achdaf weblog

Entries from January 2006

UMP (Upah Minimum Pengemis/Pengamen)

January 30, 2006 · 3 Comments

Tahu nggak berapa penghasilan minimum pengemis/pengamen, khususnya di daerah Jakarta? Saya agak kaget juga mengetahuinya meski sebelumnya juga mereka-reka berapa penghasilan minimum saudara-saudara kita ini. Kalau menurut wawancara di Trans TV di program Reportase sabtu kemarin, penghasilan mereka dalam sehari minimal 20 ribu rupiah, dan maksimal 30 ribu rupiah! Sementara menurut cerita teman saya, seorang pengamen dalam sehari minimal bisa dapat 40 ribu. Gule! Kalau dikalikan 30, berarti dalam sebulan seorang pengemis bisa dapat sampai 900 ribu, sementara pengamen bisa mencapai angka di atas sejuta man! Bandingkan dengan UMP Jakarta yang cuman sekitar 800 ribu rupiah. Jauh kan? Rupanya, inilah yang membuat saudara-saudara kita yang “berprofesi” sebagai pengemis dan pengamen itu ogah berkerja dan meneruskan “pekerjaan” mereka itu, karena secara riil pendapatan mereka dari mengemis saja lebih besar daripada mereka kerja di pabrik. Belum lagi kalau kita melihat pekerjaan pembantu rumah tangga yang sekitar di bawah 500 ribu, atau kuli bangunan dll. Jadi, dalam pikiran mereka, ngapain repot gitu loh ?!

Bangsa kita memang menderita penyakit yang cukup kronis dalam hal moral dan malu. Dan ini tak hanya melanda mereka yang berada di level atas, yang berpendidikan tinggi, yang tak malu-malu korupsi dan menggadaikan moralitasnya hanya untuk kepentingan materi belaka. Demi jabatan dan kekayaan. Namun melanda juga mereka-mereka yang berada di bawah dasar garis kemiskinan. Mereka tak malu untuk menipu, mengemis, menggadaikan moral mereka, mengabaikan nurani mereka hanya untuk kesenangan dunia semata, dengan dalih himpitan hidup dsb. Kita patut bersyukur karena insya Allah kita tidak termasuk di antara mereka. Allah telah memberikan kemudahan dalam diri kita di dunia ini, dan insya Allah hidayah-Nya pun masih ada di dada kita. Di sisi yang lain negara juga menjadi pihak yang bertanggungjawab akan terjadinya hal ini. Sebab mereka barangkali juga tidak seperti ini kalau negara telah menunaikan kewajibannya dan mereka telah diberikan apa yang menjadi haknya.

Setelah tahu hal di atas, sekarang saya berfikir ulang kalau mau ngasih duit ke para pengemis atau pengamen itu. Biasanya sih saya ngasih mereka sekaligus mengurangi duit recehan kembalian kantin yang biasanya saya simpan. Karena, kalau dipikir-pikir, kita juga menjadi bagian dari pihak yang ikut mengembangbiakkan mereka, dan meninabobokan mereka dalam kemalasan, membuat mereka pasrah akan nasib tanpa berusaha untuk mengubahnya, karena kalau bekerja mereka malah mendapat lebih sedikit dari mengemis. Sama halnya pikiran para koruptor, mereka berfikir bahwa dengan korupsi mereka akan mendapat kebahagiaan dengan harta yang banyak.

Jadi, masihkah kita memberi uang kepada para pengemis/pengamen itu?

