Entries categorized as ‘my dien’
Ramadhan kita, akankah seperti Ramadhannya televisi?
September 11, 2007 · Leave a Comment
Pertanyaan itu seketika melintas di kepala saya, saat menatap bahwa 2 hari lagi Ramadhan kan tiba. Rasanya belum sadar sesadar-sadarnya bahwa ia akan datang. Pengalaman bahwa biasanya ibadah kita meningkat saat Ramadhan terbayang di depan mata. Namun terjun bebas lagi setelah Ramadhan selesai. Persis seperti televisi yang berlomba-lomba menampakkan diri sebagai televisi paling religius dengan menayangkan tanyangan-tayangan berbau islam, namun kembali ke wujud sangarnya takkala Ramadhan selesai. Coba perhatikan televisi kita, pasti berubah drastis. Kuliah subuh yang biasanya menjadi pelengkap saja, kini seakan jadi tanyanga utama. Mulai dari sahur orang sudah disuguhi berbagai tayangan. Sinetron pun berbau Ramadhan. Iklan dll berbau selamat berpuasa. Namun karena semangatnya adalah kapitalisme, jadilah itu sekedar alat mencari keuntungan, mengeruk iklan. Para presenternya ataupun bintang filmya berusaha berpakaian serapi mungkin, semenutup mungkin. Mereka semua berlomba menjadi yang tampak paling alim. Namun karena itu sebuah tren, dan dimana-mana yang namanya tren akan hilang dengan cepat bila trennya telah selesai, begitu juga wajah televisi. Kembali mengumbar syahwat.
Itulah wajah pertelevisian kita saat Ramadhan, musiman. Pertanyaannya sekarang, akankah kita senasib dengan televisi? Akankah keislaman kita musiman juga saat Ramadhan? Akankah ibadah kita juga meningkat saat Ramadhan saja? Akankah tutur kata dan mata kita terjaga hanya saat Ramadhan, dan menjadi liar sesudahnya? Apakah kita hanya menjadi “malaikat” saat Ramadhan dan kembali menjadi “iblis” saat Ramadhan pergi? Akankah kita seperti anak SD yang hanya terlihat khusyu shalat saat ia melihat gurunya di masjid, dan bercanda dengan teman-temannya saat gurunya telah pergi? Sebegitukah nasib Ramadhan kita esok? Sebuah pertanyaan besar yang saya belum sanggup menjawabnya saat ini.
Saudaraku, selamat menyambut Ramadhan. Mari kita kuatkan azzam, agar Ramadhan kita benar-benar merubah kita. Buktikan bahwa mental Ramadhan kita tidak sekelas mental Ramdhan televisi, nggak semelempem itu. Ahlan wa shalan yaa Ramadhan. Mohon maaf buat para sobat semua.
