Dalam hidup ini, apakah yang hendak kita cari? Sebagian orang sangat berambisi meraih harta sebanyak-banyaknya, waktunya ia habiskan untuk mengumpulkan duit sebanyak-banyaknya. Sebagian orang berdaya upaya meraih kekuasaan dengan berbagai cara, tak peduli halal atau tidak. Sedang yang lain ada yang berusaha mati-matian untuk sebuah popularitas. Namun tak sedikit di antara mereka yang kebingungan, dan malah tidak mendapat kepuasan setelah harta, kekuasaan dan popularitas itu mereka raih. Ia merasa tersiksa justru oleh sesuatu yang sebelumnya ia sangat ngebet meraihnya.
Namun tidak jarang kita temui tukang becak yang bisa tertidur dengan lelapnya di atas becaknya, seakan tak peduli dengan lalu lalang orang yang hilir mudik di sekitarnya. Ada juga anak-anak yang bermain dengan riangnya, tak peduli dengan pakaiannya yang kotor (mungkin karena ia kebanyakan lihat iklan salah satu detergen sabun cuci ya). Atau orang-orang yang begitu enjoynya menikmati hidupnya sehingga ia terus menerus kondisinya tidak berubah dari sepuluh tahun yang lalu. Pernah beberapa saat yang lalu saat pulang kampong, saya menemui orang yang tetap berjualan es yang sama dengan peralatan yang sama saat saya melihatnya ketika masih SD dulu. Lalu, bagaimanakah pilihan kita, yang ambisius seperti yang pertama atau pilih jadi orang yang konstan seperti yang kedua.
Allah memerintahkan kita untuk senantisa bersyukur dengan nikmat pemberian-Nya, sebab ciri-ciri orang beriman adalah di saat ia terkena musibah ia bersabar, sementara di saat ia mendapat nikmat dia bersyukur. Namun di sisi yang lain, Rasul memberikan perumpamaan orang yang beruntung adalah hari ini senantiasa lebih baik dari hari kemarin. Pribadi muslim adalah pribadi yang progresif, tidak jumud dan stagnan. Ia bisa menyeimbangkan antara kesyukuran, dan ambisi untuk senantiasa meraih sesuatu yang menjadi citanya, dalam koridor dien-Nya tentu saja. Ia tidak ekstrim di satu sisi sehingga hanya mengejar dunia, namun ia juga tidak menjadi pribadi yang nerimo, tanpa ada ambisi dan cita di dunia ini. Dikasih apa aja ia menerima saja, bahkan tatkala sesuatu yang menjadi haknya dirampas orang, ia nerima saja, dengan alasan “bersyukur”, padahal syukur yang ia lakukan kurang tepat penempatannya.
Karenanya, untuk apa yang yang ada pada kita saat ini, layaknya jargon sebuah iklan, “Enjoy aja”, nikmati dan syukuri apa yang ada dalam diri kita sekarang, karena itu adalah pemberiannya. Dengan menikmati yang ada, maka kita akan bisa benar-benar merasakan sesuatu yang kita miliki sekarang, meski itu untuk ukuran manusia itu sedikit. Bila kita tidak bisa menikmati apa yang ada, maka kita akan terus merasa tersiksa, seperti halnya orang yang memiliki materi yang banyak namun ia tidak pernah bisa menimatinya karena waktunya habis untuk mengumpulkan materi itu. Dengan bersyukur, maka kita menjalankan apa yang diperintah Allah, “Lain syakartum la aziidanakum, walain kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid”. Bersukurlah, niscaya Ia akan menambah apa yang kau miliki, kalau tidak maka bukan hanya nikmat yang kita terima sekarang itu hilang, tapi bias jadi diganti dengan adzab. Namun di sisi yang lain kita juga harus berusaha memiliki cita-cita ke depan, karena Allah sendiri mengatakan bahwa Ia takkan merubah nasib suatu kaum tanpa mereka ada usaha tuk merubahnya.