achdaf weblog

Entries categorized as ‘my life’

Passive Income Kebaikan

March 5, 2008 · Leave a Comment

Ketika awal tahun 2001-an, saya sempat diprospek oleh teman SMU saya, yang mencoba menawarkan produk bisnisnya yang akhiranya saya mengenalnya sebagai MLM alias Multi Level Marketing. Waktu itu dengan segala macam argumentasi dia menceritakan bahwa dengan MLM yang ia ikuti, kita akan bisa meraih apa yang dinamakan passive income, dimana suatu saat (mungkin) kita tidak perlu mencari uang, tetapi uanglah yang akan datang dengan sendirinya. Digambarkan bahwa kita tinggal berleha-leha dan uang akan mengalir ke rekening kita sekian juta setiap bulan, bahkan setiap hari. Tawaran yang sanagt menarik saat itu, apalagi modalnya yang terbilang “cukup kecil”. Tapi mungkin karena waktu itu saya tidak punya uang yang cukup, akhirnya jadi alasan bagi saya untuk tidak mengikutinya, walaupun pada akhirnya saya menemukan alasan yang lebih rasional untuk tidak pernah terlibat di dalamnya.

Kembali ke passive income. Digambarkan bahwa passive income adalah saat dimana kita tidak perlu mencari uang lagi, alias kita tak perlu bekerja untuk mencari uang, dan uang akan mengalir begitu saja. Sehingga kalaupun kita tidur dalam sebulan terus menerus, rekening kita tak pernah kosong alias terisi terus. Begitulah gambaran sekilasnya. Saya menggunakan istilah yang lain tentang passive income ini, yakni passive income kebaikan. Kalau tadi income atau pendapatan yang dimaksud di sini adalah pendapatan berupa materi atau uang, maka passive income kebaikan, pendapatan kita adalah berupa pahala yang terus menerus mengalir ke rekening kebaikan kita, tanpa kita melakukannya, mengalir saat kita tidur pun, dan yang lebih penting lagi, ia kan mengalir tak hanya saat kita hidup di dunia ini, namun juga saat kita sudah mati, itulah passive income kebaikan.

Dalam dien yang mulia ini, ada 3 macam passive income kebaikan, yakni shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak shalih yang mendoakannya. Rasuslullah pernah menyampaikan dalam salah satu sabdanya. Sungguh indah, kita tak perlu khawatir setelah kita mati nanti, karena kebaikan kita akan mengalir terus, meski liang kubur telah menutup kesempatan kita untuk beramal secara langsung di dunia, karena kita telah memiliki passive income tersebut. Ketiga macam amal tersebut, bila telah kita benar-benar berusaha untuk menunaikannya, insya Allah akan mengisi pundi-pundi amal kita tak hanya di dunia, namun juga saat gerbang kematian tak memisahkan kita untuk berkesempatan beramal di dunia ini. Maka kini saatnya bagi kita untuk mempersiapkan diri meraih “kebebasan finansial” yang sebenarnya, mendapat passive income kebaikan, dengan 3 amal tadi.

Categories: my life

Investasi Akhirat

February 27, 2008 · 1 Comment

Ahad kemarin, untuk kesekian kalinya, saya berkesempatan berkunjung ke Islamic Center Iqro di daerah Pondok Gede. Saat itu saya berniat mengantar istri, yang sambil menggendong putri saya yang masih 1,5 bulan, yang akan mengikuti kuliah tafsir sebagai bagian dari program tahsin yang diikutinya 2 kali seminggu. Niatan awalnya hanya mengantar, karena acara itu memang untuk ibu-ibu. Tapi alhamdulillah, panitia rupanya cukup pengertian, dengan menyediakan tempat bagi bapak-bapak yang mengantar istrinya untuk ikut mengikuti acara tersebut.

Sambil memperhatikan sekeliling kompleks, saya teringat akan mendiang seorang ustad yang sangat sederhana dan bersahaja, yang menjadi pendiri lembaga ini, ustad Rahmat Abdullah. Ustad yang sempat dijuluki syaikhut tarbiyah oleh sejumlah kalangan. Seorang ulama yang menurut saya meninggal dalam usia yang tidak terlalu tua, namun karya beliau masih terasa hingga kini. Ulama yang mungkin tak banyak meninggalkan warisan dunia bagi anak-anaknya, apakah itu berupa deposito, asuransi pendidikan, reksadan, tanah, rumah atau yang lainnya. Ia meninggalkan sebuah tempat bagi para murid-murid dan orang-orang di sekitarnya untuk mentarbiyah diri mereka, beliau tak banyak berinvestasi di dunia, tapi investasi akhiratlah yang banyak beliau tinggalkan, sesuatu yang akan menemaninya terus di akhirat kelak, yang pahalanya tak putus meski Allah tlah memanggilnya.