Categories: Uncategorized

Sensitifitas

January 24, 2006 · 7 Comments

“Wah, hedonis !” Entah serius atau tidak, kalimat spontan itu meluncur dari sahabat saya dari Surabaya yang minggu yang lalu berkesempatan untuk silaturrahim ke tempat tinggal saya (baca : kos). Mungkin dia agak heran juga dengan apa yang ada di dalam kamar saya, sesuatu yang mungkin jarang ditemui di sebuah kamar kos. Mungkin dia membandingkan dengan kondisi kamar kos mahasiswa yang biasa ia temui sebelumnya di kampus yang rata-rata cuman ada kasur, meja, lemari pakaian, serta seperangkat komputer. Baginya, apa yang ada di kamar saya itu sudah cukup lengkap untuk sebuah rumah, bukan kamar kos. Sedangkan bagi saya, apa yang saya miliki itu standard saja, ya namanya juga anak kos, butuh hiburan dan sarana untuk informasi. Lagi pula, menurut saja, perangkat elektronik yang saya miliki itu harganya lebih murah dari seperangkat komputer yang biasa dimiliki oleh mahasiswa. Sedangkan di kamar saya, nggak ada komputernya. Kemudian dia juga mengomentari perangkat elektronik yang dimiliki oleh para peserta pelatihan yang baru saja ia ikuti. “Wah, ikhwah tuh hapenya keren-keren, pada bawa PDA. Saya jadi nggak pede bawa hape ini”. Padahal saya tau kalau hape yang baru saja ia beli (hape lamanya hilang) itu harganya sekitar dua kali lipat UMP di Jakarta.

Sesaat saya berfikir tentang kondisi saya. Benarkah apa yang dikatakan sahabat saya itu? Hedonis? Kemudian saya juga berfikir tentang kondisi para peserta yang ia temui kemarin. Benarkah para aktifis dakwah telah berubah? Dari dahulu yang sederhana dan tawadhu berubah menjadi borju? Separah itukah? Ah, barangkali itu perasaan saya saja. Tetapi kadang saya rasakan perasaan saya itu ada benarnya, dan saya seringkali menyaksikannya. Saya ingat komentar salah seorang teman saya mengomentari harga jaket teman saya yang lain yang seharga 200 rb. “Wah, mikir-mikir juga duit segitu cuman buat beli jaket”. Karena bisa jadi uang segitu cukup untuk makan beberapa hari di keluarganya dengan istri dan dua orang anaknya. Pikiran positif saya mengatakan bahwa wajar-wajar saja mereka berlaku seperti itu, insya Allah saya yakin mereka mendapatkan barang-barang cukup mewah itu dengan hasil jerih payah mereka sendiri, dan halal pula. Bukan korupsi, kolusi, dan cara-cara yang dilarang Allah. Dan mereka juga membelinya karena memang membutuhkannya (gak tau kalau dibutuh-butuhin ya :) . Namun saya juga khawatir gaya hidup seperti ini akan sedikit mengurangi sensitifitas kita terhadap realitas di sekeliling kita yang sebagian besar berada di kalangan bawah ke dasar (bukan menengah ke bawah :) . Dan kondisi itu juga melanda para aktivis dakwah juga, karena sebagian para aktivis dakwah bukanlah mereka yang berada pada strata sosial menengah ke atas. Sedangkan para aktivis dakwah adalah pelayan ummat, yang harus senantiasa menjaga hatinya agar tak berjarak dengan ummat.

Kalau gaya hidup seperti ini kita pupuk sampai ke atas, dan tidak kita rem, maka lambat laun hati kita akan berkurang sedikit demi sedikit sensitifitasannya. Dan kalau diteruskan akan berdampak terhadap generasi penerus. Saya jadi ingat tulisannya … (saya lupa :) tentang empati yang salah. Di situ diceritakan tentang seorang anak dari keluarga yang sangat kaya, kemudian disuruh gurunya untuk bercerita tentang tetangganya yang miskin. Kemudian di menggambarkan kurang lebihnya seperti ini. “Pak Amir itu miskiiin sekali, istrinya miskin, anaknya miskin, pembantunya miskin. Mobilnya cuman satu, tvnya cuma satu yang 29 inchi. Pembantunya cuman dua, main PS pun harus gantia, karena cuman satu,. rumahnya juga panas, soalnya AC-nya cuman satu. Pokoknya miskiin deh”. Akankah pikiran saya ini benar? Semoga tidak. Dan semoga itu jangan sampai menimpa saya. Kita semua hanya dapat berharap agar kemudahan Allah dan limpahan nikmat materi yang kita terima darinya tidak emnjadikan hati kita tertutup, tidak menjadikan kita malah kurang bersyukur. Semoga dunia ini ada di tangan kita, bukan di hati. Semoga kita bisa mencontoh Rasul tercinta, yang Allah telah memberi kemudahan baginya di dunia kalau ia mau, namun beliau lebih memilih menjalani hidup dengan sangaaaat sederhana, namun bersahaja.

