achdaf weblog

Entries from March 2006

Karena Tak Sekedar Bekerja

March 28, 2006 · 2 Comments

It’s me: krasan .. ng?
teman: Insyaallah, tp juga masih cari2 low lagi
It’s me: hah?
teman: hah kenapa?
It’s me: nyapo golek2 maneh?
teman: wah aku nyambut nang kene jek ragu2 antara riba&kebutuhan
It’s me: oic
teman: dilema ki…
It’s me: smg dapet yg terbaik lah

Itulah sepenggal chatting singkat dengan salah seorang teman lama saya. Sudah setahun lebih kami nggak ketemu. Sebenarnya dulu kami satu kampus, tapi beda bidang studi dan program (saya reguler, dia lintas jalur), dan saya sendiri baru mengenalnya ketika sama2 merantau di bekasi. Kos kami berdekatan, namun beda tempat perusahaan. Tidak lama juga kami sempat berinteraksi di sini, karena tidak sampai setahun, dia balik lagi ke surabaya karena dapat pekerjaan baru di sana, di salah satu bank pemerintah. Ketidakkerasanan di sini membuat ia pindah kerja meski untuk salary yang didapatkan di sana pada awalnya lebih kecil dari yang didapatkan di sini. Namun, barangkali karena pertimbangan karier, biaya hidup, dan suasana kerja akhirnya dia pindah lagi ke sana. Dan beberapa hari yang lalu, ketika dia online lagi setelah nggak online sekian lama, akhirnya kami bisa berbincang sejenak. Agak kaget juga mendengar perkataan dia seperti itu. Saya juga teringat akan teman saya yang lain yang sebelum memutuskan untuk pindah kerja dan melamar ke sebuah bank, juga sempat berkonsultasi dengan saya tentang bagaimana hukum bekerja di sebuah bank. Saya juga belum sempat bertanya alasan dia melamar ke sebuah bank waktu itu. Barangkali seiring berjalannya waktu dia bekerja di situ, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya selama bekerja, dan itu terungkap saat chat kemarin.

Memang kalau kita renungkan sedikit mendalam, bekerja tidaklah sekedar mencari uang atau mendapat uang. Bekerja adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah, karenanya agar suatu ibadah itu diterima, maka selain ia dilakukan secara sungguh-sungguh, niatnya harus semata-mata karena Allah, dan tentu saja yang dilakukan pun tidak boleh ada unsur yang bertentangan dengan syariat, ataupun subhat. Sehingga pencuri dan koruptor tidak bisa dikatakan sebagai pekerjaan, ataupun preman. Dalam bekerja, gaji yang besar bukanlah jaminan untuk bisa bekerja dengan tenang, namun harus ada kenikmatan batin setiap kali melakukannya. Tidak sedikit teman saya yang lain yang kerasan di tempat kerjanya meski dari sisi gaji bisa dikatakan tidak terlalu besar, namun karena ia merasa enjoy di tempat ia bekerja sekarang, maka ia jalani terus. Teman saya yang di atas barangkali juga mengalami hal serupa. Dari sisi pendapatan, karier, jaminan kelangsungan bekerja (institusi pemerintah kan masih jadi favorit) tidak ada yang kurang, namun ia karena ada pertentangan batin sebagaimana saya ceritakan di atas, membuat ia berpikir ulang untuk melanjutkan kerja di situ.

Nilai suatu rizki memang ditentukan oleh keberkahannya. Karenanya, setiap kali kita berdoa dituntun untuk meinta rizki yang berkah, keberkahan akan mencakup semua unsur kebaikan. Keberkahan tidak hanya memberikan kenikmatan dan kenyamanan kita dalam menikmati rizki itu di dunia, namun rizki yang berkah akan membawa kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, dijauhkan dari pemanfaatan rizki yang sia-sia yang hanya bermaksiat kepada Allah. Rizki yang berkah tidak hanya berakibat secara ruhiyah, namun insya Allah jasad juga kita akan sehat. Bagi yang sudah berkeluarga, rizki yang halal dan berkah akan memberi ketenangan hidup dalam keluarga itu. Semoga kita senantiasa diberikan Allah keberkahan dari setiap rizki yang kita dapatkan.

Categories: Uncategorized

Sedikit Catatan dari Sinetron "Istri Untuk Suamiku"

