Tahu nggak berapa penghasilan minimum pengemis/pengamen, khususnya di daerah Jakarta? Saya agak kaget juga mengetahuinya meski sebelumnya juga mereka-reka berapa penghasilan minimum saudara-saudara kita ini. Kalau menurut wawancara di Trans TV di program Reportase sabtu kemarin, penghasilan mereka dalam sehari minimal 20 ribu rupiah, dan maksimal 30 ribu rupiah! Sementara menurut cerita teman saya, seorang pengamen dalam sehari minimal bisa dapat 40 ribu. Gule! Kalau dikalikan 30, berarti dalam sebulan seorang pengemis bisa dapat sampai 900 ribu, sementara pengamen bisa mencapai angka di atas sejuta man! Bandingkan dengan UMP Jakarta yang cuman sekitar 800 ribu rupiah. Jauh kan? Rupanya, inilah yang membuat saudara-saudara kita yang “berprofesi” sebagai pengemis dan pengamen itu ogah berkerja dan meneruskan “pekerjaan” mereka itu, karena secara riil pendapatan mereka dari mengemis saja lebih besar daripada mereka kerja di pabrik. Belum lagi kalau kita melihat pekerjaan pembantu rumah tangga yang sekitar di bawah 500 ribu, atau kuli bangunan dll. Jadi, dalam pikiran mereka, ngapain repot gitu loh ?!
Bangsa kita memang menderita penyakit yang cukup kronis dalam hal moral dan malu. Dan ini tak hanya melanda mereka yang berada di level atas, yang berpendidikan tinggi, yang tak malu-malu korupsi dan menggadaikan moralitasnya hanya untuk kepentingan materi belaka. Demi jabatan dan kekayaan. Namun melanda juga mereka-mereka yang berada di bawah dasar garis kemiskinan. Mereka tak malu untuk menipu, mengemis, menggadaikan moral mereka, mengabaikan nurani mereka hanya untuk kesenangan dunia semata, dengan dalih himpitan hidup dsb. Kita patut bersyukur karena insya Allah kita tidak termasuk di antara mereka. Allah telah memberikan kemudahan dalam diri kita di dunia ini, dan insya Allah hidayah-Nya pun masih ada di dada kita. Di sisi yang lain negara juga menjadi pihak yang bertanggungjawab akan terjadinya hal ini. Sebab mereka barangkali juga tidak seperti ini kalau negara telah menunaikan kewajibannya dan mereka telah diberikan apa yang menjadi haknya.
Setelah tahu hal di atas, sekarang saya berfikir ulang kalau mau ngasih duit ke para pengemis atau pengamen itu. Biasanya sih saya ngasih mereka sekaligus mengurangi duit recehan kembalian kantin yang biasanya saya simpan. Karena, kalau dipikir-pikir, kita juga menjadi bagian dari pihak yang ikut mengembangbiakkan mereka, dan meninabobokan mereka dalam kemalasan, membuat mereka pasrah akan nasib tanpa berusaha untuk mengubahnya, karena kalau bekerja mereka malah mendapat lebih sedikit dari mengemis. Sama halnya pikiran para koruptor, mereka berfikir bahwa dengan korupsi mereka akan mendapat kebahagiaan dengan harta yang banyak.
Jadi, masihkah kita memberi uang kepada para pengemis/pengamen itu?
