Pertanyaan itu seketika melintas di kepala saya, saat menatap bahwa 2 hari lagi Ramadhan kan tiba. Rasanya belum sadar sesadar-sadarnya bahwa ia akan datang. Pengalaman bahwa biasanya ibadah kita meningkat saat Ramadhan terbayang di depan mata. Namun terjun bebas lagi setelah Ramadhan selesai. Persis seperti televisi yang berlomba-lomba menampakkan diri sebagai televisi paling religius dengan menayangkan tanyangan-tayangan berbau islam, namun kembali ke wujud sangarnya takkala Ramadhan selesai. Coba perhatikan televisi kita, pasti berubah drastis. Kuliah subuh yang biasanya menjadi pelengkap saja, kini seakan jadi tanyanga utama. Mulai dari sahur orang sudah disuguhi berbagai tayangan. Sinetron pun berbau Ramadhan. Iklan dll berbau selamat berpuasa. Namun karena semangatnya adalah kapitalisme, jadilah itu sekedar alat mencari keuntungan, mengeruk iklan. Para presenternya ataupun bintang filmya berusaha berpakaian serapi mungkin, semenutup mungkin. Mereka semua berlomba menjadi yang tampak paling alim. Namun karena itu sebuah tren, dan dimana-mana yang namanya tren akan hilang dengan cepat bila trennya telah selesai, begitu juga wajah televisi. Kembali mengumbar syahwat.
Itulah wajah pertelevisian kita saat Ramadhan, musiman. Pertanyaannya sekarang, akankah kita senasib dengan televisi? Akankah keislaman kita musiman juga saat Ramadhan? Akankah ibadah kita juga meningkat saat Ramadhan saja? Akankah tutur kata dan mata kita terjaga hanya saat Ramadhan, dan menjadi liar sesudahnya? Apakah kita hanya menjadi “malaikat” saat Ramadhan dan kembali menjadi “iblis” saat Ramadhan pergi? Akankah kita seperti anak SD yang hanya terlihat khusyu shalat saat ia melihat gurunya di masjid, dan bercanda dengan teman-temannya saat gurunya telah pergi? Sebegitukah nasib Ramadhan kita esok? Sebuah pertanyaan besar yang saya belum sanggup menjawabnya saat ini.
Saudaraku, selamat menyambut Ramadhan. Mari kita kuatkan azzam, agar Ramadhan kita benar-benar merubah kita. Buktikan bahwa mental Ramadhan kita tidak sekelas mental Ramdhan televisi, nggak semelempem itu. Ahlan wa shalan yaa Ramadhan. Mohon maaf buat para sobat semua.
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
You must be logged in to post a comment.