Hari ahad sore
nya, saya mendapat kabar dari kakak di Surabaya, kalau pakde saya (mas dari ibu saya) meninggal dunia, setelah beberapa hari dirawat di RS. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menerima amalannya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Teringat kembali akan kematian yang sering saya terlupa, sibuk dengan urusan dunia. Mengejar ini itu, sambil sesekali teringat akan mati, namun tak membekas di hati. Teringat kembali bahwa segala harta yang kita miliki akan kita tinggalkan, tanpa sedikitpun kita bawa. Yang menemani kita hanya amalan, dan investasi kita untuk akhirat, bukan investasi di dunia kita. Apa yang akan saya bawa kalo besok Allah memanggil saya? Investasi apa yang akan saya bawa sebagai bekal untuk menghadapnya? Saya yang kadang sayang akan harta yang seharusnya saya keluarkan berupa zakat, padahal itu adalah kewajiban, lalu apa yang akan saya bawa nanti? Kalau ustad Rahmat wafatl telah meninggalkan Iqro sebagai investasi akhiratnya, lalu apa yang akan saya bawa nanti? Kalau pekerjaan sering membuat kita menunda waktu shalat, atau dengan alasan yang kita buat-buat sendiri sehingga mengurangi zakat yang seharusnya kita keluarkan, apa yang akan kita bawa kelak?

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya): Jika telah meninggal seorang manusia, maka terputuslah semua amalnya. Kecuali tiga perkara, yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak shalih yang mendoakannya. (HR Muslim)

Categories: my life

Bisakah kita hidup dengan apa yang kita butuhkan, meski kita mampu lebih dari itu?

December 15, 2007 · Leave a Comment

Pertanyaan yang menggelitik bagi saya. Mengingat kalau dilihat, seringkali kita merasa bahwa kita tidak membutuhkan sesuatu katakanlah X, namun karena ada keinginan, jadilah kita membelinya, atau kalau kita tidak merasa membutuhkannya, akhirnya dengan segala alasan kepada diri kita sendiri, akhirnya sesuastu itu jadi “kebutuhan” kita, secara kita juga memiliki kemampuan untuk memiliknya. Berbeda halnya kalau kemampuan kita terbatas :) . Atau katakanlah kita sebenarnya hanya cukup untuk membeli barang dengan nilai C, namun karena keinginan dan karena kita merasa mampu memiliki barang kelas A (padahal mungkin nanti jadi ga optimal fungsinya), jadilah kita membelinya. Seperti halnya anak-anak SD jaman sekarang yang sudah pada pegang HP yang harganya sama dengan gaji UMR 5 bulan seorang buruh.

Tanpa kita sadari, setan telah menyerang kita, membunuh kita secara perlahan. Mengikis sensitifisme kita akan lingkungan sekitar kita. Tanpa sadar, karena hati kita telah tergerus oleh dunia yang Allah telah anugerahkan lebih kepada kita, jadilah hati kita mati tanpa kita sadari, atau kotor tanpa kita nyana. Tanpa sadar, kesyukuran kita baru sebatas ucapan “Alhamdulillah” sampai batas tenggorokan kita, tanpa bisa merasuk hati kita. Tanpa bisa membuat kita agar lebih dekat kepada-Nya. Hingga suatu saat, kita berada di batas jurang kekufuran tanpa kita sadari, padahal selama ini kita merasa telah bersyukur kepada-Nya. Namun amal kita ternyata kosong tanpa ruh, tanpa nyawa,

Categories: my life

Tentang Syukur (lagi)

December 15, 2007 · Leave a Comment

Apa yang ada, jarang disyukuri
Apa yang tiada sering dirisaukan

Petikan nasyid yang dulu sering saya dengar, saat awal-awal saya mengenal nasyid. Waktu itu dibawakan oleh The Zikr. Sampai saat inipun syair itu senantiasa sering saya ingat, kala saya merasa ada yang kurang dengan apa yang sudah saya punyai. “Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri”, pepatah itu rasanya juga bisa mewakili bahasa lain syair di atas. Kita sering merasa pekerjaan, lingkungan, kendaraan, rumah, atau apalah yang sudah kita miliki rasanya lebih jelek dibandingkan apa yang dimiliki oleh teman, tetangga atau saudara kita. Padahal banyak diantara saudara kita yang belum mendapatkan apa yang kita sudah miliki. Tabiat manusia memang seperti itu. Dan syukur memang bukan pekerjaan mudah. Syukur bisa dikatakan setara dengan keimanan, bahkan ada yang mengatakan lebih tinggi. Karena atas dasar keimananlah, Rasulullah bisa menjadi hamba yang paling bersyukur. dan apabila kita telah mampu bersukur, maka kita harus bersyukur atas kesyukuran kita itu.