Categories: Uncategorized

Keep Your Health by Keep Your Food

January 20, 2006 · Leave a Comment

Minggu ini ada berita yang cukup mengejutkan bagi kami, sekaligus peringatan bagi kami semua. Salah seorang rekan saya diopname di rumah sakit, dan kemarin dia harus dioperasi di rumah sakit. Sakitnya lumayan ngeri buat saya, mengingat usianya yang masih sekitar 25 tahun harus menderita penyakit pembesaran ginjal, apa dan bagaimana persisnya sih saya kurang tau. Cuma yang jelas, kalau yang kena organ sepenting ginjal dan harus dioperasi, kayaknya penyakitnya bukanlah penyakit yang biasa. Syafakallah, semoga Allah segera memberi kesembuhan.

Rasulullah pernah mengingatkan, bahwa ada dua nikmat yang manusia sering kali lalai terhadapnya, yakni nikmat berupa kesehatan dan waktu yang senggang. Kita akan merasakan bahwa kesehatan itu mahal harganya tentu saat kita sakit. Mungkin kalau penyakitnya ringan seperti flu (kecuali flu burung kali ya?), demam, batuk, pilek dsb yang insya Allah bisa diobati dengan obat eceran saja kita belum merasa rugi, paling-paling keluar duit cuman 5000-an buat beli obat, sesudah itu insya Allah selesai deh. Ato paling nggak meski penyakitnya ringan, tapi kalau momentumnya nggak tepat seperti sakit panas demam pas mau ujian, atau pas presentasi di tempat kerja tapi batuk berat, kan repot juga. Nah apalagi kalau penyakitnya yang aneh-aneh yang harus keluar duit jutaan rupiah, jantung, paru-paru, diabetes, apalagi sekarang biaya di rumah sakit nggak murah. Sekali masuk rumah sakit bisa ratusan ribu sampe jutaan rupiah. Saat itulah kita akan benar-benar bisa merasakan bahwa sehat itu mahal. Itu pelajaran pertama.

Pelajaran kedua dari apa yang dialami oleh teman saya adalah terutama soal gaya makanan kita sehari-hari. Dia berpesan kalau sesudah makan sebaiknya nggak langsung mengkonsumsi teh botol, karena hal itu kurang baik bagi kesehatan ginjal. Nah, inilah yang membuat saya merenung soal gaya makan saya selama ini. Sebagai anak kos, tiap harinya saya makan mesti di luar, soalnya emang nggak bisa masak sendiri, en nggak ada yang masakin juga J. Dan hampir tiap kali selesai makan pasti ditutup dengan minum teh botol atau es teh. Dan itu saya lakukan tiap hari. Mulai makan pagi, siang, dan malam, bahkan malam harinya kadang bikin the lagi di kos. Gaya minum saya saya akui kurang baik, saya jarang sekali minum air putih, biasanya kalau nggak bikin the, ya kopi, atau susu. Itu baru gaya minumnya, belum lagi makannya. Saya sendiri yang kurang begitu suka dengan sayuran, ternyata juga diimbangi dengan menu makanan di warung yang kabanyakan berupa daging-dagingan. Ayam goreng, soto, rawon, yang saya yakin banyak bumbu penyedap di sana, apalagi sekarang berkembang isu formalin serta bebagai zat kurang baik bagi tubuh kita menjejali makanan kita sehari-hari. Dan gaya konsumsi seperti ini kayaknya kurang baik bagi kesehatan saya ke depan, mengingat saya nggak mau di usia 30-an nantinya sudah mengindap sakit yang aneh-aneh. Sekaligus mengingatkan saya bahwa badan ini adalah amanah dari Allah yang harus senantiasa dijaga. Sehingga mulai sekarang, kayaknya saya harus memulai memaksa diri untuk mengubah pola konsumsi saya. Mengurangi minum the selepas makan, memperbanyak minum air putih, sekaligus mengubah variasi makanan saya dengan sayuran. Bisa nggak ya? Ya harus bisa !