Categories: my dien
Tips Sukses Ramadhan
September 10, 2007 · Leave a Comment
1. Bertaqwalah kepada Allah dimanapun berada.
2. Jauhilah dosa sekecil mungkin.
3. Jagalah pandangan dari hal yang tidak seharusnya.
4. Khusyu’lah dalam shalat.
5. Berdoalah pada Allah dengan penuh keyakinan dan kesungguhan, jangan bermain-main.
6. Bermujahadah untuk mengkhatamkan Qur’an minimal 1 kali.
7. Menjaga lidah, terutama dari ghibah.
8. Menambah amalan saat malam-malam Ramadhan.
9. Menjaga makanan dari makanan yang syubhat/dilarang.
10. Membantu sesama apa yang bisa dilakukan.
Categories: my dien
Nasehatmu adalah Hak Saudaramu
July 26, 2007 · Leave a Comment
Dalam suatu kesempatan taklim, seorang peserta bertanya kepada sang pembicara, “Ustadz, bagaimana menyikapi permasalahan yang dialami oleh seorang ikhwah, semisal terkena fitnah, apakah kita harus segera melaporkannya kepada struktur yang terkait bilamana hal itu terkait nama baik jamaah?”. Sang ustadz yang memiliki pengalaman dakwah dan pemahaman Islam yang mumpuni kemudian memberikan penjelasan terkait dengan hak-hak berukhuwah, terutama menyikapi kasus tadi. Beliau kemudian menjelaskan bahwasanya salah satu hak saudara kita apabila melakukan suatu kesalahan bukanlah langsung memvonisnya, apalagi sekedar jadi bahan pembicaraan yang menjurus ke “ghibah”, tetapi harusnya kita menyampaikan haknya yakni berupa NASIHAT. Ya, nasihat. Karena seringkali kita melupakannya dan cenderung “menghukum” saudara kita itu. Beberapa hari yang lalu istri bercerita tentang salah seorang temannya yang menurutnya ada yang salah dalam dirinya, tapi beliau mengalami dilema, apakah membiarkannya sementara bisa jadi masalah itu akan terus berlarut-larut, atau mencari solusi namun khawatir memperluas wilayah permasalahan. Kemudian saya katakan kepadanya bahwa hak saudara kita yang melakukan sesuatu yang bukan haknya (ada pelanggaran atau apapun istilahnya), maka sudah menjadi haknya untuk diingatkan, diberikan nasihat, bukannya malah dibiarkan karena itu bukan penyelesaian.
Saudaraku, sudah selayaknyalah kita membuktikan cinta kita kepada saudara kita, salah satunya dengan memberikan haknya berupa nasihat itu. Agar kita tidak menjadi orang yang malah menjadikan perbuatan seseorang (baik ataupun buruk) sebagai bahan pembicaraan yang mengarah kepada ghibah, padahal ghibah itu layaknya memakan daging bangkai saudaranya sendiri.
Categories: my dien
Pembelajaran Tauhid ala Aa
December 22, 2006 · 2 Comments
Pembelajaran tauhid tampaknya ingin diberikan Aa Gym kepada para jamaahnya terutama, dan kita pada umumnya, seiring dengan pernikahan beliau untuk kali kedua serta berbagai reaksi yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Saya tidak ingin memperpanjang lebar sehingga menjadi luas kejadian ini, tetapi saya ingin mencoba mengambil hikmah dari kejadian ini. Tadi pagi saya menerima kiriman dari seorang teman terkait dengan penjelasan detail Aa Gym dalm hal ini. Ada beberapa point penting yang bisa kita ambil ibrohnya.Secara umum, saya melihat bahwa Aa Gym ingin memberikan sebuah pembelajaran tauhid, bahwasanya :
1. Kita harus menerima keseluruhan dari syariah Islam yang kita yakini ini, jangan sampai kita menjadi kaum yang hanya menerima apa-apa yang kita suka, sementara menentang sesuatu yang jelas hukumnya namun karena tidak sesuai dengan keinginan kita lantas kita kemudian menentangnya. Dalam hal ini Aa gym bisa jadi sedang menguji para jamaah (atau fansnya) yang terutama dari kalangan ibu2/wanita yang selama ini senantiasa seakan komitmen dengan nilai keislaman, untuk kemudian diuji dengan sesuatu yang amat sangat sulit mereka terima. Padahal selama ini mereka diberikan tausiyah agar komit dengan nilai keislaman secara syamil, menyeluruh, tanpa memilih. Dan ternyata memang banyak yang shock. Sebagian diantara mereka ada yang bisa menerimanya karena memang mengerti, namun ada juga yang belum bisa menerimanya. Dan inilah pe-er bagi Aa Gym pada para jamaahnya untuk mengajarkan lebih lagi makna “undkhulu fissilmi kaaffah”. Dan Aa Gym nampaknya ingin mengambil suatu titik ekstrim yang memang risikonya sangat berat.