Categories: my life

Kaya dan Sukses

September 23, 2007 · Leave a Comment

Kaya manakala kita bisa MENIKMATI setiap episode kehidupan kita
Miskin adalah manakala kita merasa TERBEBANI saat menjalani episode kehidupan kita

Sukses adalah bila kita MAU mengusahakan dan memberi yang terbaik pada setiap peran kehidupan kita
Kegagalan adalah bila kita TAK PERNAH MAU berikhtiar untuk memberi yang terbaik bagi peran hidup kita

Categories: my life

Berbenah

September 18, 2007 · Leave a Comment

saatnya berbenah
bukan berarti sebelumnya antah berantah
tapi seharusnya orientasi itu harus menemukan jalannya kembali, agar senantiasa terarah
kehidupan memang kadang misteri yang kadang tidak tahu akan kemana
berangan menginginkan keinginan searah dengan kenyataan
namun seringkali berbeda dengan kenyataan
kadang kerasa lebih baik, kadang kerasa berbeda 180 derajat
namun kanyataan haruslah dihadapi, bukan dihindari
nikmati masakan yang ada di hadapan kita
dan jangan dicela kalau kita tak suka
syukur harusnya terpanjat, karena DIA masih memberi kita makan

hidup memang harus punya orientasi yang jelas
akan kemana biduk ini diarahkan
bersyukur, sabar, dan tak pernah putus asa
dibungkus dengan ikhlas di hati
ah, rasanya hal ini mudah di kata, berat di laku, berat di hati
kejujuran hati apakah kita telah bersyukur sulit menemukan jalannya
apakah kita telah bersyukur yang sebenarnya
atau hanya hiburan dari dan untuk diri kita
bahwa kita sudah berbuat baik pada diri kita
bahwa kita sudah sesuai dengan arahan-Nya
namun ternyata nafsu masih membayang di dada
ia masih belum ikhlas seikhlasnya
keikhlasan itu harus benar-benar diikhlaskan nyatanya

berbenah kembali
agar hidup ini menemukan jalannya kembali
yang kadang berkabut
yang kadang kita telah berbelok di suatu persimpangan lain tanpa disadari

“dengan bismillah kita melangkah …”

Categories: my life

aku …

September 12, 2007 · Leave a Comment

aku adalah aku
bukan dia, mereka, atau ia

aku adalah aku
seorang anak manusia
dilahirkan dari manusia pula

aku adalah anak dari kedua orang tuaku
maka aku bercita-cita menjadi anak yang shalih bagi mereka

aku adalah seorang suami dari istriku
maka aku harus menjadi qawwam baginya

aku adalah ayah dari anakku kelak
maka aku harus membimbing anakku

aku adalah saudara dari saudara-saudaraku
maka aku harus bisa membuktikan bahwa aku saudaranya

aku adalah bagian dari masyarakat, bangsa, dan negaraku
maka aku harus bisa bermanfaat padanya

dan aku adalah seorang hamba dari TUHAN-ku
maka aku harus mengabdi hanya dan hanya untuk-Nya

aku hanyalah seorang manusia
apalah artiku
saat ku tak bisa berarti apa-apa bagi orang sekitarku

aku punya cita dan asa
tapi aku juga punya keterbatasan

aku punya nyawa dan raga
tapi ia juga bukan milikku
semua hanyalah titipan-Nya
suatu saat kukembalikan pada Sang Pemilik
dan IA akan bertanya
“apa yang telah kau lakukan dengan titipan-KU?”

