena pake baju selembar pun di sini sudah cukup hangat, bahkan bisa jadi kepanasan. Namun bagaimanapun, seindah-indah negeri orang, bagi saya masih indah negeri sendiri, seburuk apapun itu.

Ada sesuatu yang belum sempat saya tulis terkait dengan kesan saya terhadap negeri gingseng yang belum seminggu saya tinggalkan. Yaitu bagaimana penghargaan serta pelayanan mereka terhadap warganya, terhadap manusia yang hidup di dalamnya dimana seorang nyawa manusia begitu sangatlah berharga, tak ternilai dengan apapun. Apalagi bagi mereka yang memiliki kekurangan secara fisik, maksud saya adalah bagaimana kepedulian warganya terhadap para penyandang cacat. Dan kepedulian itu tidak hanya berupa jargon saja, tapi memang nyata adanya. Kalau kita berjalan di trotoar di jalan raya, maka bisa kita lihat di situ ada suatu jalur berwarna kuning yang timbul bulatan-bulatan kecil di atasnya. Jalur itu memang dibuat khusus untuk para penyandang tuna netra  sehingga mereka bisa berjalan dengan mandiri, dengan merasakan apa yang mereka injak, mereka bisa berjalan tanpa menabrak. Orang-orang di sekelilingnya pun peduli dengan mereka. Atau ketika kita masuk ke toilet umum, maka di situ sapat dipastikan ada bagian tersendiri untuk orang cacat yang digambarkan dengan gambar kursi roda. Bahkan di kantor tempat saya bekerja yang selama 3 bulan saya kerja di sana tidak pernah melihat ada orang cacat, ternyata toiletnya menyediakan tempat khusus pula untuk para penyandang cacat tersebut. Di kereta pun begitu, penyandang cacat pun diberi baris khusus di pintu masuk subway, dan di dalam kereta tiap gerbongnya juga menyediakan tempat duduk khusus untuk para manula, cacat, ataupun ibu hamil.

Memang, banyak sekali kelebihan yang dimiliki oleh negeri gingseng ini. Banyak catatan kelebihan yang dimilikinya dibanding negeri saya. Karena kalau dibanding dengan tahun kemerdekaannya, tak berselisih dengan Indonesia. Namun kemajuannya dibanding Indonesia sangat jauh sekali. Korsel saat ini bisa disejajarkan posisinya dengan negara tetangganya Jepang dalam segala hal. Meski banyak catatan pula yang ada dalam dirinya sebagaimana negara maju lainnya, terutama masalah pergaulan, sex, dll. Setidaknya saya bisa mendengar suara adxan subuh berkumandang tiap paginya. Ataupun tanpa ragu-ragu menyantap makanan soto daging sapi atau sate ayam kegemaran. Dan yang penting juga, saya kembali bisa bekumpul dengan ikhwah yang selama 3 bulan kutinggal. Indonesia, kuharap suatu saat nanti kau dapat lebih baik darinya. Tak hanya soal materi, namun akhlak juga tetap terjaga. Insya Allah.

Categories: Uncategorized

Aku Pulaaaang …

December 15, 2005 · 3 Comments

Hari ini adalah hari terakhir saya bertugas di sini, di Korea, setelah berjalan hampir 3 bulan lamanya. Ini adalah kali kedua saya ke sini, dan pada saat yang bersamaan dengan musim gugur dan awal-awal musim dingin. Alhamdulillah, dibandingkan dengan tahun kemarin, saya rasakan sedikit berbeda dan insya Allah lebih baik dari tahun kemarin. Secara kerja, di sini karena misinya adalah project, dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang untuk training, kali ini kedatangan saya merasa lebih berarti, ada target yang bisa ditempuh lah. Selain itu, ada yang lain juga yang bisa saya rasakan di sini, yakni kesempatan bertemu dengan saudara-saudara seperjuangan yang ternyata hampir semuanya juga sedang berjuang di sini, hampir semuanya juga sedang melanjutkan studi S2, S3, bahkan ada yang post doctoral. Berada di sekeliling mereka, agak minder juga buat saya yang cuman S1 ini. Karena sebagian diantaranya secara usia lebih muda dari saya, luar biasa. Saya sampaikan terima kasih buat Augi yang telah mengundang saya untuk bertemu dengan rekan-rekan di sini. Pak Haznan, Maman, Pam, Wanda, Azis, Lubi, Pak Yuni dan Pak Supangat. Jazakumullah atas sambutannya yang hangat. Dan tak lupa juga rekan-rekan setim atas kekompakannya selama ini. Maafkan atas segala sikap yang kurang berkenan. Insya Allah kebersamaan kita yang tak terpisahkan selama hampir 3 bulan ini semakin memahamkan kita bagaimana saudara kita satu sama lain. Tak hanya mengenal, namun juga paham akan sifat-sifatnya.