2. Peristiwa tersebut juga memberikan gambaran bagi Aa Gym, bagimana kondisi jamaahnya (ato fansnya) yang sebenarnya. Apakah mereka selama ini mengikuti Aa Gym karena Aa Gym-nya atau karena apa yang disampaikannya. Apakah selama ini mereka menjadikan Aa Gym sebagai selebritis, idola, public figure yang jadi panutan dengan segala keshalihan, kekayaan, kesakinahan keluarganya, ataukan mereka mengikuti kajian-kajiannya karena apa yang disampaikan Aa Gym suatu kebenaran. Aa Gym ingin memberikan pembelajaran dari apa yang (kalau gak salah) disampaikan oleh shahabat Ali r.a : “undzur ma qalaa wala tandzur man qalaa”, lihatlah apa yang dikatkan, bukan siapa yang mengatakan. Sebab saya pribadi kadang menilai bahwa apa yang dilakukan Aa Gym menjadikan orang melihat siapa dia, bukan apa yang disampaikan yakni Al-Islam itu sendiri. Apakah para jamaah itu masih tetap komit dengan tarbiyah yang diberikan Aa Gym selama ini ketika Aa Gym tiada, masihkan mereka istiqomah dengan jalan Islam ini. Sehingga tidak terjadi kultus individu baru di tengah masyarakat nantinya. Saya masih ingat komentar salah seorang perempuan yang katanya media tokoh, “Aa Gym ternyata manusia biasa juga”. Karena dalam doktrin pikirannya ia hanyalah belihat bahwa laki-laki yang neristri lebih dari 1 adalah manusia yang hanya punya syahwat, tanpa nurani. Namun justru dengan tindakan yang memiliki risiko sangat tinggi inilah, dimana Aa Gym mempertaruhkan segala popularitas, saya melihat kelebihan yang dimiliki Aa Gym, yang dengan peristiwa ini beliau telah membuat dakwahnya pada jalur yang benar, yang mungkin bisa jadi sebelumnya sedikit mengalami distorsi.Jazakallah buat Aa Gym. Saya hanya bisa mendoakan semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan bagi orang-orang yang berjuang di jalan-Nya. Baarakallahu laka wabaraka ‘alaika wajama’abainakuma fii khairin.
Categories: my dien
Dia yang Paling Mencintaiku
December 12, 2006 · 1 Comment
Siapakah yang paling mencintai saya di dunia ini? Istri saya kah? Oh, tentu saja istri saya sangat mencintai saya, dan itu mungkin gak perlu diragukan lagi. She has brighten my day (I luv u sweety ^-^). Tapi, ia bukanlah yang paling mencintai saya. Orang tua saya? Jawabannya kurang lebih sama. Merekalah yang paling berjasa membesarkan saya, mencurahkan segala kasih sayangnya kepada saya hingga kini. Tapi mereka juga bukanlah yang paling mencintai saya. Lalu siapakah?Beberapa hari belakangan, kondisi ruhiyah memburuk, drop. Amaliyah keseharian yang biasanya sedikit tambah semakin menurun. Shalat shubuh jadi terlambat. Namun ternyata Dia menegur saya dengan indahnya. Tidak dengan cobaan ataupun peringatan, tapi dengan tausiyah dari para asatidz melalui lisan dan tulisannya. Minggu yang lalu ketika mengikuti tatsqif rutin, Dia memberikan jawaban atas kondisi yang saya alami. Saya yang datang terlambat ternyata pada saat itu sedang dibahas pas dengan kondisi saya. Dimana salah satu sebab menurunnya amal ibadah kita adalah dosa yang kita perbuat. Baik dosa yang kecil, atau kita anggap kecil, apalagi dosa yang besar. Dosa-dosa itu merintangi kita untuk lebih dekat pada-Nya, merasakan kenikmatan berkhalwat dengan-Nya. Tak berhenti di situ. Di saat shubuh saya terlambat, ternyata Ia memberi jawaban secara langsung juga. Ketika kemarin saya dan istri jalan-jalan ke Indonesia Book Fair dan menemukan stand Tarbawi, ternyata edisi terbaru majalah itu membahas topik utama tentang Shalat Shubuh yang terlambat. Duh, kena telak 2 “pukulan”. Malu diri ini, yang kurang bersyukur, jauh dari sabar, ibadah lemah, sering khilaf, dan banyak dosa ini ternyata Ia yang paling mencintaiku masih memberikan perlakuan yang luar biasa. Ibarat Ia memberi madu seluas samudra, namun ternyata aku malah memberi nila. Ia masih menyayangiku meski aku sering lupa pada-Nya, meski aku sering menomorsekiankan Dia.
Ia-lah yang paling mencintaiku. Ia Rabbku, Tuhanku, Tuhanmu. Allah Subhanahu Wata’ala.