— refleksi 27 tahun kehidupanku —

Categories: my life

Tak Kala Jarak Memisahkan

August 16, 2007 · Leave a Comment

Menikahi bidadari? Pada umumnya bayangan akan bidadari adalah seseok makhluk ciptaan Allah yang akan diberikan kepada penghuni surga, yang memiliki kecantikan yang luar biasa, yang tak mampu disaingi oleh seorangpun di dunia ini. Tak hanya cantik secara fisik, tapi juga bagus akhlaknya. Dan shalihah pula. Segala aspek yang diingini dari seorang wanita ada pada namanya bidadari. Namun apakah kita harus menunggu masuk surga untuk mendapatkan seorang bidadari? Ternyata tidak, kita pun bisa mendapatkan sorang bidadari di dunia ini, bahkan tidak sekedar bidadari, melebihi bidadari. Ia adalah bidadari dunia.

Semakin lama saya semakin menyadari bahwa bahwa Allah telah menganugerahkan saya bukan saja seorang istri, tapi seorang bidadari. Yang cantik fisiknya, bagus akhlaknya, shalihah pula. Yang setia mendampingi saya kemanapun saya berada. Selama menikah, sejak selepas walimah, tak pernah rasanya saya jauh darinya. Kalaupub saya berpisah selama ini tak lebih dari semalam biasanya.

Namun kini karena ada tuntutan tugas, saya harus jauh darinya. Berpisah dalam jarak dan waktu yang cukup lama. Hanya foto dan suaranya saja kini saya bisa melepas kerinduan padanya.

Categories: my life

Saat Kerinduan Itu Membuncah

August 4, 2007 · Leave a Comment

Kalau saya hitung, sudah 5 bulan saya tidak pulang kampung, terakhir saya dan istri pulang kampung bulan februari yang lalu. Alhamdulillah, akhirnya kesampean juga saya pulang tanggal 21-22 juli kemaren. Memang terasa sangat singkat, hanya semalam. Tapi setidaknya cukup mengobati rasa rindu. Banyak agenda yang kami rencanakan kemaren, mulai sohib istri yang menikah, keperluan keluarga, menjenguk keponakan baru yang lahir mei yang lalu, dan yang lebih penting lagi menengok ortu, sekedar mencium kedua tangannya yang telah lama tak saya lakukan. Setelah menikah, memang cukup sulit bagi kami untuk bisa pulang dalam waktu yang cukup lama. Selain jam kerja saya yang kadang ga karuan, jadwal mengajar istri yang kadang ada hari sabtu agak menyulitkan kami untuk bisa leluasa memilih hari pulang.

Melihat-lihat keluarga saya, ortu, ataupun bagaiman cerianya keluarga mertua, timbul rasa keinginan untuk bisa berkumpul dengan mereka lagi. Berbagi tawa dan canda, memberi perhatian lebih kepada mereka, ortu saya khususnya. Umur yang tak lagi muda menjadikan mereka butuh perhatian lebih. Mengisi hari-hari libur dengan mereka tentu sangat menyenangkan. Maklum, karena jam kerja yang P4 (pergi pagi pulang petang) atau bahkan malam, manjadikan hari libur begitu berharga. Apalagi, hari sabtu biasanya saya masuk, otomatis hari minggu jadi satu-satunya waktu bagi kami untuk leluasa berkumpul. Lain lagi ceritanya kalau hari minggu ada kegiatan yang harus kami lakukan. Kalau di sini, liburan otomatis berdua saja, mengingat si kecil baru awal tahun depan lahir (mohon doanya ya). Jadinya kalau di rumah saja kadang bosen, akhirnya bikinlah acara jalan2, ke mana kek, yang penting keluar rumah gitu. Lain lagi ceritanya kali kalau ada keluarga yang lain, di rumah pun rasanya sudah cukup berbagi dengan mereka.

Kampung halaman memang kadang begitu merindukan. Ada suatu harapan suatu saat bisa kembali berkumpul bersama. Hidup memang adalah pilihan, mana yang ingin kita pilih. Kita tidak bisa terus memimpikan sesuatu yang kalau ternyata Ia belum memberikan kepada kita. Yang penting bagi kita sekarnag adalah menikmati dan mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan saat ini. Sembari tetap berusaha mencari yang terbaik bagi kita, dan bersabar kalau memang itu belum Ia berikan kepada kita.

Categories: my family · my life

Entering Rajab …

July 17, 2007 · Leave a Comment

“Allahumma baariklana fii Rajab wa Sya’ban wa ballighna fii Ramadhan”

Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukanlah kami di bulan Ramadhan

Semoga Ramadhan tmendatang lebih baik dari kemarin, ibadah lebih khusyu, tilawah lebih banyak, sadaqah lebih lancar, dan yang tak kalah penting bisa lebih sering berbuka di rumah ama istri dan calon jundi kami. Amien.

Categories: my life