Saya termasuk orang yang percaya bahwa seorang anak itu akan bisa kita didik sejak dalam kandungan. Dalam arti apa yang kita lakukan selama calon anak kita masih dalam kandungan, akan memberi tarbiyah secara langsung atau tidak langsung pada diri mereka. Tingkah laku kedua orang tuanya dapat memberi contoh bagi anaknya bagaimana ia berlaku kelak. Jadi apabila orang tua ingin anaknya menjadi seorang yang shalih, maka orang tua setidaknya harus belajar menjadi seorang yang shalih pula selama masa kandungan. Karena selama dalam kandungan, sang anak akan merasakan secara langsung apa saja yang dilakukan kedua orang tuanya. dan meski ia hanya di dalam kandungan ibunya, namun karena sang bapak juga turut andil dalam “pembentukan” sang anak, maka sang anak akan merasakan apa yang dilakukan bapaknya pula. Atau bila orang tuanya ingin anaknya menjadi seorang hafidz, maka selama dalam kandungan kedua ortunya harusnya juga mulai membiasakan untuk menjadi seorang penghafal. Saya bukanlah orang yang sudah punya anak banyak, lha wong sekarang yang di kandungan istri saya baru anak saya yang pertama insya Allah, namun saya yakin bahwa apa yang kita lakukan akan menjadi pendidikan awal bagi anak kita kelak. Jadi tidak perlu menunggu sang anak lahir untuk mendidik mereka. Kita bisa mentarbiyah mereka mulai saat ini, mulai istri kita dinyatakan positif insya Allah. Ada yang punya pengalaman? Bisa di-share dong.
Entries from May 2007
Setahun Bersama
May 23, 2007 · 1 Comment
Alhamdulillah, tepat hari ahad tanggal 20 Mei kemarin, adalah setahun pernikahan kami. Waktu yang cukup pendek untuk sebuah usia pernikahan. Kalau biasanya orang memisalkannya layaknya bayi. Masih baru belajar berjalan, mungkin tertatih-tatih. Sesekali kadang terjatuh, namun harus bangkit lagi agar ia nanti dapat berdiri tegak, berjalan dengan tegap, bahkan berlari kesana kemari. Waktu yang mungkin masih belum cukup untuk dapat mengenal dengan sedalam-dalamnya, satu sama lain. Mengingat proses pernikahan yang kami lalui bukanlah melalui proses pacaran sebagaimana orang lain melakukannya sebelum mereka memutuskan untuk menentukan siapakah pasangan hidupnya. Saya bahkan baru bisa menatap dari depan secara langsung bagaimana wajah istri saya waktu hari-H pernikahan kami, setelah ijab qabul di Masjid AL-Falah mensahkan kami menjadi sepasang suami istri. Sebelumnya saya hanya mengetahui dari foto yang diberikan kepada saya, kalaupun bertemu, itu pun di rumah (calon) istri saya waktu itu dalam rangka persiapan pernikahan, itupun tidak pernah saling menatap. Bagi orang-orang di sekitar kami yang mengenal kami berdua, bisa jadi akan menyangka kami sudah saling mengenal satu sama lain. Asumsi mereka mungkin mengingat track record kami berdua yang hampir sama di organisasi yang sama. Baik di LDK kampus, maupun di lingkungan dakwah sekolah. Kami memang berasal dari SMU dan kuliah di kampus yang sama juga, hanya beda jurusan dan angkatan. Tapi memang inilah Allah yang mengatur, meski berada di organisasi yang sama, ternyata kami bisa dikatakan tidak pernah berada dalam satu amanah atau satu tim dalam bekerja. Angkatan yang berbeda pun menjadikan kami jarang berada dalam satu amanah, jadilah kami memang gak terlalu mengenal sebelumnya. Melalui proses yang cukup singkat, dan yang lebih penting lagi bahwa takdir Allah sedang berjalan, jadilah kami menikah pada tanggal 20 Mei 2006 di Masjid Al-Falah Surabaya. So, tidak terlalu sulit untuk mengingat hari pernikahan kami, karena bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional
.
Perjalanan dalam kehidupan pernikahan, membuktikan apa yang selama ini kita dengar, bahwa pernikahan bisa membawa kita pada berbagai kebaikan. Selama setahun ini ALlah begitu banyak memberikan nikmatnya dalam keluarga saya. Keberkahan dalam menikah ternyata terbukti adanya, dan saya bisa merasakannya. Begitu banyak yang saya dapatkan setelah menikah yang tidak saya sangka sebelumnya, baik baerupa materi maupun immateri. Padahal kalau dohitung2 secara kalkulasi manual, harusnya apa yang saya dapatkan lebih sedikit dari sebelumnya. Tapi ternyata lain adanya, dan insya Allah saya bisa merasakannya.
Dan setelah tepat stahun pernikahan kami, Dia semakin menambahkan nikmat-Nya kepada kami. Sekitar 2 minggu yang lalu, alhamdulillah setelah cukup lama menanti, akhirnya Allah memberikan kepercayaan kepada kami berupa seorang generasi penerus. Ya, sekitar 2 minggu yang lalu alhamdulillah istri saya dinyatakan positif, dan hari sabtu kemaren ketika kami kontrol ke dokter, calon jundi kami sudah menunjukkan dirinya, meski masih seukuran 3 mm. Luapan kebahagiaan kami panjatkan kehadira-Mu yaa Rabb atas segala limpahan rizki yang kau berikan. Berkahilah apa-apa yang Kau berikan pada kami, agar dengannya, kamis emakin dekat pada-Mu. Dan ternyata tidak cukup itu saja, insya Allah kami saat ini sedang dalam proses untuk membeli (baca : kredit) sebuah rumah, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kontrakan kami yang sekarang. Saat tulisan ini dibuat bank syariah tempat kami mengajukan kredit sedang memproses berkas kami. Semoga Allah memberi kemudahan.
“Fabi ayyi aalaa irobbikuma tukadzzibaan”
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Categories: my family