It’s me: krasan .. ng?
teman: Insyaallah, tp juga masih cari2 low lagi
It’s me: hah?
teman: hah kenapa?
It’s me: nyapo golek2 maneh?
teman: wah aku nyambut nang kene jek ragu2 antara riba&kebutuhan
It’s me: oic
teman: dilema ki…
It’s me: smg dapet yg terbaik lah
Itulah sepenggal chatting singkat dengan salah seorang teman lama saya. Sudah setahun lebih kami nggak ketemu. Sebenarnya dulu kami satu kampus, tapi beda bidang studi dan program (saya reguler, dia lintas jalur), dan saya sendiri baru mengenalnya ketika sama2 merantau di bekasi. Kos kami berdekatan, namun beda tempat perusahaan. Tidak lama juga kami sempat berinteraksi di sini, karena tidak sampai setahun, dia balik lagi ke surabaya karena dapat pekerjaan baru di sana, di salah satu bank pemerintah. Ketidakkerasanan di sini membuat ia pindah kerja meski untuk salary yang didapatkan di sana pada awalnya lebih kecil dari yang didapatkan di sini. Namun, barangkali karena pertimbangan karier, biaya hidup, dan suasana kerja akhirnya dia pindah lagi ke sana. Dan beberapa hari yang lalu, ketika dia online lagi setelah nggak online sekian lama, akhirnya kami bisa berbincang sejenak. Agak kaget juga mendengar perkataan dia seperti itu. Saya juga teringat akan teman saya yang lain yang sebelum memutuskan untuk pindah kerja dan melamar ke sebuah bank, juga sempat berkonsultasi dengan saya tentang bagaimana hukum bekerja di sebuah bank. Saya juga belum sempat bertanya alasan dia melamar ke sebuah bank waktu itu. Barangkali seiring berjalannya waktu dia bekerja di situ, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya selama bekerja, dan itu terungkap saat chat kemarin.
Memang kalau kita renungkan sedikit mendalam, bekerja tidaklah sekedar mencari uang atau mendapat uang. Bekerja adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah, karenanya agar suatu ibadah itu diterima, maka selain ia dilakukan secara sungguh-sungguh, niatnya harus semata-mata karena Allah, dan tentu saja yang dilakukan pun tidak boleh ada unsur yang bertentangan dengan syariat, ataupun subhat. Sehingga pencuri dan koruptor tidak bisa dikatakan sebagai pekerjaan, ataupun preman. Dalam bekerja, gaji yang besar bukanlah jaminan untuk bisa bekerja dengan tenang, namun harus ada kenikmatan batin setiap kali melakukannya. Tidak sedikit teman saya yang lain yang kerasan di tempat kerjanya meski dari sisi gaji bisa dikatakan tidak terlalu besar, namun karena ia merasa enjoy di tempat ia bekerja sekarang, maka ia jalani terus. Teman saya yang di atas barangkali juga mengalami hal serupa. Dari sisi pendapatan, karier, jaminan kelangsungan bekerja (institusi pemerintah kan masih jadi favorit) tidak ada yang kurang, namun ia karena ada pertentangan batin sebagaimana saya ceritakan di atas, membuat ia berpikir ulang untuk melanjutkan kerja di situ.
Nilai suatu rizki memang ditentukan oleh keberkahannya. Karenanya, setiap kali kita berdoa dituntun untuk meinta rizki yang berkah, keberkahan akan mencakup semua unsur kebaikan. Keberkahan tidak hanya memberikan kenikmatan dan kenyamanan kita dalam menikmati rizki itu di dunia, namun rizki yang berkah akan membawa kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, dijauhkan dari pemanfaatan rizki yang sia-sia yang hanya bermaksiat kepada Allah. Rizki yang berkah tidak hanya berakibat secara ruhiyah, namun insya Allah jasad juga kita akan sehat. Bagi yang sudah berkeluarga, rizki yang halal dan berkah akan memberi ketenangan hidup dalam keluarga itu. Semoga kita senantiasa diberikan Allah keberkahan dari setiap rizki yang kita dapatkan.