Oh ya, kali ini alhamdulillah saya juga berkesempatan untuk merasakan indahnya salju. Masya Allah indah sekali. Laksana mandi kapas, kapas-kapas kecil bertebaran di mana-mana. Kondisi yang mungkin nggak akan dialami oleh mereka yang hidup di daerah tropis seperti Indonesia. Meski akhirnya hari-hari berikutnya udara suangaat dingiiiin, karena tiap harinya suhu maksmial berada pada kisaran 0 derajat celsius. Pada malam atau pagi harinya bisa pada kisaran minus 10 derajat. Masya Allah, laksana berada dalam kulkas raksasa. Tapi alhamdulillah, besok saya akan pulang kampung, dan insya Allah seminggu kemudian mudik kampung. Acara mudik pun digeser, bukan pas lebaran, malah saat natalan :) . Semoga tiap perjalana hidup kan memberi kita ilmu kedewasaan dan kebijaksanaan.

Categories: Uncategorized

Antara Memberi Peringatan dan Menakut-nakuti

December 11, 2005 · Leave a Comment

Apa beda antara memperingatkan dan menakut-nakuti? Secara gampangnya, contoh menakut-nakuti adalah ketika ada orang tua yang kadang capek menyikapi kebandelan anaknya sehingga cenderung ia mengatakan sesuatu yang tidak benar yang bikin anak itu takut, sehingga kalau anaknya itu takut akhirnya anak itu tidak bertingkah macam-macam, dia pun nggak kerepotan akhirnya. Namun hal itu tidak berakibat baik bagi perkembangan psikologis si anak, dia akan jadi penakut, tidak aktif, akhirnya jadi pendiam dsb. Dan seiring berjalannya waktu, anak itu tahu kalau selama ini orang tuanya itu berbohong. Sehingga ia akan menganggap sah-sah saja suatu kebohongan itu, karena orang tuanya pun demikian. Orang tuanya berdosa karena berbohong, berdosa pula karena mengajari kebohongan, hanya karena ia tidak mau repot saja. Padahal ia seharusnya dengan telaten mengajari anaknya kebaikan yang itu sudah jadi kewajibannya, jangan karena nggak mau repot akhirnya berlaku seperti itu, menakut-nakuti. Intinya, menakut-nakuti itu banyak bohongnya, subjektif, dan landasan faktanya kurang.

Sementara kalau memperingatkan kebalikan dari menakut-nakuti. Orang yang diperingatkan mungkin juga takut, tapi takutnya karena ada faktanya. Dan implikasinya orang yang diperingatkan akan berhati-hati. Tindakannya pun logis. Contohnya seperti kalau di jalan yang cukup licin, yang kalau hujan jalanannya jadi lebih licin, sehingga sering terjadi kecelakaan, maka polisi pun menunaikan kewajibannya dengan memberi peringatan pada pengendara agar berhati-hati melewati jalan itu. Orang mungkin jadi takut mendapat peringatan seperti itu, tetapi itu berdasar fakta yang jelas, orang yang takut pun yang juga sering melewati jalan itu tahu kalau apa yang diperingatkan oleh polisi itu memang benar. Dan bukan mengada-ada, apalagi berbohong. Dan yang diberi peringatan merasa aman dalam arti memahami peringatan itu.

Melihat dari kasus bom yang melanda negeri kita akhir-akhir ini, saya jadi heran dengan apa yang dilakukan oleh aparat keamanan, apakah ia menakut-nakuti, ataukah memberi peringatan. Sebab kalau melihat bagaimana cara yang dilakukan untuk mengantisipasi bom itu lebiih cenderung membuat orang takut tapi ia juga bingung kenapa ia takut. Ketakutan itu lebih emosional daripada berdasar fakta yang ada. Mungkin maksudnya memperingatkan, tapi kok malah menakut-nakuti kayak orang tua terhadap anaknya di atas. Malah antisipasinya seringkali menimbulkan teror baru. Ada pengambilan sidik jari-lah, wewenang menangkap orang tanpa alasan kuat, kecurigaan terhadap orang dengan ciri tertentu, peingatan yang nggak beralasan, sehingga orang pun malah merasa tidak aman dengan tindakan yang katanya untuk mengamankan itu. Inilah tugas aparat kemanan untuk lebih profesional dal memberi rasa aman bagi warganya, karena itu sudah jadi kewajibannnya, layaknya orang tua, yang seharusnyalah memang mendidik anaknya dengan cara yang benar. Memberi peringatan, bukan menakut-nakuti.

Categories: Uncategorized