achdaf weblog

Entries from August 2006

Menikmati, Mensyukuri, dan Bersabar Meraih Cita

August 16, 2006 · 1 Comment

Dalam hidup ini, apakah yang hendak kita cari? Sebagian orang sangat berambisi meraih harta sebanyak-banyaknya, waktunya ia habiskan untuk mengumpulkan duit sebanyak-banyaknya. Sebagian orang berdaya upaya meraih kekuasaan dengan berbagai cara, tak peduli halal atau tidak. Sedang yang lain ada yang berusaha mati-matian untuk sebuah popularitas. Namun tak sedikit di antara mereka yang kebingungan, dan malah tidak mendapat kepuasan setelah harta, kekuasaan dan popularitas itu mereka raih. Ia merasa tersiksa justru oleh sesuatu yang sebelumnya ia sangat ngebet meraihnya.

Namun tidak jarang kita temui tukang becak yang bisa tertidur dengan lelapnya di atas becaknya, seakan tak peduli dengan lalu lalang orang yang hilir mudik di sekitarnya. Ada juga anak-anak yang bermain dengan riangnya, tak peduli dengan pakaiannya yang kotor (mungkin karena ia kebanyakan lihat iklan salah satu detergen sabun cuci ya). Atau orang-orang yang begitu enjoynya menikmati hidupnya sehingga ia terus menerus kondisinya tidak berubah dari sepuluh tahun yang lalu. Pernah beberapa saat yang lalu saat pulang kampong, saya menemui orang yang tetap berjualan es yang sama dengan peralatan yang sama saat saya melihatnya ketika masih SD dulu. Lalu, bagaimanakah pilihan kita, yang ambisius seperti yang pertama atau pilih jadi orang yang konstan seperti yang kedua.

Allah memerintahkan kita untuk senantisa bersyukur dengan nikmat pemberian-Nya, sebab ciri-ciri orang beriman adalah di saat ia terkena musibah ia bersabar, sementara di saat ia mendapat nikmat dia bersyukur. Namun di sisi yang lain, Rasul memberikan perumpamaan orang yang beruntung adalah hari ini senantiasa lebih baik dari hari kemarin. Pribadi muslim adalah pribadi yang progresif, tidak jumud dan stagnan. Ia bisa menyeimbangkan antara kesyukuran, dan ambisi untuk senantiasa meraih sesuatu yang menjadi citanya, dalam koridor dien-Nya tentu saja. Ia tidak ekstrim di satu sisi sehingga hanya mengejar dunia, namun ia juga tidak menjadi pribadi yang nerimo, tanpa ada ambisi dan cita di dunia ini. Dikasih apa aja ia menerima saja, bahkan tatkala sesuatu yang menjadi haknya dirampas orang, ia nerima saja, dengan alasan “bersyukur”, padahal syukur yang ia lakukan kurang tepat penempatannya.

Karenanya, untuk apa yang yang ada pada kita saat ini, layaknya jargon sebuah iklan, “Enjoy aja”, nikmati dan syukuri apa yang ada dalam diri kita sekarang, karena itu adalah pemberiannya. Dengan menikmati yang ada, maka kita akan bisa benar-benar merasakan sesuatu yang kita miliki sekarang, meski itu untuk ukuran manusia itu sedikit. Bila kita tidak bisa menikmati apa yang ada, maka kita akan terus merasa tersiksa, seperti halnya orang yang memiliki materi yang banyak namun ia tidak pernah bisa menimatinya karena waktunya habis untuk mengumpulkan materi itu. Dengan bersyukur, maka kita menjalankan apa yang diperintah Allah, “Lain syakartum la aziidanakum, walain kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid”. Bersukurlah, niscaya Ia akan menambah apa yang kau miliki, kalau tidak maka bukan hanya nikmat yang kita terima sekarang itu hilang, tapi bias jadi diganti dengan adzab. Namun di sisi yang lain kita juga harus berusaha memiliki cita-cita ke depan, karena Allah sendiri mengatakan bahwa Ia takkan merubah nasib suatu kaum tanpa mereka ada usaha tuk merubahnya.

