Lebaran kali ini adalah untuk kali yang ketiga saya melakukannya di negeri seberang. Jangan ditanya gimana perasaan saya, sungguh berat. Apalagi kali ini harus meninggalkan istri dan calon anak saya. Tahun kemarin alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan kepada saya untuk bs full Ramadhan dan Lebaran di Indonesia, tapi kali ini Allah berkehendak lain, saya harus masih di sini. Rencana balik kampung pun gagal. Tiket yang sudah disiapkan jauh hari sebelumnya akhirnya tidak terpakai, meski akhirnya ada teman yang siap menggantikan. Sebenarnya dari manager di Indonesia saat keberangkatan begitu meyakinkan kalau kami akan pulang sekitar 3 hari sebelum lebaran, tapi apa dikata. Schedule begitu padat dan tidak mungkin ditinggal pada saat itu, ya akhirnya harus dijalani apa adanya.

Lebaran kali ini kami memutuskan untuk shalat ied di KBRI. Dua kali lebaran sebelumnya, pertama kami melakukannya di Masjid Seoul (2004), sementara tahun 2005 kami mengadakan shalat ied sendiri, mengingat ada beberapa rekan yang tidak diijinkan untuk libur, dan hanya mendapat ijin untuk datang terlambat. Nuansa berbeda kami dapatkan di KBRI kemarin, berasa di Indonesia. Ketika keluar dari stasiun dan dalam perjalanan kaki menuju KBRI, sayup-sayup terdengar suara takbir, dengan lantunan suara khas Indonesia. Dan ketika memasuki lapangan jamaahnya ternyata sudah banyak. Kebanyakan para jamaah adalah para TKI (termasuk saya kali ya
, hehehe …), dengan dandanan khas mereka. Shalat ied sndiri dimulai pukul 8.30 pagi, cukup siang memang, mengingat harus menunggu para jamaah yang berasal dari berbagai kota di sekitar Seoul. Saya sendiri dkk harus menempuh perjalanan dengan kereta sekitar 1 jam. Setelah Shalat ied, dilangsungkan khutbah dalam bahasa indonesia (berbeda dengan di masjid seoul dulu yang dilakukan dalam bahasa arab dan korea yang saya sama2 tidak mengerti
). Yang bikin saya kaget di sini adalah para jamaah yang setelah shalat ied sudah langsung pada bubar, berdiri dan berbincang satu sama lain. Pun khutbahnya juga dilakukan hanya sekali, dan bukan dua kali. Mengingat kondisi para jamaah yang sudah dikatakan bubar sebelum khutbah pertama selesai. Apa mau dikata, kalau harus dipaksakan khutbah kedua mungkin lebih kacau lagi. Dan acara yang ditunggu pun tiba, makan bersama
. Opor ayam telah disiapkan oleh pihak kedutaan. Meski harus berdesakan, akhirnya kami berlima dapat juga opor lebaran, made in korea (kasian banget ya…:).
Entries categorized as ‘my journey’
Lebaran Di Korea (lagi)
October 24, 2007 · 3 Comments
Categories: my journey
Antrilah di loket…
September 24, 2004 · 1 Comment
Canggung, kaget, sekaligus kagum! Itulah kesan pertama yang saya dapatkan kala memasuki hari-hari pertama di negeri gingseng ini, Korea Selatan. Bagaimana tidak. Wong setiap kali saya mau naik bis yang menjemput saya berangkat ke tempat kerja, harus cepat, karena siapa cepat, dia dapat. Atau harus agak berdesakan ketika akan masuk pintu KRL di stasiun bekasi, biar dapat tempat yang nyaman, dan yang penting aman, nah ini mau masuk KRL saja kita harus antri, itupun di tempat dimana pintu KRL pas akan terbuka di situ. Pas. Keheranan dan kekaguman saya gak berhenti di situ. Ketika naik bus pun, yang waktu itu sedang lagi turun hujan, kita pun harus masuk satu persatu, antri bo. Tidak peduli waktu itu hujan agak turun rintik-rintik, dan semua melakukannya dengan sabar. Semua melakukannya karena memang mereka sadar akan keteraturan itu. Luar biasa! Kok bisa ya?
Oh ya, hal yang menarik lainnya tentang keteraturan di sini, yakni pas ketika saya dan teman-teman akan menyeberang. Di sini, kalo lampu tanda boleh menyeberang belum menyala, jangan harap ada yang berani yang menyeberang, sekalipun waktu itu jalanan lagi sepi, dan tidak ada satu kendaraanpun yang lewat. Semua menunggu sampai lampu hijau menyala. Bagaimana di negeri saya? Anda semua tau sendiri gimana kondisi lalu lintasnya. Dan, setiap kali saya menemukan sesuatu yang bertolak belakang antara kondisi di sini dengan di tanah air, saya hanya bisa mengeluh, mungkin, sekaligus berharap, bermimpi, dan berdoa, agar suatu saat nantinya negeriku tidak seperti sekarang ini. Karena seburuk apapun negeriku, sebagus apapun negeri orang, hatiku tetap di tanah airku. Karena ini adalah amanah Allah.
“Kenyataan di hari ini adalah impian kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok. Insya Allah!”
Categories: my journey