March 25, 2006 · 5 Comments

Pernah nonton sinetron “Istri Untuk Suamiku” nggak? Kalau nggak salah, sinetron ini diputar di RCTI tiap senin malam jam 8. Wah, jadi penggemar sinetron ya? Walah, nggak juga, anda tahu sendiri lah bagaimana kualitas sinetron kita, ya segitu-gitu saja. Sinetron ini menurut saya termasuk sinetron yang diproduksi dalam suasana booming film bertema religius, yang ternyata sekarang malah banyak yang mengeksploitasi mistik. Tapi meski saya nggak ngikutin lagi gimana jalannya sinetron itu, karena waktu itu saya cuman sempet nonton agak lengkap episode pertamanya. Maklum, saya agak penasaran dengan tema yang diangkat, poligami. Isu yang jadi perdebatan banyak orang, terutama oleh kaum feminis dengan segala argumentasinya, yang kayaknya secara tidak langsung saya tangkap mereka lebih memilih suaminya selingkuh daripada mereka dimadu. Karena penasaran, gimana sih isi sinetron yang kayaknya bertema poligami ini, akhirnya saya nonton juga. Sekilas, sinetron yang dintangi oleh Inneke Koesherawati, Teddy Syah, dan … Febiola (saya lupa nama lengkapnya :) ), cerita ini mengangkat tema sebuah keluarga yang lama berumah tangga. Sebenarnya mereka cukup berbahagia meski nggak punya anak, namun karena mereka tinggal bersama ibunya Teddy sedangkan ibunya ini amat sangat merindukan kehadiran seorang cucu, bahkan sampai sakit2an, hal ini cukup mengganggu keharmonisan hubungan antara suami istri tsb. Namun, setelah terakhir diperiksa ke dokter, ternyata dokter terakhir yang memeriksa sang istri menyebutkan bahwa sang istri tidak bisa mengandung. Akhirnya, dengan niatan untuk membahagiakan sang mertua, sang istri akhirnya mengusulkan sang suami menikah lagi. Sesuatu yang menurut saya sangat aneh, sebab dikala banyak perempuan yang mati2an nggak mau dimadu (bahkan oleh mereka yang menurut saya sudah sangat paham tentang hukum poligami dalam Islam), lah ini kok malah nyuruh suaminya nikah lagi, gule bener. Seterusnya saya nggak tahu, soalnya nggak ngikutin lagi sih :) .

Ada beberapa hal yang menurut saya agak janggal di film ini. Di satu sisi film ini berupaya mengangkat tema2 keislaman, dan berupaya tampilannya seislami mungkin, namun ternyata malah jadi janggal mengingat para pemainnya bukanlah suami-istri yang sebenarnya, namun harus beradegan layaknya suami istri, jadinya agak aneh di beberapa sisi. Seperti adegan saat sang suami meraih tangan istrinya, karena permintaan sutradara, tuntutan skenario, atau permintaan dari sang artis sendiri, sang suami hanya memegang pergelangan tangan istrinya yang masih tertutup oleh baju panjangnya. Atau penampilan Inneke yang berperan sebagi istri yang tiap harinya berjilbab, padahal di situ cuman ada ibu dan suaminya yang kalau memang benar2 suaminya mungkin suatu ketika nggak memakai jilbabnya (lha di rumah sendiri kok :) ). Atatu beberapa adegan lain yang menurut saya agak ganjil bila benar2 di kehidupan yang nyata. Di satu sisi saya sedikit mengapresiasi film tersebut, di satu sisi ada suatu pertanyaan besar pada diri saya, bagaimanakah menampilkan sebuah film yang muatan isi dan penampilannya bisa mengakomodir antara kealamian dalam kehidupan dengan sisi syariat Islam yang harus benar-benar ditegakkan sesuai dengan tema keislaman yang diangkat. Jangan seperti sinetron religius sekarang, bukannya mendidik, malah menakut-nakuti dan menyesatkan. Wallahu’alam bishawab

Categories: Uncategorized

Selamat Wisuda

March 23, 2006 · Leave a Comment

Minggu kemarin salah seorang saudara diwisuda, setelah sekian tahun menempuh dunia perkuliahan dengan segala tetekbengeknya, akhirnya gelar sarjana berhasil juga diraihnya. Saya jadi teringat sekitar 2,5 tahun yang lalu, ketika saya juga mengalami hal yang serupa. Terus terang, bagi saya hal barang kali hal yang tidak biasa, tapi bukan berarti sangat luar biasa. Karena apalah arti sebuah gelar kesarjanaan tanpa ada ilmu dan amal yang riil didapatkan selama 5 tahun di kuliah, apakah sekadar bergulat dengan buku dan berburu IP 3 koma (ato koma 3 :) ) ato barangkali lebih banyak pelajaran kehidupan yang didapatkan selama hidup di kampus? Terus terang bagi saya banyak hal yang belum saya bisa perbuat selama menjadi mahasiswa dulu (berharap suatu saat bisa jadi mahasiswa lagi). Keterbatan diri ternyata tak mampu membuat saya untuk melakukan banyak hal, karena saya melihat sebenarnya dunia perkuliahan amat sangat tidak berharga kalau ia hanya dihabiskan dengan buku saja. Dunia perkuliahan bisa menjadikan saya setidaknya lebih banyak belajar tentang hidup ini, tapi lebih lagi tentang bagaimana mengasah cara berfikir kita. Percuma sekali seorang yang telah menjadi sarjana namun cara berfikir dan berikap masih kekanak-kanakan. Karenanya, kita bisa cukup mudah membedakan bagaimana tingkat pendidikan seseorang dari cara berfikir dan bertindaknya, meski ga mutlak juga. Saya juga gak habis pikir, apalah arti gelar kesarjanaan ST, SKom, SS, S teh :D , toh saya sendiri jarang sekali menaruh embel2 gelar itu belakang nama saya, bagi saya konsekwensinya lumayan berat.