Categories: Uncategorized

Iman, Cinta, dalam Rangkaian Makna Ukhuwah

January 14, 2006 · 2 Comments

Belum sempurna imanmu sebelum engkau mencintai saudaramu seperti engkau
mencintai dirimu sendiri.

Kalimat itu meluncur dari bibir yang mulia Rasulullah Muhammad SAW. Kalimat yang tentu saja karena ia keluar dari seorang manusia yang ma’sum, maka takkan ada perkataan yang sia-sia.

Iman, cinta, dan ukhuwah. Apabila kita mencoba mengartikannya sendiri-sendiri, apa itu iman, apa itu cinta, apa itu ukhuwah, maka barangkali kurang cukup menjelaskan korelasi antara ketiganya. Padahal, dari yang coba saya dalami, ternyata ketiganya adalah suatu mata rantai yang tak putus, ketiganya menjadi bukti satu sama lain, bukan berdiri sendiri, terpisah, atau mereduksi makna yang satu dengan yang lainnya. Yang satu menjadi bukti keberadaan yang lain, yang satu menguatkan yang lain. Singkat kata, tak ada iman tanpa cinta, sedang cinta akan mempererat ukhuwah, sedangkan ukhuwah yang sebenarnya tentu saja dilandasi oleh keimanan yang sama.

Iman adalah sesuatu yang diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan kelakuan. Karenanya, iman yang ada di dalam hati saja tak cukup. Tak cukup kita meyakini bahwa Tuhan Yang Esa, yang menguasai kayat hidup kita, yang Mahatahu yang terbaik bagi kita, namun kita juga harus mengikrarkannya, dan yang lebih penting lagi kita harus menampakkannya dengan mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya. Dalam tauhid, kita tak hanya mengenal apa yang disebut dengan tauhid Rububiyah, dimana kita meyakini bahwa Allah adalah Rabb kita, namun dikehendaki juga adanya tauhid uluhiyah, yang membutuhkan bukti bahwa Allah adalah satu-satu sesembahan kita dengan semua makna yang terkandung dalam di dalamnya. Maka iman adalah hati, lisan, dan kelakuan. Bukan NATO, alias No Action Talk Only, tapi ia juga talk and action.

Cinta pun demikian adanya. Ia memiliki kemiripan dengan iman dalam hal pengertian bahwa ia tak hanya di dalam hati, tapi harus diucapkan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Apalah arti cinta bila ia hanya terpendam di dalam hati bahwa kita mencintainya? Masih kita ingat bagimana Rasulullah menyuruh sahabatnya untuk memberitahukan sahabat yang lain bahwa ia mencintainya, tentu saja karena Allah.Atau contoh mudahnya adalah bagaimana seorang ibu mencintai anaknya. Dalam hatinya, sangatlah pasti ia mencintai anaknya, yang sering ia ungkapkan ketika mengantarkannya tidur di malam hari, meninabobokannya dengan kata saying, memanggilnya dengan ungkapan anakku saying, anakku cakep, putriku yang cantik, tapi cukupkah samapi di situ? Tak kurang kita mendengar cerita bagaimana susah payahnya seorang ibu bekerja siang malam bahkan sering kali mengabaikan dirinya sendiri semata-mata untuk kebaikan buak hatinya, capek dan lelah yang menimpanya bukanlah suatu derita manakala melihat buah hatinya tubuh sehat dan senyum senantiasa mengembang dari bibir belahan jiwanya. Cintanya pun takkan pernah berharap mendapat balasan yang setimbal, tak pernah ia berhitung ini itu layaknya orang berinvestasi agar kelak ia mendapat balasan kelak. Takkan pernah! Bahkan ia rela dibalas dengan perlakuan anaknya yang durhaka dengan senantiasa mendoakan kebaikan bagi anaknya. Itulah makna cinta yang setulusnya.