Categories: Uncategorized

Bila Waktu kan Memanggil

August 14, 2006 · Leave a Comment

Mata ini tiba-tiba terbuka, namun ada yang aneh. Badan ini terasa mau bangun, tapi mengapa tak kuasa tuk melakukannya. Sementara kulihat keluargaku berada berada di sekelilingku, mengelilingiku. Sebagian ada yang menangis, ada yang sedang membaca surah Yaasin. Oh, ada apa gerangan yang terjadi. Sementara tubuhku diselimuti kain putih, dan terasa tubuh ini hanya tertutupi kain putih itu. Ada apakah? Apa yang terjadi padaku? Seingatku tadi malam aku tidur dengan cukup lelap, meski agak kecapean di rumah, setelah seharian bekerja.

Sesaat kemudian orang-orang mengangkat tubuhku, dan membaringkanku di sebuah tandu. Oh, akan dikemanakan aku? Sampai saat ini aku masih belum memahami apa yang sedang terjadi. Seketika itu juga kemudian orang-orang membawaku beramai-ramai entah ke mana …

Kemudian tiba2 diturunkanlah aku secara perlahan-lahan. Kulihat di sana ternyata adalah lubang kubur. Ya, di sekelilingnya juga terdapat batu-batu nisan orang-orang yang telah meninggal sebelumnya. Oh tidak, apakah aku memang sudah mati, apakah aku …

Seringkali terbayang akan kondisi seperti itu, saat kita memang sudah saatnya kembali pada-Nya. Saat kita bertemu dengan sang Munkar dan Nakir. Saat dimana kita harus mempertanggungjawabkan semua amal kita. Saat semua pintu taubat telah tertutup. Mungkin pada saat saya menulis ini, dan Anda membaca ini, hal itu belum terjadi. Tapi pernahkah kita berfikir itu takkan terjadi dalam waktu 1 bulan, 1 minggu, 1 hari, atau satu detik dari sekarang?

Maut adalah sesuatu yang pasti. Ia datang tanpa kita duga. Ia, yang kata Rasul yang mulia, yang memisahkan seluruh kesenangan dunia. Ia akan memisahkan kita dengan istri kita, yang senantiasa mendampingi kita sebelumnya di saat kapan saja, istri kita takkan mungkin menemani kita di dalam kubur. Barangkali, istri kita hanya akan mengantar kita sampai pintu keluar rumah kita, tidak sampai di tiang lahat kita, karena ia paham bahwa itu tak dianjurkan.

Pertanyaannya sekarang, Siapkah saya ?

Categories: Uncategorized

Just 4 U

August 4, 2006 · Leave a Comment

Beberapa tembang spesial :)

Kupinang Engkau Dengan Al Quran
(Gradasi, Kupinang Engkau Dengan Al Quran)

Kupinang engkau dengan Al Quran
Kokoh suci ikatan cinta
Kutambatkan penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia

Reff :
Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah tuk selalu syukur padaNya

Bridge :
Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegal tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

Puteriku Sayang
(Hijjaz, Keizinan Mu)

Lembut mu tak bererti kau mudah dijual beli
Kau mampu menyaingi lelaki dalam berbakti
Lembut bukan hiasan bukan jua kebanggaan
Tapi kau sayap kiri pada suami yang sejati

Disebalik bersih wajah mu disebalik tabir dirimu
Ada rahsia agung tersembunyi dalam diri
Itulah sekeping hati yang takut pada Ilahi
Berpegang pada janji yang mengabdikan diri

Malu mu makhota yang tidak perlukan singgahsana
Tapi ia berkuasa menjaga diri dan nama
Tiada siapa yang akan boleh merampasnya
Melainkan kau sendiri yang pergi menyerah diri

Ketegasan mu umpama benteng negara dan agama
Dari dirobohkan dan jua dari dibinasakannya
Wahai puteriku sayang kau bunga terpelihara
Mahligai syurga itulah tempatnya

Diambil dari LirikNasyid (Suwun Guz :)

Categories: Uncategorized