“Sungguh luar biasa orang-orang beriman, ketika dia mendapat nikmat, dia bersyukur, namun ketika dia mendapat musibah, dia bersabar”
Itulah petikan ucapan Rasulullah ketika menggambarkan sifat-sifat orang beriman, demian sederhana, namun justru dari kesederhaaan itu menyimpan suatu makna yang besar akan dua sifat orang beriman. Dua sifat yang sangat sulit implementasinya, dua sifat yang hanya mampu dilakukan dengan sempurna oleh Rasul yang mulia. Sedemikian sabarnya beliau menghadapi cobaan yang menimpa dirinya dalam menjalankan dakwah Islam. Dan sedemian syukurnya beliau hingga kakinya lecet dalam beribadah untuk menunjukkan kesyukuran akan nikmat berupa jaminan surga untuknya.
Kalau dilihat sekilas, maka seakan-akan ucapan Rasul itu menunjukkan bahwa sifat syukur dan sabar adalah dua sifat yang serial, bukan paralel. Karena kondisi manusia ketika mendapat musibah atau nikmat itu juga serial, bukan paralel. Maksud saya seseorang itu kalau tidak sedang mendapat musibah, maka dia mendapat nikmat. Namun kalau dipahami lebih jauh tidak seperti itu, dua sifat itu berjalan beriringan, alias paralel. Dalam artian seseorang yang sedang mendapat musibah, dia memang harus bersabar akan musibah itu, sebagai ujian bagi keimanannya, kalau ia memang seorang yang beriman. Namun pada saat yang bersamaan, dia juga harus bersyukur dengan cara melihat ke bawah, kepada orang-orang yang musibahnya lebih dari yang ia terima. Begitu juga ketika mendapat nikmat, dia juga harus bersyukur, namun ia juga harus bersabar bila ia menginginkan mendapat nikmat yang lebih dari yang ia terima sekarang. Karena Allah sendiri menjanjikan akan menambah nikmat orang-orang bersyukur pada-Nya.
Semisal seseorang yang mendapat musibah berupa tidak lulus ujian SPMB untuk masuk PTN negeri, padahal dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk lulus ujian tersebut, dia memang harus bersabar akan ujian tersebut, namun pada saat yang sama dia harus bersyukur bahwa dia masih diberi kesempatan untuk bisa melanjutkan pendidikan hingga setinggi ini, atau setidaknya dia masih diberi kemampuan untuk kuliah lagi meski bukan di PTN. Itu bila dia mau melihat ke bawah bahwa banyak teman-teman sebayanya yang tidak bisa melanjutkan kuliah karena faktor biaya, atau lulus PTN tetapi tidak bis adaftar ulang karena biaya kuliahnya sama selangitnya akhirnya gak melanjutkan. Demikian juga orang yang ingin mendapat nikmat yang lebih besar, selain dia harus bersyukur, dia juga harus bersabar agar kenginananya untuk mendapat sesuatu yang lebih dikabulkan oleh-Nya. Wallahu’alam.