Nah, barangkali karena kesamaan ciri di atas, hadits di atas menunjukkan maknanya, bahwa cinta itu menguatkan makna iman, dimana keduanya harus dimantapkan dalam hati, diungkapkan dalam lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Kesamaan ciri itu menjadikan cinta adalah prasyarat sebuah kesempurnaan iman. Disinilah keduanya bertemu dalam sebuah makna ukhuwah, ukhwah islamiyah yang melandaskan kecintaan pada sesama berpadu dengan keimanan yang mendalam pada-Nya. Sehingga cinta dalam ukhuwah islamiyah semata-mata melandaskan kesamaan keimanan, bukan hawa nafsu. Cinta yang berlandaskan iman akan mengekalkan makna cinta itu, sekaligus menguatkan makna cinta itu sendiri, dan cinta yang membutuhkan pembuktian itu akan menjadi gerbang menuju kesempurnaan iman itu sendiri. Sehingga, ukhuwah islamiyah adalah persaudaraan dengan rasa cinta kepada sesama yang kita cinta karena keimanan kepada Allah, dengan iman dan cinta dalam hati, kata, dan amal.

Categories: Uncategorized

Berkeluarga adalah Belajar

January 6, 2006 · 3 Comments

Kalau teman saya dalam blognya pernah nulis judul tentang bulan syawal bulan nikah, maka ada bulan lagi yang kayaknya juga dikatakan sebagai bulannya orang nikah, ya sekarang ini alias bulan haji. Minggu ini saja. Dalam 3 hari ada 3 orang teman sekantor saya yang nikahnya hampir barengan. Belum lagi ada juga teman kuliah dulu yang juga melangsungkan sunnah rasul yang satu ini. Serta di beberapa meja rekan kerja saya yang lain juga bertebaran undangan walimah. Ya, bulan dzulhijjah kayaknya boleh diganti nama jadi bulan nikah kayaknya.

Ngomong-ngomong soal berkeluarga, saya lebih suka menyebutnya berkeluarga dari pada nikah, karena saya pribadi mengartikan nikah itu sebuh peristiwa meskipun sebelumnya ada sebuah proses menuju menikah itu tadi. Sementara berkeluarga pengertiannya lebih dalam dan long term (sok tau juga ). Dan sebenarnya saya agak kurang sreg kalau mau ngomong masalah ini, belum pantes lah, abis belum mengamalkannya sih. Dan dalam beberapa kali kesempatan atau diskusi, saya selalu menghindari topik ini, bukannya apa, merasa ga pantes saja dan takut kalau-kalau pertanyaannya balik ke sana, “Ente sudah nikah belom ?”. Wah, pukulan telak tuh :p. tapi rasanya tak ada salahnya kalau saya nulis di blog pribadi ini, mengingat blog kan sarana pribadi, meski juga umum, toh itung-itung sebagai persiapan bila masanya tlah dating. Kali ini saya ingin menulis tentang salah satu visi saya tentang berkeluarga, bahwasanya berkeluarga adalah belajar.

Berkeluarga adalah belajar, dan keluarga adalah sekolah, tempat seorang suami belajar dari pengalaman untuk menjadi suami yang baik, istri belajar menjadi yang terbaik bagi suaminya. Suami mengajari istri, istri pun begitu. Ketika mereka punya anak pun, mereka akan belajar dan saling mengajari untuk memberi yang terbaik bagi buah hatinya. Dan karena mereka (suami istri) adalah anak-anak dari kedua orang tuanya, mereka akan belajar bersama untuk memberi yang terbaik bagi kedua orang tuanya. Karena dari sebuah keluarga yang anak-anaknya shalih-shalihah, akan lahir dari ayah/suami yang shalih, dan ibu/istri yang shalihah. Dan tentu saja ayah/suami dan ibu/istri yang shalih shalihah adalah anak yang shalih dan shalihah pula bagi kedua orang tuanya. Sehingga, bila ingin mendapat anak shalih-shalihah, carilah istri.ibu yang shalihah. Sedangkan istri yang shalihah adalah milik suami yang shalih. Suami yang shalih adalah anak yang shalih bagi kedua orang tuanya.