Kembali ke momentum wisuda. Sebenarnya yang paling membuat bahagia saya saat wisuda adalah bukan karena saya diwisuda, tetapi lebih karena ada senyum kebahagian yang bisa saya persembahkan untuk kedua orang tercinta saya. Kebahagiaan karena ternyata kerja keras mereka untuk bisa menyekolahkan anaknya ini akhirnya sampai pada hasil akhir yang cukup membahagiakan mereka, dengan kata lain tidak sia-sia rupiah yang mereka keluarkan dengan cucuran keringat itu. Ada haru kala selepas rektor saya akhirnya menutup sidang umum wisuda saat itu dan menghampiri kedua orang tua saya. Ada kepuasan di hati saya tatkala anak yang selama kuliah jarang di rumah dan kurang membantu mereka ini akhirnya tidak mengecewakan mereka, meski mencapai hasil yang tidak terlalu maksimal, namun menurut saya juga gak terlalu jelek :) . Meski kadang saya malu sendiri, namun foto wisuda saya sampai sekarang masih terpampang di rumah saya, padahal tidak ada foto lain yang terpampang di rumah.

Akhirnya, saya ucapkan selamat dan baarakallah buat para wisudawan-wisudawati. Semoga kelak yang kau dapat di bangku kuliah tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tapi yang lebih penting lagi adalah bagi ummat.

Categories: Uncategorized

Karena Kesulitan adalah Bumbu Perjuangan

March 9, 2006 · Leave a Comment

Adakah perjuangan yang mudah? Yang di kanan kirinya berhias bunga-bunga mekar, yang jalannya mulus lurus laksana jalan bebas hambatan yang mendatar, tak ada halangan dan rintangan yang menghadang? Bisa jadi ada, tapi rasa-rasanya akan sulit ditemukan hal seperti itu. Perjuangan biasanya berhias batu terjal dan rintangan yang menerpa setiap saat, datang dari arah yang tak terduga, menerkam sang pejuang yang berselimut idealisme akan cita dan cintanya.

Perjuangan butuh tekad yang kuat, karena dengan kekuatan tekad lah ia akan senantiasa mendapatkan energi untuk melanjutkan perjuangan. Perjuangan butuh keyakinan bahwa ia takkan pernah sendiri, ada Allah yang senantiasa memberikan pertolongan kepada hamba yang berjuang untuk meraih ridho-Nya. Perjuangan harus ada keyakinan bahwa akan ada saudara kita yang bersama kita, yang siap menolong dan membantu kita, jangan pernah mengecewakan mereka dengan keputusasaan kita, padahal mereka telah bertekad kuat untuk membantu kita.

Kesulitan bukanlah pertanda bahwa Allah tidak merihoi langkah yang kita ambil, kesulitan bukanlah isyarat bahwa kita salah langkah, selama kita yakin benar bahwa yang kita lakukan benar-benar dalam rangka menjalankan syariat-Nya. Kesulitan adalah tanda bahwa Allah sayang kepada kita agar kita bertambah iman dan keyakinan serta menumbuhkan kedewasaan pada diri sang pejuang.

Kesulitan adalah bumbu perjuangan, ibarat sebuah masakan yang butuh rasa asam, pedas dari lombok, manis dari kecap atau rasa lainnya yang memang apabila ia kita rasakan satu-persatu tentu rasanya tidak enak, namun kalau ia dicampur dan diolah di tangan seorang koki handal tentu rasanya akan luar biasa di akhir. Yang meski kadang dalam membuat masakan itu jari sedikit teriris pisau sehingga sedikit berdarah, atau air mata bercucuran karena mengiris bawang, namun hasil yang di dapat di akhir akan mengubur pengorbanan darah dan air mata itu karena pengorbanan yang sedikit itu akan diganti dengan hasil dan kepuasan yang tiada tara. Maka kesulitan dalam berjuang meraih cita dan cinta-Nya kelak akan membuat kita terasa lebih berbahagia karena kita akan merasa bahwa perjuangan kita takkan pernah sia-sia, di akhir di saat kita merasakan hasil perjuangan kita akan benar-benar merasakan kelezatan hasilnya. Meskipun bisa jadi hasilnya sama, namun kelezatan hasil perjuangan yang dengan pengorbanan dan kesulitan yang sedikit tentu berbeda dengan pengorbanan dengan kesulitan yang lebih. Namun tentu saja semua harus disertai dengan niat ikhlas hanya mengharap ridho Allah semata.

Maka, jangan pernah menyerah meraih cita dan cinta-Nya, karena Ia takkan pernah jauh dari kita, selama kita berusaha mendekati-Nya dan yakin akan pertolongan-Nya. Laa tahzan, innallaha maa ana …


Categories: Uncategorized