Berkeluarga adalah belajar. Orang yang belajar adalah orang yang tidak tahu. Adalah suatu kewajaran seseorang yang belajar melakukan kesalahan. Yang penting adalah bagaimana ia akan mengambil pelajaran dari pengalaman dan kesalahan yang dilakukan, sembari melakukan koreksi ke depan. Sehingga rasanya tidak wajar seorang istri sesholihah apapun ia tidak menerima kondisi suaminya yang ia anggap pas-pasan. Ataupun seorang suami merasa kaget dengan istrinya yang tak seperti yang ia bayangkan dulu saat awal-awal mengenalnya. Ibarat anak kecil yang baru masuk sekolah playgroup dengan belajar sambil bermain, mulai mengenal huruf, belajar mengeja, membaca, bernyanyi, sampai akhirnya masuk SD, SMU, kuliah hingga sampai meraih doctoral. Begitu pun berkeluarga, ia akan belajar mengeja kehidupan, menyanyikan syair penghibur hati, hingga kelak lulus bergelar kesakinahan, mawaddah, warahmah.

Categories: Uncategorized

Sedikit Buah Tangan dari Kampung Halaman

January 5, 2006 · Leave a Comment

Ketika saya masih kuliah dulu, saya agak heran sama temen-temen yang dah 1 ato 2 bulan ga pulang kampung dah pada ribut. Atau bahkan ada yang tiap minggu pulang kampung. Waktu itu memang saya bukan anak kos, karena saya bisa tiap hari pulang, alhamdulillah tempat kuliah ga begitu jauh dari rumah. Kalo naik motor paling lambat Cuma sekitar 30 menit, kalo naik angkot jadinya bisa sekitar 1 jam. Jadi saya ga pernah merasakan dahaga dan kerinduan ketika pulang kampung. Atau ada teman-teman saya yang kalau sudah suntuk berat ya obatnya pulang kampung itu.

Itu cerita dulu, sewaktu status saya masih anak rumahan, meski rumah kadang cumin dijadikan tempat mampir aja J. Sekarang, saya bisa merasakan kondisi seperti itu. Seiringn dengan pekerjaan yang menjadikan saya harus hijrah sekaligus pindah status jadi anak kos, kini saya bisa merasakan kondisi seperti di atas. Kenikmatan ketika pulang kampung bertemu dengan keluarga, ponakan yang lutju. Luar biasa. Pulang kampung seakan telah menjadi tombo ati manakala dilanda kesuntukan setelah kita bekerja. Wajah-wajah ceria senantiasa menghiasi saya dan rekan-rekan ketika akan pulang kampung, dan kembali dengan semangat yang baru dalam bekerja. Dan alhamdulillah, bertepatan dengan momentum tahun baru, perusahaan tempat saya bekerja meliburkan karyawannya hampir seminggu. Terhitung mulai hari rabu 28 Desember libur dan baru masuk kembali hari selasa, 3 Januari. Tapi saya sendiri baru masuk hari rabu, nambah satu hari cuti, sekalian pelampiasan karena lebaran kemarin ga mudik, istilahnya liburannya dirapel.

Bertemu dengan orang tua, adik, kakak, ponakan yang lagi bandel-bandel sekaligus lucu-lucunya menjadi obat rindu setelah hampir 4 bulan tak bersua dengan mereka. Bertemu dengan sahabat lama, mengenang masa-masa indah bersama dulu sekaligus merancang masa indah di masa depan menjadi oleh-oleh yang tak terlupa ketika balik ke bekasi lagi. Menengok aktivitas lembaga di mana saya dulu terlibat jauh di dalamnya menjadikan saya malu sakaligus cambuk untuk membuat kenangan manis yang sama di sini. Agar setiap dahan yang kita hinggapi, kita mampu memberi saripati madu didalamnya. Layaknya seekor lebah. Terima kasih sobat, kebersamaan indah dulu bersamamu memberi arti tersendiri bagi saya. Semoga mimpi indah yang sudah kita susun bersama kemarin tak lama lagi dikabulkan-Nya.

Categories: Uncategorized